Dolar AS Tembus Rp18.000, Pengamat Ekonomi Sumsel Ingatkan Ancaman Penurunan Daya Beli dan PHK
tarso romli June 06, 2026 06:27 PM

 

 


SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang kini resmi menembus angka Rp18.000 memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas perekonomian nasional, tidak terkecuali di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel).

Pengamat ekonomi Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Prof. Dr. Sri Rahayu, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi menekan daya beli masyarakat, menurunkan volume produksi industri, hingga memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

"Jika dolar terus meroket dan kita tidak siap mitigasi, ekonomi daerah bisa mengalami tekanan yang sangat berat. Daya beli masyarakat akan merosot, yang kemudian diikuti dengan pengurangan kapasitas produksi pabrik. Ketika produksi berkurang, dampak fatalnya adalah pengurangan tenaga kerja. Ini efek domino yang harus kita antisipasi," ujar Prof. Sri Rahayu, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Sri Rahayu, dalam jangka pendek sektor yang paling babak belur adalah industri manufaktur yang masih bergantung pada skema bahan baku impor.

Kenaikan kurs dolar secara otomatis melambungkan biaya produksi (cost of production), sehingga mengancam keberlangsungan usaha korporasi.

"Industri yang berbasis bahan baku impor akan sangat terdampak karena biaya operasional mereka mengikuti kurs dolar. Solusi konkretnya, ketergantungan ini harus dipangkas dan penggunaan komponen produk lokal harus terus ditingkatkan," tegasnya.

Stop Jadikan Krisis Nilai Tukar sebagai Candaan

Menanggapi fenomena di media sosial mengenai maraknya candaan (jokes) di tengah masyarakat yang membandingkan potensi dolar menembus Rp19.000 lebih cepat ketimbang terciptanya 19 ribu lapangan kerja baru, Prof. Sri Rahayu meminta publik untuk menyikapi situasi ini secara lebih bijak dan produktif.

"Dibanding sekadar meramaikan jokes seperti itu, esensinya adalah bagaimana kita bergerak bersama agar prediksi buruk tersebut tidak menjadi kenyataan. Berhentilah sekadar melempar candaan di media sosial, mari kita mulai berusaha, berinovasi, dan bertransformasi ke sektor riil," imbaunya.

Baca juga: Kisah Pilu di Balik Lakalantas Maut Cinde Palembang, Bocah 3 Tahun Selamat Sang Ayah Meninggal Dunia

Sri Rahayu mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang gencar menggelar festival ekonomi dan program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

Langkah tersebut dinilai efektif sebagai stimulus untuk menjaga perputaran uang di tingkat domestik tetap terjaga di tengah gempuran sentimen global.

Kendati mengakui sektor ekspor Sumsel juga ikut tertekan akibat ketidakpastian pasar global, ia meminta seluruh pemangku kepentingan untuk tetap optimistis dalam membangun ekosistem ekonomi daerah.

Desak Penguatan Kebijakan Fiskal dan Moneter

Lebih lanjut, pihak akademisi ini mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk bergerak cepat memperkuat barikade kebijakan fiskal dan moneter guna meredam dampak inflasi barang baku.

Pemerintah perlu memperluas stimulus anggaran yang menyasar sektor UMKM serta menciptakan iklim investasi yang ramah modal.

Ia juga mendorong masyarakat, pelaku usaha, hingga mahasiswa tingkat akhir di Sumsel untuk mengubah pola pikir dari pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).

"Jangan hanya terpaku mencari lowongan pekerjaan yang kian menyusut, tetapi mulailah menciptakan peluang usaha baru. Meskipun skala usahanya kecil dan hanya mampu mempekerjakan satu orang, itu sudah menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi angka pengangguran di daerah," tambahnya.

Sebagai langkah penyelamatan ekonomi harian, Prof. Sri Rahayu mengimbau masyarakat luas untuk semakin berkomitmen menggunakan produk-produk buatan dalam negeri.

Sementara untuk para pelaku UMKM, momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan standar mutu produk.

"Kembali ke produk dalam negeri, cintailah produk Indonesia. Bagi pelaku UMKM, teruslah berinovasi memperbaiki manajemen usaha, digitalisasi pemasaran, promosi, serta kualitas produk agar tetap memiliki daya saing tinggi di tengah situasi sulit," pungkasnya.

Pengamat ekonomi UMP, Prof. Sri Rahayu, mengingatkan dampak kurs Dolar AS yang menembus Rp18.000 dapat memicu penurunan daya beli, penurunan produksi, hingga ancaman PHK di Sumsel, Sabtu (6/6/2026).

Sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor diprediksi menjadi klaster yang paling terdampak akibat membengkaknya biaya operasional imbas pelemahan kurs Rupiah.

Pemerintah didesak memperkuat kebijakan fiskal-moneter dan mendukung UMKM, sementara masyarakat diimbau stop mengolok-olok isu dolar Rp19.000 dan beralih menggunakan produk lokal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.