Jeritan Pedagang Tempe di Pekanbaru Atas Kenaikan Dollar: Bertahan di Tengah Ketidakpastiaan
Firmauli Sihaloho June 06, 2026 11:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kini tembus Rp 18 ribu. 

‎Dampaknya, sejumlah komoditas impor ikut menyesuaikan.

‎Satu komoditas impor yang kerap ditemui di pasar-pasar tradisional adalah bahan makanan berbahan dasar kedelai.

‎Ya, meskipun tahu dan tempe merupakan makanan favorit kebanyakan warga Indonesia, namun bahan dasar untuk membuatnya masih bergantung pada impor.

‎Dengan naiknya dolar, secara langsung berdampak kepada harga tahu dan tempe di pasaran.

‎Ika, seorang pedagang tempe mendoan di Rumbai harus  menyiasati dagangannya agar pelanggannya tidak lari.

‎Meski harga bahan baku naik semua, ia masih enggan menaikkan harga jualnya.

‎Dikatakan Ika, harga tempe yang ia beli dari pembuat tempe saat ini di harga Rp 12 ribu per meter, naik dari harga Rp 10 ribu.

Baca juga: Dollar AS Menguat, Rupiah Merosot di Level Rp18.000, Ekonom: Artinya Kita Ini Sedang Sakit

Baca juga: Heboh Penemuan Mayat di Tepi Jalan Tapung Hulu Kampar, Jasad Terikat Kawat

‎Di tambah lagi dengan beban kenaikan harga Minyakita yang kini di harga Rp 22 ribu/liter.

‎Bukan hanya itu saja, thinwall sauce cup yang digunakan Ika sebagai tempat saus kecap khas tempe mendoannya juga naik, dari harga Rp 13 ribu/50 pcs, menjadi Rp 22 ribu.

‎Meski demikian, Ika masih bertahan. 

‎"Masih Rp 10 ribu per porsi, isi lima biji, " katanya, Jumat (5/6/2026).

‎Ika saat ini memilih memotong lebih tipis tempe nya agar bisa mendapatkan untung yang lumayan.

‎"Sekarang belum berani naikin harga, tapi entah sampai kapan," katanya lagi. 

‎(Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.