Dibangun dari Jualan Kue Bertahun-tahun, Rumah Ismail di Gorontalo Ludes Terbakar
Wawan Akuba June 06, 2026 04:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Ismail Madjegu (50) berdiri memandangi rumahnya dengan tatapan kosong. Ia berdiri di antara tumpukan seng yang melengkung, kayu yang menghitam, dan sisa-sisa perabot yang hangus terbakar, 

Sesekali ia menunjuk ke arah dapur yang kini tinggal puing. Begitu pula kamar dan ruangan lain yang telah berubah menjadi reruntuhan.

Di tempat itulah ia dan istrinya, Oni Olii, memulai hari selama bertahun-tahun.

Sejak subuh mereka membuat kue, lalu menjualnya berkeliling menggunakan becak motor (bentor) demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca juga: Anggota DPR RI Soroti Tambang Emas Ilegal, Sebut Jadi Penyebab Solar Subsidi Sulit Didapat

Setiap hari pasangan suami istri itu menyusuri kantor-kantor dan kawasan ramai untuk menawarkan kue buatan mereka. Kini dapur itu sudah tidak ada lagi.

Begitu pula rumah yang dibangun sedikit demi sedikit dari hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun.

Rumah milik Ismail di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, hangus terbakar pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 07.30 Wita.

Dalam hitungan menit, kobaran api menghapus jejak perjuangan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.

"Kalau orang lihat mungkin cuma rumah yang terbakar. Tapi bagi saya ini hasil kerja bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit saya bangun dari hasil jualan kue," kata Ismail kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (6/6/2026).

Rumah itu awalnya merupakan rumah bantuan yang diterimanya sekitar tahun 2008.

Namun seiring bertambahnya anggota keluarga, ukuran rumah tersebut tidak lagi mencukupi.

Sebagai ayah dari lima anak, Ismail berusaha memperluas rumah sesuai kemampuan ekonomi yang dimilikinya. Tidak sekaligus. Tidak pula dengan pinjaman besar.

Ia membangunnya perlahan, sedikit demi sedikit, agar keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

Saat ada keuntungan lebih dari berjualan kue, sebagian uang disisihkan untuk membeli bahan bangunan.

Kadang hanya cukup membeli semen. Kadang beberapa lembar seng.

Bahkan tak jarang ia harus menunggu berbulan-bulan sebelum bisa menambah bagian rumah lainnya.

"Saya tambah sedikit demi sedikit. Kalau ada uang lebih saya beli bahan bangunan. Kalau tidak ada, ya ditunda dulu," ujarnya.

Setiap hari kehidupan Ismail nyaris tidak berubah. Pagi hari membuat kue bersama istri.

Baca juga: TNI Bantah Kerahkan Intel untuk Awasi Aktivis, Respons Dugaan Pengintaian Islah Bahrawi

Setelah itu ia membawa dagangan menggunakan bentor dan berkeliling dari kantor ke kantor.

Dari usaha sederhana itulah ia membesarkan lima anaknya. Dua anak kini telah bekerja, masing-masing di Makassar dan Gorontalo.

Sementara tiga lainnya masih menempuh pendidikan. Bagi Ismail, rumah yang terbakar itu bukan sekadar bangunan.

Di rumah itulah anak-anaknya tumbuh besar. Di rumah itu pula ia menyimpan berbagai harapan untuk masa depan keluarganya.

Karena itu, saat melihat kobaran api menghanguskan rumah tersebut, yang dirasakannya bukan hanya kehilangan tempat tinggal.

Ia merasa kehilangan hasil perjuangan hidup yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.

"Saya paling sedih lihat rumah ini karena semua usaha saya ada di sini. Dari jualan kue, dari kerja setiap hari, semuanya ada di sini," katanya dengan nada pilu.

Kebakaran juga menghanguskan berbagai perlengkapan usaha miliknya.

Kompor, peralatan memasak, bahan-bahan membuat kue, hingga perlengkapan rumah tangga tidak berhasil diselamatkan.

Padahal dari dapur sederhana itulah keluarganya selama ini mencari nafkah.

Beberapa hari sebelum kebakaran, Ismail bahkan tengah mempersiapkan acara sunatan anak bungsunya.

Beras dan berbagai kebutuhan acara telah disiapkan. Namun seluruhnya ikut hangus terbakar.

"Saya sudah siapkan beras untuk acara sunatan anak. Tapi semuanya habis terbakar," ujarnya pelan.

Kini Ismail bersama keluarganya tinggal sementara di Rusunawa yang disiapkan pemerintah setempat.

Hampir seluruh pakaian yang mereka miliki juga habis terbakar.

Bahkan hingga sehari setelah kebakaran, Ismail masih mengenakan pakaian yang sama saat musibah itu terjadi.

Meski demikian, ia berusaha tidak larut dalam kesedihan. Sebagai kepala keluarga, ia merasa harus segera bangkit.

Ia mulai memikirkan berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan untuk menghidupi keluarganya.

Salah satu yang terlintas di pikirannya adalah bekerja di sektor pertambangan sambil menata kembali kehidupannya.

"Kalau terus bersedih tidak akan mengubah keadaan. Anak-anak masih harus makan dan sekolah. Jadi saya harus cari jalan supaya bisa bangkit lagi," katanya.

Namun ada satu momen yang paling membekas di hatinya.

Saat kebakaran usai dan keluarganya menyadari seluruh rumah telah habis dilalap api, salah seorang anaknya bertanya dengan suara lirih.

"Ayah, kita akan tinggal di mana? Semua sudah terbakar."

Pertanyaan sederhana itu membuat hati Ismail semakin hancur.

Dengan berusaha menahan kesedihan, ia mencoba menenangkan anaknya.

"Tenang saja, Nunu. Papa akan bekerja lebih giat. Nanti papa akan kerja di tambang," katanya.

Pantauan TribunGorontalo.com di lokasi, Ismail beberapa kali terdiam saat melihat sisa-sisa rumahnya.

Matanya berkaca-kaca ketika menunjuk ke arah dapur yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Dari tempat sederhana itu, ia pernah membangun mimpi untuk anak-anaknya.

Kini bangunan tersebut memang telah hilang.

Namun harapan Ismail untuk kembali memulai dari awal masih tetap ada. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.