Jakarta (ANTARA) - Upaya Jakarta untuk bertransformasi menjadi kota global tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur dan investasi, tetapi juga fondasi pengetahuan yang kuat sebagai dasar pengambilan kebijakan dan perencanaan pembangunan, kata Konsul Jenderal Republik Indonesia di New York, Winanto Adi.
"Knowledge (pengetahuan) tidak bisa dibangun sendirian. Jadi diperlukan suatu kolaborasi. Perkembangan sebuah kota tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berbagai pihak untuk berkolaborasi dan berbagi pengalaman," kata Winanto dalam diskusi Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu.
Pengetahuan dinilai menjadi elemen penting untuk memastikan transformasi kota berjalan berkelanjutan, inklusif, dan mampu menjawab tantangan masa depan.
Menurutnya, kota global tidak dibangun semata melalui proyek fisik, melainkan melalui kemampuan mengelola pengetahuan, belajar dari pengalaman masa lalu, dan membangun kolaborasi yang luas.
Kolaborasi dalam pembangunan pengetahuan harus dilakukan secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, pengetahuan perlu diwariskan lintas generasi agar pengalaman dan pembelajaran yang telah diperoleh tidak hilang, sementara secara horizontal, kolaborasi perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu dan sektor pembangunan.
"Perlu membuka ruang kerja sama internasional untuk memperkaya perspektif dan pembelajaran dari berbagai kota dunia. Kolaborasi itu bisa lintas generasi, lintas bidang, bahkan lintas negara," ujar Winanto.
Selain itu, kemampuan membangun jejaring pengetahuan yang luas akan menjadi modal penting bagi Jakarta untuk meningkatkan daya saing dan kapasitasnya sebagai kota global.
Sementara itu, Founder Jalindonesia Hilmar Farid mengingatkan, transformasi kota harus berangkat dari pemahaman yang mendalam terhadap sejarah dan karakteristik wilayahnya.
Dia menilai, pengetahuan menjadi instrumen penting untuk menghindari kesalahan pembangunan yang dapat berdampak panjang.
"Sederhana saja, karena kalau misalnya kota dibangun atas dasar ketidaktahuan, itu risikonya gede banget," kata Hilmar.
Dia mencontohkan Jakarta tumbuh di atas 13 aliran sungai dan kawasan rawa. Menurutnya, berbagai persoalan perkotaan yang masih dihadapi hingga kini tidak terlepas dari pembangunan yang pada masa lalu kurang mempertimbangkan kondisi alam dan karakter wilayah tersebut.
Dia menegaskan, kota global harus dibangun berdasarkan pemahaman yang kuat terhadap kondisi sosial, sejarah, budaya, dan lingkungan. Tanpa pengetahuan yang memadai, pembangunan berisiko menciptakan persoalan baru yang justru menghambat kemajuan kota.
Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Karsa CityLab Dedi Wijaya, menyoroti pentingnya menjaga memori institusional sebagai bagian dari pengelolaan pengetahuan kota.
Menurutnya, salah satu tantangan utama pembangunan perkotaan di Indonesia adalah hilangnya pembelajaran dan pengalaman akibat pergantian kepemimpinan.
Dedi menjelaskan, setiap pergantian kepala daerah sering kali diikuti perubahan program, prioritas, hingga pejabat yang terlibat dalam proses pembangunan. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pengetahuan dan pengalaman yang tidak terdokumentasi dengan baik sehingga kota harus kembali memulai dari awal.
"Bagi saya, kota itu kadang-kadang kehilangan ingatan. Kota sering kali bukan kekurangan ide, melainkan kehilangan memori institusional," ujarnya.
Padahal, keberadaan memori institusional menjadi syarat penting bagi kota yang ingin berkembang secara konsisten dan berkelanjutan. Dengan sistem manajemen pengetahuan yang baik, setiap kebijakan dan inovasi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran jangka panjang.
Oleh karena itu, Jakarta memiliki peluang lebih besar untuk berkembang sebagai kota global yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tangguh, adaptif, dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan perkotaan di masa depan.





