TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Suasana penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti Gedung Phinisi Lantai 4 Universitas Negeri Makassar (UNM).
SPIDI Female Boarding School secara resmi menggelar prosesi wisuda pelepasan bagi 72 wisudawati.
Acara ini menandai akhir dari perjalanan panjang, dedikasi, serta perjuangan belajar para siswi di lingkungan SPIDI.
Momen kelulusan ini menjadi puncak dari dinamika kehidupan berasrama yang penuh tantangan sekaligus kenangan indah.
Air mata haru tak terbendung dari para wisudawati, orang tua, hingga jajaran guru saat prosesi persembahan mahkota dan ungkapan terima kasih.
Isak tangis bahagia ini menjadi bukti dari ketulusan perjuangan, pengorbanan, dan ikatan kekeluargaan yang erat.
Dr. Riza Sativani Hayati M.Pd selaku Direktur Pendidikan SPIDI Female Boarding School mengatakan menempuh pendidikan di boarding school menuntut para siswi untuk tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga belajar mandiri, disiplin, dan tangguh jauh dari pelukan hangat orang tua.
Selama 3 tahun di masa SMP dan 6 tahun di masa SMA selama di SPIDI, Dr. Riza bilang SPIDI mencetak generasi unggul yang smart dan shalihah sesuai dengan visi utamanya, berkomitmen penuh dalam melahirkan generasi "Smart & Shalihah".
Ia menjelaskan para lulusan yang ini tidak hanya dibekali dengan kecerdasan intelektual dan keterampilan abad ke-21, tetapi juga fondasi spiritual yang kokoh berbasis Al-Qur'an.
"Banyak di antara para wisudawati yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, bahkan berhasil Tasmi’ hingga 30 juz, di samping mengukir berbagai prestasi akademik dan non-akademik yang luar biasa mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional," kata Dr. Riza pada sela-sela prosesi wisuda pelepasan bagi 72 wisudawati.
Keberhasilan ini, lanjut dia, kian lengkap dengan torehan prestasi para wisudawati di jalur penataan masa depan akademik mereka.
Banyak di antara lulusan SPIDI yang berhasil menembus kampus terbaik seperti UNHAS, Telkom, Universitas Ahmad Dahlan, hingga Binus dan meraih jurusan impian, seperti Kedokteran, Perikanan, Manajemen Bisnis, Akuntansi, Desain Komunikasi Visual, serta berbagai program studi bergengsi lainnya.
Tidak hanya di dalam negeri, cakrawala keberhasilan mereka kini semakin meluas ke kancah internasional.
Beberapa wisudawati bahkan tengah mempersiapkan kelanjutan studinya ke luar negeri melalui program kerjasama strategis yang dibangun SPIDI dengan berbagai perguruan tinggi ternama di mancanegara.
Hal ini, sebut Dr. Riza menjadikan SPIDI terus berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik serta memperluas jejaring kemitraan global, agar para lulusan SPIDI bisa terus melangkah jauh dan bersaing di tingkat internasional.
"Hari ini kami mengembalikan putri-putri terbaik ini kepada orang tua mereka, bukan lagi sebagai anak-anak, melainkan sebagai generasi unggul yang siap berhikmat di masyarakat. SPIDI telah membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang mandiri, berwawasan luas, dan tetap memegang teguh nilai-nilai Qur’ani,” tutur Dr. Riza.
Acara graduation ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan menarik dari para siswi kelas XI-VII, pesan kesan dari perwakilan wisudawati, serta penganugerahan penghargaan bagi siswi-siswi berprestasi di bidang akademik dan non-akademik untuk jenjang SMP dan SMA.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina SPIDI Female Boarding School, Muzayyin Arief, turut memberikan refleksi mendalam mengenai arah pendidikan lembaga tersebut.
Ia menekankan bahwa terdapat empat orientasi utama yang terus diperkuat demi melahirkan generasi putri yang unggul di masa mendatang, yaitu generasi yang beriman, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mampu mengamalkan ilmunya, serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk menjadi ibu yang bertaqwa sekaligus profesional.
Menurutnya, intisari dari pendidikan ini adalah membentuk pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
Guna mencapai orientasi tersebut, Muzayyin memaparkan tiga pondasi dasar yang ditanamkan kepada para siswi. Pondasi pertama adalah penguatan kesadaran akan identitas diri yang kokoh melalui pemahaman agama yang mendalam.
"Jika di sekolah dibiasakan untuk tahajud, berzikir, dan beribadah, maka pondasi inilah yang ditanamkan pertama. Kedua, identitas bangsanya. Seperti rumah generasi, rumah Indonesia yang siap menemani dunia ini. Ini mesti terus diperkuat sebagai identitas kebangsaan, budaya, dan akar. Itulah kesadaran tentang identitasnya," jelas Muzayyin.
Pondasi kedua yang tidak kalah penting adalah membangun kompetensi yang kuat demi menghadapi tantangan zaman.
Di era modern ini, penguasaan terhadap pengetahuan saja dinilai tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan menyelesaikan permasalahan kehidupan secara nyata.
Oleh karena itu, SPIDI secara konsisten melatih para siswi untuk membangun cara berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi yang efektif, kreativitas, serta kemampuan berkolaborasi.
Selanjutnya, pondasi ketiga difokuskan pada perluasan wawasan global agar para siswi siap berinteraksi tanpa ada sekat yang membatasi dengan bangsa lain.
Selain memahami perkembangan zaman, kemampuan berkomunikasi lintas budaya juga terus diperkuat. Sebagai langkah konkret dalam memperluas jejaring internasional, SPIDI kini tengah menjalin kerja sama strategis dengan praktisi pendidikan di Timur Tengah.
"Alhamdulillah, kami sedang menjajaki dengan praktisi pendidikan di Timur Tengah. Kedepan, santri SPIDI akan belajar dan berumroh di sana. Akomodasi dan proses pendidikan sudah di-fixed-kan, insya Allah tahun depan. Kenapa di Mekkah? Sebab di sanalah lentera peradaban itu dimulai," ungkap Muzayyin mengabarkan rencana strategis tersebut.
Sebagai penutup, Muzayyin mengingatkan para wisudawati bahwa muara dari seluruh proses pendidikan ini adalah kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Ia berpesan agar ilmu yang telah diperoleh dapat dijadikan sebagai lentera hidup yang harus terus dijaga agar sinarnya tidak pernah padam.(*)