Fakta Sejarah Bangunan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima Glodok
Alfa Pratomo June 06, 2026 06:34 PM

Di Pecinan Glodok ada gereja Katolik yang bentuknya sangat khas dengan bangunan gaya Tionghoa. Itulah Gerejak Katolik Santa Maria de Fatima.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Sejarah Indonesia mencatat, kedatangan orang-orang Tionghoa ke Batavia adalah kisah panjang yang dipenuhi dengan gelombang migrasi, kontribusi besar terhadap pembangunan kota, hingga tragedi berdarah yang mengubah peta demografi.

Jauh sebelum Jan Pieterszoon Coen membakar Jayakarta dan mendirikan Batavia pada 1619, orang-orang Tionghoa sudah akrab dengan kawasan ini. Salah satu wilayah yang menjadi tempat bermukin kaum tionghoa adalah Glodok.

Glodok sebagai pusat Pecinan (Chinatown) di Jakarta bukan terjadi secara alami melalui kumpul-kumpul biasa. Glodok terbentuk melalui kebijakan segregasi rasial (pemisahan paksa) dan trauma sejarah hebat yang dilakukan oleh VOC pada abad ke-18.

Sebelum 1740, mayoritas warga Tionghoa di Batavia tinggal membaur di dalam tembok kota Batavia (sekarang kawasan Kota Tua/Stasiun Kota) dan menggerakkan roda ekonomi di sana. Namun, setelah peristiwa pembantaian massal Geger Pecinan tahun 1740 yang menewaskan lebih dari 10 ribu warga Tionghoa itu, kota Batavia menjadi sunyi dan perekonomiannya lumpuh total.

VOC tersadar bahwa mereka tidak bisa mempertahankan Batavia tanpa keterampilan dagang dan otot kerja orang Tionghoa. Di sisi lain, VOC dilingkupi ketakutan dan paranoia bahwa orang Tionghoa akan membalas dendam jika dibiarkan kembali tinggal di dalam tembok kota.

Untuk mengatasi dilema tersebut, pada 1741 Gubernur Jenderal VOC saat itu, Johannes Thedens, mengeluarkan kebijakan ketat yang disebut wijkenstelsel (sistem zonasi permukiman berdasarkan etnis). Melalui kebijakan ini, VOC menetapkan aturan baku seperti Orang Tionghoa dilarang keras tinggal di dalam tembok kota.

Mereka dilokalisasi di sebuah kawasan rawa di luar tembok kota Batavia bagian selatan. Kawasan relokasi paksa inilah yang kelak bernama Glodok.

Lokasi ini sengaja dipilih karena berada tepat di bawah jangkauan meriam benteng pertahanan VOC, sehingga pergerakan warga Tionghoa bisa dipantau secara militer kapan saja. Hingga kini, Glodok masih menjadi pemukiman Tionghoa.

Beberapa saat yang lalu, Intisari berkesempatanmenjelajahi kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Rasanya benar-benar seperti menembus lorong waktu.

Di antara lalu lalang orang, entah pedagang maupun pembeli, dan aroma kuliner legendaris di Jalan Kemenangan III, berdiri sebuah bangunan yang sekilas menarik mata saat melewatinya. Jika bukan karena sebuah salib besar yang bertengger di puncak atapnya, siapa pun pasti mengira bangunan bernuansa merah-emas itu adalah sebuah kelenteng atau vihara tua.

Namun, papan nama di depannya menegaskan identitas aslinya. Bangunan bercorak Tionghoa itu ternyata sebuah gereja, sebuah gereja Katolik, gerejak Katolik Santa Maria de Fatima.

Orang-orang juga mengenal gerejak ini sebagai Gereja Toasebio. Ketika melangkah masuk ke halaman gereja, kita langsung disambut oleh arsitektur khas Tiongkok Selatan.

Atap bangunan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima berbentuk melengkung menyerupai ekor burung walet (owl-tailed atau saddleback). Bentuk atap secara arsitektur ini mencerminkan tipikal rumah bangsawan atau properti Tionghoa masa lampau.

Berdasarkan informasi yang dirangkum, fakta sejarah mencatat bahwa bangunan arsitektur khas Tiongkok Selatan di jalan Kemenangan Glodok ini dulunya bukanlah tempat ibadah yang dibangun dari awal. Bangunan ini dulunya rumah tinggal seorang kapitan atau bangsawan Tionghoa bermarga Tjioe yang didirikan pada awal abad ke-19.

Pada 1953, kompleks rumah seluas hampir satu hektar ini dibeli oleh perwakilan gereja dengan harga Rp3 juta. Angka nominal ini adalah angka yang sangat besar saat itu dan dibayar secara mengangsur.

Penggagasnya adalah para imam misionaris Serikat Yesus (Jesuit) asal Austria dan Jerman yang sempat bertugas di daratan China namun terpaksa mengungsi ke Indonesia akibat pergolakan politik.

Masuk ke dalam ruang utama Gereja Katolik Santa Maria de Fatima, kita akan merasakan nuansa akulturasi terasa semakin pekat. Dari dalam terlihat ruangan dipenuhi pilar-pilar tinggi bergaya Eropa Barat.

Dari sisi interior gereja ditopang oleh tiang-tiang kayu besar berwarna merah menyala khas arsitektur Tionghoa. Gereja Katolik Santa Maria de Fatima ini sepertinya sengaja mempertahankan ornamen asli bangunan tanpa menghilangkan esensi iman Katolik.

Ada beberapa detail bangunannya yang unik. Salah satunya adalah ukiran Kayu di Sekitar Alta atau mimbar.

Mimbar dan sekitar tabernakel dihiasi ukiran kayu bergaya Tiongkok kuno bermotif burung hong (phoenix), bunga krisan, hingga naga yang melambangkan keagungan dan kekuatan. Di area panti imam, terdapat patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria yang dilengkapi tulisan aksara Hanzi di atasnya.

Di atas patung Yesus tertulis "耶穌基督" (Yēsū jīdū - Yesus Kristus), sementara di atas patung Bunda Maria tertulis Shèngmǔmǎlìyǎ(Perawan Maria).

Selain detail bangunannya, Gereja Katolik Santa Maria de Fatima memiliki kantung kolekte (persembahan) yang didesain menyerupai bentuk koin kuno Tiongkok dengan sulaman doa dalam bahasa Mandarin.

Melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993, kompleks gereja ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya. Segala bentuk renovasi diperketat demi menjaga keaslian strukturnya agar jejak sejarahnya tidak hilang.

Nama "Santa Maria de Fatima" dipilih untuk menghormati peristiwa penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala (Lucia, Francisco, dan Jacinta) di kota Fatima, Portugal, pada tahun 1917. Tanggal peresmian paroki ini pun sengaja disesuaikan, yaitu pada 13 Oktober 1955.

Di halaman depan, kita juga bisa melihat replika Bukit Maria de Fatima. Guna menyesuaikan dengan demografi umat di kawasan Pecinan Glodok, gereja ini secara rutin menyelenggarakan misa khusus menggunakan bahasa Mandarin pada hari Minggu sore.

Selain misa bahasa mandarin juga ada jadwal misa rutin bahasa Indonesia. Selain itu, ada detail angunan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima yang unik lainnya yaitu menara lonceng.

Pada masa awal berdirinya, menara lonceng gereja ini dilengkapi oleh lonceng tembaga besar yang didatangkan langsung dari Austria oleh Pastor Staudinger, SJ. Lonceng asli tersebut kini telah disumbangkan ke daerah misi di Pasaman, Sumatra Barat, dan digantikan dengan lonceng yang baru.

Gereja Santa Maria de Fatima bukan sekadar bangunan tua untuk beribadah. Gereja Katolik Santa Maria de Fatima juga monumen hidup yang membuktikan bahwa iman dan tradisi lokal tidak harus saling menyingkirkan, melainkan bisa berjalan beriringan membentuk sebuah dinamika harmoni visual yang indah di kota metropolitan Jakarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.