Renungan Harian Katolik
Sabtu 6 Juni 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
TABIAT MANUSIA: MEMBERI YANG TERSISA
(2Tim. 4:1-8; Mzm. 71:8-9.14-15a.16-17.22; Mrk. 12:38-44)
"Mereka memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya: semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Mrk. 12:44)
Manusia biasanya lebih suka menerima dan enggan memberi. Memberi karena membayar utang pun masih penuh perhitungan apalagi memberi secara suka rela. Kesejatian hidup dan iman muncul dari ketulusan hati seseorang.
Arena paling ramai dan seru biasa terjadi ketika orang saling rebut untuk menerima sesuatu. Wajah cemberut, marah bahkan bisa terjadi insiden jika tak kebagian. Sebaliknya suasana sepi, bahkan tanpa ekspresi emosi ketika harus memberi tanpa imbalan.
Pemberian tulus dari hati mesti ditopang oleh hidup iman yang benar. Suatu fenomena menarik dan menjadi pemandangan spiritual yang menawan ketika Yesus berhadapan dengan peti persembahan. Orang banyak datang memasukan uang ke dalam peti tersebut.
Yesus melihat dengan sangat teliti, lalu didapatinya seorang janda miskin beriman datang dan memberi semua yang ada padanya. Sekalipun memberi sedikit namun totalitas pemberiannya justru menjadi materi pengajaran iman bagi Yesus dalam mengulas spiritualitas memberi kepada Allah. Hidup sempurna dan berkat berlimpah, itulay yang Tuhan beri kepada manusia. Apakah Tuhan memberi sisa hidup dan berkat yang kurang bagi kita?
Hidup datang dari Allah. Berkat yang Tuhan beri pun tiada tara. Pemberian tulus kepada Tuhan dalam bentuk derma, pelayanan merupakan tuntutan mutlak karena iman. Iman butuh penyerahan total. Pemberian tulus atas landasan iman dan kasih adalah jalan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.
Pelayan yang dangkal imannya tak punya komitmen untuk bertahan ketika badai tantangan iman datang.
Kecerobohan dan kesombongan invidu memacu dia terjerumus dalam kesesatan menuju hukuman berat. Pelayanan karena kasih mendatangkan pahala abadi.
Memberi diri secara tulus dalam saling melayani menghadirkan semangat berkorban untuk orang lain. Hidup mesti berakar pada Sabda Tuhan dan kasih-Nya.
Dalam karya pewartaannya, Timotius mendapat peringatan dari Paulus agar waspada, sebab tugas ini tidak mudah.
Sikap ragu-ragu mesti dihindari sejauh mungkin dan tetap sabar. Komit untuk maju terus dalam karya besar keselamatan. "Wartakanlah Sabda Allah.
Siap sedialah selalu baik atau tidak baik waktunya. Nyatakanlah yang salah, tegur dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2Tim. 4:2). Kesabaran penting agar kebenaran tak ditukar dengan dongeng. Keinginan menjadi priorotas, hal-hal penting terlantar tak tersentuh.
Dalam kondisi apa pun, setelah dengan tulus memberi diri total untuk melayani, pewarta mesti kuasai diri, sabar jika menderita. Pelayanan mesti tuntas, mahkota kebenaran akan Tuhan karuniakan.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Sabtu/Pekan Biasa IX/A/II, 060626)