TRIBUNBENGKULU.COM - Ketua pondok pesantren di Lombok Tengah akhirnya memberikan klarifikasi terkait kasus dugaan pembakaran santri yang menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.
Menanggapi berbagai sorotan yang muncul, pihak pesantren membantah tudingan telah lepas tangan dan menegaskan tetap memberikan pendampingan serta berkoordinasi dengan keluarga korban dan aparat penegak hukum selama proses penanganan kasus berlangsung.
Ketua Ponpes H. Ahmad Muzakki Rahmatullah, menegaskan bahwa pihaknya tidak lepas tangan dan telah berupaya memberikan bantuan sejak awal kejadian.
Muzakki membantah tudingan bahwa pihak pesantren tidak bertanggung jawab atas biaya perawatan SAH (13) dan dua santri lainnya.
Ia menyatakan bahwa pihak Ponpes rutin menjenguk korban, baik saat di rumah sakit maupun setelah pulang ke rumah
“Jadi selama si korban ini berada di rumah sakit kami sering datang untuk menjenguknya. Jarak 3 hari kami datang menjenguknya. Dan setiap kali penjengukan itu kami bawakan dia bantuan. Bantuan berupa uang, berupa makanan dan lain sebagainya,” ucap Muzakki saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: 3 Santri di Lombok Tengah Dibakar oleh Santri Senior di Ponpes, 1 Korban Meninggal Dunia
Ia menambahkan bahwa pihak pesantren tetap memperhatikan kondisi korban karena statusnya masih dianggap sebagai santri di pondok tersebut.
Terkait terduga pelaku berinisial R yang merupakan kakak kelas korban, pihak Ponpes menyatakan telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan santri yang bersangkutan.
Pihak Ponpes juga memberikan penjelasan mengenai isu adanya denda sebesar Rp7 juta jika korban atau keluarga menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya.
Muzakki menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Tidak ada itu. Kami tidak pernah bilang ini, bilang itu. Dari mana datangnya kata Rp7 juta, Rp100 pun gak pernah kami bilang apa-apa. Untuk mengatakan jangan kamu cerita saja gak pernah,” tegasnya.
Muzakki mengingatkan bahwa selama ini Ponpes Rusydah telah memberikan fasilitas pendidikan dan kebutuhan hidup secara cuma-cuma kepada para santrinya sebagai bentuk pengabdian.
“Memang di sini gratis. asramanya gratis, sekolahnya gratis, gak ada yang bayar. Bukan hanya bayar sekolahnya saja gratis, tapi makannya juga gratis. Semuanya tidak ada yang dibayar. Bajunya pun tidak dibayar. Bahkan kitabnya kami belikan di sini,” ungkapnya.
Mengenai laporan resmi yang telah masuk ke Polres Lombok Tengah, pihak pesantren menyatakan akan menghormati dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.
Namun, ia tetap berharap agar permasalahan ini dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
“Kalau memang mereka melapor ya silakan saja itu kan hak masing-masing, kita ikuti saja prosesnya. Harapan saya, jangan sampai hal yang kita anggap salah akan membuat yang lain menjadi salah semua. Mari kita bermusyawarah,” pungkasnya.
Korban selamat dalam kasus dugaan pembakaran santri di sebuah pondok pesantren di Lombok mengungkapkan kesaksiannya kepada penyidik.
Dari keterangan yang disampaikan, peristiwa tragis yang menewaskan satu santri dan melukai dua lainnya itu diduga berawal dari aksi perundungan yang telah berlangsung sebelumnya di lingkungan pesantren.
Diketahui, Tiga orang santri pondok pesantren di Lombok Tengah diduga menjadi korban pembakaran yang disengaja oleh seorang kakak kelas pada November 2025 lalu.
Salah satu korban SAH (13) menuturkan peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika dirinya bersama beberapa santri lain berada di dalam sebuah ruangan.
"Kejadian siang, kami disuruh masuk dalam ruangan. Saya di ruangan itu berlima sama yang membakar," ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Menurut SAH, hanya ada satu orang yang diduga melakukan aksi pembakaran. Ia mengaku bersama tiga santri lainnya sempat terjebak di dalam ruangan saat api mulai membesar. "Yang membakar satu orang," katanya.
Ia mengaku ruangan tersebut terbakar setelah pelaku diduga sengaja menyalakan api. Dalam kejadian itu, dua orang berhasil keluar, termasuk terduga pelaku.
"Saya terjebak bersama tiga orang di dalam kamar dengan kobaran api. Teman saya satu ada yang meninggal," ujarnya.
SAH juga membantah informasi yang menyebut peristiwa tersebut terjadi karena permainan para santri.
"Sengaja membakar. Ada tiga paling parah dalam kejadian itu, mereka berdua berhasil keluar di tengah kobaran api, salah satunya yang membakar," katanya.
Bibi korban, Nurul Hidayah, mengaku awalnya mendapat penjelasan dari pihak pondok bahwa insiden tersebut terjadi saat para santri bermain.
"Saya diceritakan sama orang pondok, kejadiannya bukan dibakar tapi lagi main-main di luar," ujarnya.
Namun, dua hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit, korban mulai menceritakan kronologi berbeda kepada keluarganya.
"Pas dua hari dirawat di Praya barulah bisa ngomong sejujurnya, bahwa kebakaran ini bukan karena kami bermain-main tapi kita dibakar," kata Nurul menirukan pengakuan anaknya.
Ia juga mengaku anaknya sempat takut mengungkapkan kejadian sebenarnya karena mendapat ancaman.
"Karena dalam posisi pasca pembakaran itu, anak saya ini takut ditanya. Karena kalau dia membenarkan yang sebenarnya, dia diancam orang tuanya harus membayar denda Rp7 juta," ujarnya.
Nurul menuturkan korban mengalami luka bakar di sejumlah bagian tubuh dan harus menjalani perawatan selama sekitar 18 hari.
"Sampai di Puskesmas Pancor Dao, dia sudah mengalami luka di sekujur tubuhnya. Anak saya ini masih bisa saya pegang untuk nyandar di badan saya. Yang dua lainnya itu lebih parah, badannya habis kena luka bakar," katanya.
Berdasarkan cerita korban dan rekan-rekannya, peristiwa itu diduga berawal ketika sejumlah santri diajak masuk ke sebuah ruangan yang disebut sebagai bekas kamar ustaz.
"Cerita si anak-anak ini pelaku menuangkan bensin di plastik, ada juga satu botol bensin di kamar ustaz itu," ujar Nurul.
Ia menambahkan, setelah api menyala, dua orang berhasil keluar ruangan, sementara anaknya bersama korban lain terjebak di dalam.
"Korban tidak bisa menyelamatkan diri keluar pintu karena saat dua orang itu keluar pintu tertutup dengan erat," katanya.
Menurut Nurul, sebelum insiden kebakaran terjadi, anaknya sempat melaporkan dugaan perundungan yang dilakukan terduga pelaku kepada pengurus pondok.
"Sebelum kejadian, dia cerita bahwa pelaku sempat menelanjangi temannya. Akhirnya korban melapor ke ketua pondok dan akhirnya pelaku ditempeleng serta diberi peringatan," ujarnya.
Nurul mengungkapkan, bahwa terduga pelaku sempat mengancam anaknya dan santri lain karena kesal dilaporkan ke ketua pondok.
Ia menduga peristiwa pembakaran terjadi beberapa hari setelah laporan tersebut disampaikan.
"Selang tiga hari anak bercerita itu, nah baru kejadian pembakaran ini," katanya.
Peristiwa tragis terjadi di sebuah pondok pesantren setelah tiga santri menjadi korban dugaan pembakaran yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka serius.
Aparat kepolisian yang melakukan penyelidikan mengungkap bahwa terduga pelaku merupakan seorang santri senior di lingkungan pesantren tersebut.
Kasus dugaan kekerasan berat di lingkungan pondok pesantren (ponpes) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya mencuat ke publik setelah salah satu korban viral di media sosial.
Peristiwa yang diduga terjadi pada November 2025 itu menyeret tiga santri sebagai korban. Satu di antaranya meninggal dunia, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar serius hingga harus menjalani perawatan intensif.
Bahkan, salah satu korban dikabarkan terpaksa berutang demi membiayai pengobatan akibat luka bakar yang dideritanya.
Satuan reserse kriminal (Satreskrim) Polres Lombok Tengah, mengusut kasus dugaan pembakaran yang dilakukan terhadap tiga orang santri di salah satu pondok pesantren (Ponpes).
Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean mengatakan pihaknya baru mendapatkan informasi tersebut.
"Informasi baru diterima hari ini, dan orang tuanya baru akan melaporkan hari ini," kata Punguan, Rabu (3/6/2026).
Mantan Kasat Reskrim Polres Lombok Utara ini mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dalam kasus ini serta serangkaian tindakan penyelidikan lainnya.
"Mulai hari akan melakukan pemeriksaan saksi," kata Punguan.
Sebelumnya tiga santri salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Lombok Tengah diduga menjadi korban pembakaran. Bahkan salah satunya meninggal dunia.
Video salah satu korban inipun ramai di sosial media Facebook, korban nampak mengalami luka bakar serius pada sekujur tubuh.
Kepala Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi membenarkan terkait peristiwa ini.
Namun ia enggan berkomentar banyak karena masih didalami penyebab insiden ini terjadi.
"Kasus Ponpes di Loteng ini terjadi November 2025, tetapi saya baru tahu sekarang," kata Joko, Rabu (3/6/2026).
Ia mengatakan sebelum dibakar korban terlebih dahulu disiram menggunakan bensin.
Korban mengalami luka bakar serius hingga salah satunya meregang nyawa.
"Ada anak yang disiram bensin, dua luka bakar dan satu meninggal dunia. Baru sekarang muncul (Kasus) ini," kata akademisi Universitas Mataram ini.
Joko belum bisa merincikan terkait identitas korban dan terduga pelaku, sebab saat ini masih proses pendalaman bersama dengan aparat kepolisian guna mengungkap insiden ini.
Sahid Al Hudri (13), seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Rusydah, Desa Mantang, Lombok Tengah diduga menjadi korban perundungan sadis oleh kakak kelasnya hingga dibakar.
Sahid, anak kedua dari pasangan Rum dan Harimah, kini harus menanggung derita akibat luka bakar hingga 80 persen yang menyelimuti tubuhnya setelah diduga sengaja dibakar di dalam ruangan yang terkunci.
Saat ditemui Tribun Lombok, Sahid terlihat duduk dengan muka murung, nampak luka bakar disekujur tubuhnya ditutupi oleh kain.
Berdasarkan kesaksian Sahid, peristiwa tersebut terjadi pada siang hari saat ia dan teman-temannya disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan.
Di dalam ruangan tersebut, seorang kakak kelas telah menyiapkan bensin dan menyiramkannya, Kamis (4/6/2026).
Sahid menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah sebuah kecelakaan atau permainan. Saat ditanya apakah pelaku melakukannya karena main-main, Sahid menjawab dengan tegas, “sengaja,” ucapnya sembari menunduk.
Sahid menceritakan bahwa pintu ruangan tersebut ditutup dengan keras hingga sulit dibuka, memerangkap dirinya bersama dua teman lainnya di dalam api yang mulai berkobar.
“terjebak kita bertiga, orang yang ngebakar bisa dia keluar,” kata Sahid.
Salah satu dari rekan Sahid dikabarkan telah meninggal dunia akibat luka bakar yang dideritanya.
Baca juga: Viral Video Santri di Lombok Diduga Jadi Korban Perundungan hingga Alami Luka Bakar
Aksi keji ini diduga dipicu oleh rasa dendam pelaku. Sebelumnya, Sahid dan kawan-kawannya melaporkan pelaku kepada pimpinan pondok karena tindakan perundungan lain, yaitu menelanjangi santri.
Pelaku yang merasa sakit hati karena dipukul dan diperingatkan oleh ketua pondok kemudian mengancam korban.
“Awas besok lagi-lagi kamu ngasih tahu, saya bakar kamu,” ceritanya.
Ditempat yang sama, bibi korban, Nurul Hidayah menceritakan betapa hancurnya perasaan Sahid saat hendak pulang ke rumah.
“Kalau banyak orang malu, jangan dibawa keluar malu. Saya dilihatin terus sama orang, minta ditutup pakai kain panjang kayak orang sudah meninggal,” sebutnya.
Di tengah penderitaan ini, keluarga Sahid yang merupakan keluarga kurang mampu harus berjuang sendiri membiayai pengobatan yang mencapai puluhan juta rupiah hingga harus mencari utang.
Ia mengaku pihak pimpinan pondok tidak bertanggung jawab secara finansial dalam perawatan korban.
“Satu peser pun tidak ada tanggung jawab dari saya karena saya juga termasuk korban, itu Lillahi Ta'ala,” ujar pimpinan pondok seperti yang ditirukan oleh Bibi korban.
Kini, pihak keluarga telah memutuskan untuk melaporkan kelalaian pihak pondok pesantren ke polisi demi mendapatkan keadilan bagi Sahid.
Bibi Sahid, Nurul Hidayah mengungkap bahwa alih-alih mengambil tanggung jawab, pimpinan pondok pesantren menyatakan tidak akan menanggung biaya pengobatan yang kini mencapai puluhan juta rupiah.
"Satu peser pun tidak ada tanggung jawab dari saya karena saya juga termasuk korban," kata Nurul menirukan ucapan sang pimpinan Ponpes Ketika dimintai pertanggungjawaban.
Biaya itu kini ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Rum dan Harimah, orang tua Sahid yang termasuk dalam kelompok keluarga kurang mampu.
Mereka berutang ke mana-mana demi membiayai pemulihan anak mereka yang kini menanggung luka bakar di 80 persen tubuhnya.
Sementara itu, Ketua LPA Mataram Joko Jumadi mengakui bahwa pihaknya baru mengetahui kasus ini setelah videonya viral.
mekanisme pelaporan dan perlindungan anak di dalam lingkungan pesantren selama ini lemah sehingga terlambat diketahui.
Kepolisian Resor Lombok Tengah baru memulai penyelidikan setelah laporan resmi masuk dari keluarga.
Kasatreskrim Polres Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean menyatakan pemeriksaan saksi dimulai segera, dan kasus ini akan ditangani serius.
"Mulai melakukan pemeriksaan saksi," ujarnya.
Orang tua korban melaporkan kasus ini pada Rabu (3/6/2026) tentang dugaan penganiayaan berat, seiring video kondisi Sahid yang viral di media sosial dan terus mendapat dukungan publik.