Denpasar (ANTARA) - Festival film internasional Balinale menutup penyelenggaraan edisi ke-19 dengan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dalam melestarikan kearifan lokal melalui perfilman.

“Pemerintah telah mengakui potensi Balinale terbukti dengan Kemenbud yang terus hadir mendukung, maka itu festival ini juga akan terus mendukung program-program Kemenbud,” kata Pendiri sekaligus Direktur Festival Balinale Deborah Gabinetti, di Denpasar pada Sabtu.

Deborah menjelaskan, setelah berlangsung selama sepekan, para juri menentukan juara bagi enam kategori dan empat penghargaan khusus di Balinale yang menerima lebih dari 1.300 film dan dikurasi menjadi 94 film dari 38 negara.

Dari 94 film tadi, sebanyak 26 judul di dalamnya adalah karya sineas Indonesia, dan beberapa dari mereka mendapat penghargaan khusus karena dinilai sebagai karya terbaik di festival film berkualifikasi Oscar ini.

“Balinale memiliki reputasi internasional dan afiliasi global, sehingga yang kami lakukan pasti bermanfaat dalam mempromosikan industri perfilman Indonesia. Jadi program pemerintah dalam mempromosikan perfilman bisa lewat jaringan kami,” ujar Deborah.

Pada malam penganugerahan festival film Balinale, diumumkan bahwa film berjudul "The Tuners" karya Pawel Chorzepa (Polandia) terpilih sebagai pemenang Film Dokumenter Pendek. Film "Ali" karya Adnan Rajeev (Bangladesh/Filipina) memenangi kategori Narasi Pendek, dan "Lifetime Warranty" karya Daniel Lobos (Chili) sebagai pemenang Animasi Pendek.

Selanjutnya Film Pendek terbaik dimenangkan "The Tuners" oleh Pawel Chorzepa (Polandia), Film Dokumenter panjang dimenangkan "The Designer is Dead" oleh Gonzalo Hergueta (Spanyol), dan Film Naratif dimenangkan "Aisha Can’t Fly Away" oleh Morad Mostafa (Mesir).

Untuk penghargaan khusus yaitu Penghargaan Gary L Hayes diberikan kepada "Sound of Silence" oleh Gavrila Angelina (Indonesia) dan Tapestry of Indonesia atau Film Pendek Indonesia Terbaik dimenangkan oleh "Amazing Fantastic Extraordinary People" oleh Nadine Habsjah dan Yusgunawan Marto (Indonesia), serta dua penghargaan pilihan komite diberikan kepada sineas Korea Selatan dan Inggris Raya.

Deborah mengatakan dengan terus meningkatnya keterlibatan sineas lokal bahkan yang meraih penghargaan, sudah menunjukkan adanya potensi industri perfilman tanah air.

“Saya rasa semakin banyak sineas lokal diakui, semakin besar kepercayaan diri yang terbangun, semakin semakin besar kebanggaan yang mereka miliki atas karya mereka. Itulah mengapa kami juga memulai kategori baru Tapestry of Indonesia sehingga menjadi kesempatan bagi suara-suara dari seluruh Indonesia,” kata dia.

Berkaca dari 19 tahun penyelenggaraan Balinale, Deborah melihat untuk selanjutnya para pembuat film agar tidak terfokus pada satu tema tertentu namun terbuka terhadap realitas sekitar.

Menurut dia, dunia internasional mengagumi industri perfilman di Indonesia karena kerap mengangkat kearifan lokal sekitar menjadi karya film.

“Kami ingin seterbuka mungkin, kami tidak ingin membatasi pada tema-tema tertentu, artinya jika membuat film, maka kamu memastikan semua yang dibutuhkan ada, baik itu penyampaian pesan maupun produksinya,” kata Deborah.

Ini juga yang membuat festival film internasional tersebut memiliki kesamaan visi dengan Kemenbud yaitu terus menonjolkan kearifan lokal dan budaya sekitar.

“Maka itu di Balinale ke-20 kami membuka kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah untuk menggairahkan film Indonesia, terutama yang para pemuda untuk ikut festival karena dengan adanya festival mereka bisa mengukur kualitas dibanding dari pemain-pemain film dunia, ada banyak waktu untuk mengangkat potensi sekitar dan festival adalah strateginya,” ujarnya.