Fanny Ghassani Cetak Prestasi Lewat Debut Executive Producer, Film Pendeknya Tembus Balinale 2026
Tribun-video June 06, 2026 09:58 AM
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baruTRIBUN-VIDEO.COM - Aktris Fanny Ghassani menandai babak baru dalam kariernya di industri perfilman. Tak lagi hanya berada di depan kamera, Fanny kini menjajal peran sebagai executive producer melalui film pendek berjudul At My Most Beautiful.Film tersebut berhasil tayang di gelaran Balinale 2026 dalam program Short Narrative.Film tersebut menjadi proyek perdana rumah produksi yang didirikan Fanny pada 2023, yakni Gassani Media Nusantara. "Jadi sebenarnya waktu itu kita coba bikin short movie dari PH yang baru aku buat di tahun 2023. Ini benar-benar first project teman-teman juga," beber Fanny Ghassani di Awarding Night Balinale 2025, The Meru Sanur, Bali, Jumat (5/6/2026)."Keterlibatan aku sebagai executive producer, kemudian Kelly sebagai sutradara, writer, dan produser juga. Jadi sama-sama first gitu," kata Fanny.Keputusan Fanny terjun ke balik layar berawal dari ketertarikannya pada cerita yang dibawa Kelly. Menurutnya, kisah yang mengangkat relasi ibu dan anak itu terasa dekat dengan pengalaman banyak perempuan, sehingga ia yakin film tersebut layak diwujudkan."Kelly coba approach cerita yang menurutku bagus untuk diangkat. Temanya juga resonate sama kita sebagai perempuan. Tentang kerapuhan, tentang ibu dan anak," ujarnya.Meski telah lama berkecimpung di dunia hiburan sebagai aktris dan presenter, Fanny mengaku baru menyadari kompleksitas produksi film setelah menjabat sebagai executive producer. Ia bahkan terkejut melihat besarnya tim yang terlibat dalam pembuatan sebuah film pendek."Aku selama ini cuma syuting sebagai talent. Enggak ngerti ternyata rumitnya ngurusin itu," ucap Fanny."Ternyata ngurusin seratus orang susah ya. Aku pikir krunya enggak bakal banyak, ternyata ramai banget," tuturnya.Film At My Most Beautiful sendiri mengangkat kisah hubungan seorang ibu dan anak perempuan yang dibayangi standar kecantikan tidak realistis. Cerita berpusat pada seorang anak yang berusaha memenuhi ekspektasi sang ibu, termasuk menghadapi komentar-komentar yang mengarah pada body shaming.Kelly menjelaskan bahwa film tersebut lahir dari keinginannya untuk membahas tekanan sosial terhadap perempuan, terutama soal tubuh dan citra diri yang sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya."Film ini menceritakan kisah ibu dan anak dari sudut pandang anak yang berusaha sebisa mungkin mencapai ekspektasi ibunya. Dia sudah terbiasa dengan bahasa kasih ibunya yang body shaming," tutur Kelly. "Kami ingin menunjukkan bagaimana ekspektasi itu ternyata tidak realistis dan bisa meninggalkan luka bagi seorang anak," jelasnya.Salah satu simbol yang digunakan dalam film adalah adegan memakan kapas, yang terinspirasi dari praktik diet ekstrem yang pernah menjadi tren di luar negeri. Menurut Kelly, simbol tersebut dipilih untuk menggambarkan rapuhnya kondisi psikologis seseorang yang terobsesi memenuhi standar kecantikan tertentu."Yang mau kami tunjukkan sebenarnya bukan soal makan kapasnya, tapi bagaimana orang bisa melakukan apa saja supaya kurus," ujarnya."Dan bagaimana seorang orang tua bisa memaksakan kehendaknya kepada anak. Itu yang ingin kami gambarkan," kata Kelly.Film berdurasi enam menit itu sebelumnya memiliki versi awal sepanjang 25 menit. Namun setelah melalui proses konsultasi dan penyuntingan panjang, Kelly memutuskan memangkas durasi film agar lebih efektif untuk kebutuhan festival.Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Fanny Ghassani Debut Jadi Executive Producer, Film Pendek Pertamanya Tembus Balinale 2026, https://www.tribunnews.com/seleb/7838683/fanny-ghassani-debut-jadi-executive-producer-film-pendek-pertamanya-tembus-balinale-2026?page=all&s=paging_new.Penulis: Bayu Indra PermanaEditor: Willem Jonata(Tribun-Video.com)Program: Tribunnews Update Editor: Nathanael Moer RahardianUploader:Reporter: Bayu Indra Permana
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.