Dollar AS Menguat, Rupiah Merosot di Level Rp18.000, Ekonom: Artinya Kita Ini Sedang Sakit
Firmauli Sihaloho June 06, 2026 10:25 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayah, menyoroti kondisi ekonomi nasional di tengah tekanan yang masih membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah tercatat menguat terbatas dan berada di kisaran Rp18.036 per dolar AS.

Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp18.049 hingga Rp18.066 per dolar AS.

Menurut Achmad Nur Hidayah, meskipun sempat menunjukkan penguatan, rupiah sebelumnya termasuk dalam kelompok lima mata uang dengan kinerja pelemahan terburuk terhadap dolar AS di tingkat global.

Kondisi tersebut mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal yang memengaruhi stabilitas nilai tukar Indonesia.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun tembus Rp18.000. Rupiah kita termasuk lima yang terendah, year to date-nya kita itu melemah 7 persen,” kata Achmad, mengutip tayangan YouTube Kompas TV, Jumat (5/6/2026).

Fenomena ini pun seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Indonesia.

Ia menilai capaian tersebut menjadi peringatan bagi para pengelola ekonomi nasional.

“Dan ini merupakan tamparan untuk para pengelola ekonomi kita. Kenapa menjadi yang terendah?"

Baca juga: Heboh Penemuan Mayat di Tepi Jalan Tapung Hulu Kampar, Jasad Terikat Kawat

Baca juga: Dirut RSUD Selasih Akui Ada Kenaikan Harga Obat-obatan: Belum Tentu Akibat Dollar Naik

Sinyal Serius

Achmad juga menilai pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal serius bagi kondisi perekonomian nasional.

Menurut dia, angka tersebut bisa dianalogikan seperti termometer yang menunjukkan kondisi tubuh sedang tidak baik.

"Kalau kita lihat angka 18.000 ini seperti termometer yang sudah menunjukkan warna merah. Ibarat badan, ekonomi kita itu sudah panas,” ujarnya lagi.

Ia pun menyoroti pernyataan sejumlah otoritas yang masih menyebut ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat.

Achmad mempertanyakan optimisme tersebut karena indikator yang terlihat justru menunjukkan tekanan cukup berat.

“Tapi saya bingungnya begini, para otoritas kita selalu mengatakan bahwa ekonomi Indonesia itu sehat. Padahal kalau kita lihat dari termometer ini warnanya sudah merah. Artinya kita ini sedang sakit,” katanya.

Apa Efeknya?

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada pelaku usaha besar atau investor, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah hingga warga desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga menurunnya daya beli.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang terjadi bersamaan.

Konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya disebut menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar global.

Menurut Anton, ancaman penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak dunia membuat investor global memilih memindahkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap lebih aman.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari Indonesia semakin besar dan memperlemah rupiah.

“Investor global pasti menganggap sementara ini Indonesia kurang menjanjikan untuk investasi. Mereka memilih memegang aset dolar,” ujarnya, mengutip ums.ac.id, Rabu (27/5/2026).

Selain faktor global, pasar juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai belum konsisten.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih dianggap baik secara sosial, namun pasar meragukan kemampuan negara membiayainya dalam jangka panjang di tengah ruang fiskal yang semakin sempit.

Anton menyebut kenaikan belanja pemerintah hingga 21 persen menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, pemerintah juga dihadapkan pada dilema mempertahankan subsidi BBM saat harga minyak dunia meningkat.

“Kalau subsidi dilepas dan harga BBM naik, dampaknya pasti ke inflasi. Ketika daya beli turun, aktivitas ekonomi masyarakat ikut melambat. Itu yang dibaca pasar,” jelasnya.

Kelas Menengah Paling Rentan

Sementara itu, Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, S.S., M.Si., menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi situasi saat ini.

Menurutnya, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan, tetapi ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga.

Arie mengatakan, masyarakat kini mulai menghitung ulang pengeluaran, mengurangi konsumsi kebutuhan sekunder, hingga menunda berbagai rencana hidup karena biaya hidup terus meningkat.

Situasi tersebut, perlahan menimbulkan rasa tidak aman akibat menurunnya nilai tabungan dan kemampuan ekonomi keluarga.

“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkapnya, mengutip ugm.ac.id.

Ia mengingatkan tekanan ekonomi berkepanjangan dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer.

Menurut Arie, kondisi tersebut bisa memengaruhi stabilitas sosial hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.

Arie juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal daerah akibat menurunnya transfer anggaran dari pemerintah pusat.

Dampaknya mulai terasa pada sektor pelayanan publik seperti pendidikan dan pembangunan daerah yang mengalami keterbatasan pembiayaan.

Menurutnya, program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah sejauh ini belum sepenuhnya mampu menjawab tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di lapangan.

“Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” tuturnya.

Meski demikian, Anton menilai kondisi ini masih dapat diantisipasi apabila pemerintah mampu memperbaiki komunikasi kebijakan ekonomi dan menjaga kepercayaan pasar.

Selain itu, peran Bank Indonesia dinilai penting dalam menjaga stabilitas rupiah melalui pengelolaan cadangan devisa dan kebijakan likuiditas dolar di dalam negeri.

“BI bisa mengintervensi pasar dan menjaga likuiditas dolar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar,” pungkas Anton.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.