Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Dilaporkan harga gula pasir dan minyak goreng terus merangkak naik.
Hal itu membuat pelaku usaha mikro hingga pedagang eceran di Kabupaten Lamongan semakin tertekan.
Baca juga: Bus Tayo Angkut Siswa TK Nyangkut di Tebing Jembatan, Mundur Tanpa Kendali saat Naiki Tanjakan
Sebelumnya, para pedagang dibayangi lonjakan harga minyak goreng.
Kini pedagang kembali dihadapkan pada kenaikan harga gula pasir yang terjadi secara mendadak dalam beberapa hari terakhir.
Di Pasar Tradisional Sidoharjo, Kota Lamongan, Sabtu (7/6/2026), menunjukkan harga gula pasir eceran kini menyentuh Rp17.500 per kilogram.
Angka tersebut naik Rp1.000 dibanding harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp16.500 per kilogram.
Para pedagang menilai, kenaikan harga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta meningkatnya biaya distribusi setelah adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
"Gula pasir naik, sekarang Rp17.500, sebelumnya Rp16.500. Karena dolar sama BBM naik," ujar seorang pedagang sembako di Pasar Sidoharjo, Rendi.
Tidak hanya gula pasir, harga minyak goreng subsidi pemerintah merek Minyakita juga ikut melonjak.
Saat ini, harga Minyakita di tingkat eceran mencapai Rp21.000 per liter atau jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah Rp15.700 per liter.
"Minyak, Minyakita sekarang Rp21 ribu. Naik sejak bulan kemarin," tambahnya.
Kenaikan dua komoditas utama tersebut berdampak langsung terhadap pelaku UMKM yang sangat bergantung pada minyak goreng dan bahan pokok lain untuk produksi harian.
Penjual gorengan dan ayam geprek di kawasan pedesaan Lamongan, Muji mengaku, kini kesulitan mempertahankan usahanya.
Menurut dia, biaya produksi terus membengkak sementara harga jual makanan sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat desa terbatas.
Ia mengaku berada dalam posisi serba sulit.
"Labanya tipis. Sulit, apa-apa mahal, pusing," gerutunya.
Jika harga jual dinaikkan, pembeli dikhawatirkan akan berkurang.
Namun jika harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha nyaris tidak ada.
"Kita hanya bisa berharap sama pemerintah untuk segera turun tangan menstabilkan harga, " katanya.
Menurutnya, lonjakan harga kali ini terjadi terlalu cepat sehingga pedagang kesulitan menyesuaikan modal usaha.
Ia juga menyoroti perubahan pola belanja masyarakat sejak harga Minyakita naik tajam.
Konsumen disebut mulai membatasi jumlah pembelian karena kemampuan ekonomi yang semakin terbatas.
Hingga kini, gejolak harga bahan pokok masih membayangi pasar tradisional dan toko-toko sembako di Lamongan.
Para pedagang dan pelaku UMKM berharap pemerintah segera melakukan intervensi untuk menstabilkan harga dan menjaga pasokan agar daya beli masyarakat tidak semakin melemah.