TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kini tembus Rp 18 ribu.
Dampaknya, sejumlah komoditas impor ikut menyesuaikan.
Satu komoditas impor yang kerap ditemui di pasar-pasar tradisional adalah bahan makanan berbahan dasar kedelai.
Ya, meskipun tahu dan tempe merupakan makanan favorit kebanyakan warga Indonesia, namun bahan dasar untuk membuatnya masih bergantung pada impor.
Dengan naiknya dolar, secara langsung berdampak kepada harga tahu dan tempe di pasaran.
Ika, seorang pedagang tempe mendoan di Rumbai harus menyiasati dagangannya agar pelanggannya tidak lari.
Meski harga bahan baku naik semua, ia masih enggan menaikkan harga jualnya.
Dikatakan Ika, harga tempe yang ia beli dari pembuat tempe saat ini di harga Rp 12 ribu per meter, naik dari harga Rp 10 ribu.
Baca juga: Dollar AS Menguat, Rupiah Merosot di Level Rp18.000, Ekonom: Artinya Kita Ini Sedang Sakit
Baca juga: Heboh Penemuan Mayat di Tepi Jalan Tapung Hulu Kampar, Jasad Terikat Kawat
Di tambah lagi dengan beban kenaikan harga Minyakita yang kini di harga Rp 22 ribu/liter.
Bukan hanya itu saja, thinwall sauce cup yang digunakan Ika sebagai tempat saus kecap khas tempe mendoannya juga naik, dari harga Rp 13 ribu/50 pcs, menjadi Rp 22 ribu.
Meski demikian, Ika masih bertahan.
"Masih Rp 10 ribu per porsi, isi lima biji, " katanya, Jumat (5/6/2026).
Ika saat ini memilih memotong lebih tipis tempe nya agar bisa mendapatkan untung yang lumayan.
"Sekarang belum berani naikin harga, tapi entah sampai kapan," katanya lagi.
(Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)