Amirul Hajj Soroti Layanan Kesehatan, Armuzna hingga Ramah Lingkungan dalam Evaluasi Haji 2026
Sakinah Sudin June 07, 2026 10:21 AM

Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-Timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH – Amirul Hajj Indonesia menyampaikan sejumlah catatan penting terkait penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M dalam exit meeting digelar bersama Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH), petugas haji, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah. 

Catatan tersebut akan disampaikan kepada Kementerian Haji dan Umrah RI sebagai bahan evaluasi dan perbaikan penyelenggaraan haji tahun mendatang.

Amirul Hajj, Irfan Yusuf, mengatakan evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang masih perlu diperbaiki meskipun secara umum pelaksanaan haji tahun ini berjalan lebih baik.

“Kami melakukan evaluasi pelaksanaan haji tahun ini dan menyampaikan sejumlah catatan dari Amirul Hajj kepada Kementerian Haji sebagai bahan evaluasi dan kebijakan untuk penyelenggaraan haji tahun depan,” ujar Irfan Yusuf usai exit meeting di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah, Sabtu (6/6/2026).

Sekretaris Amirul Hajj, Prof. Ilfi Nur Diana, menjelaskan, salah satu perhatian utama adalah layanan dasar bagi jamaah yang meliputi transportasi, akomodasi, konsumsi, dan layanan kesehatan.

Menurutnya, sistem pelayanan kesehatan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) masih memerlukan perhatian khusus. 

Selain membutuhkan biaya besar, alur pelayanan bagi jamaah yang sakit dinilai cukup panjang karena harus melalui klinik satelit sebelum dirujuk ke KKHI. 

Setelah itu, pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan harus dirujuk kembali ke rumah sakit mitra yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi karena KKHI hanya melayani rawat jalan.

“Ini menjadi salah satu catatan penting agar pelayanan kesehatan jamaah ke depan dapat lebih efektif dan memberikan kemudahan bagi jamaah yang membutuhkan penanganan medis,” kata Ilfie.

Selain layanan kesehatan, Amirul Hajj juga menyoroti pelaksanaan layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), khususnya terkait kapasitas tenda di Mina yang semakin terbatas seiring bertambahnya jumlah jamaah haji Indonesia setiap tahun.

Menurut Ilfie, diperlukan strategi dan skema baru agar jamaah tetap mendapatkan pelayanan yang optimal selama berada di Armuzna, termasuk mengantisipasi keterlambatan transportasi bus yang masih terjadi di sejumlah sektor.

“Karena luas Mina tidak bertambah sementara jumlah jamaah terus meningkat, maka diperlukan strategi yang lebih baik agar jamaah dapat terlayani dengan baik mulai dari Arafah, Muzdalifah hingga Mina,” ujarnya.

Amirul Hajj juga mencatat pentingnya mitigasi risiko bagi jamaah yang tersesat atau terpisah dari rombongan, serta peningkatan layanan bagi jamaah lanjut usia. 

Menurut Ilfie, layanan pendampingan dan penyediaan jasa dorong kursi roda perlu terus diperkuat, baik saat umrah wajib, tawaf ifadah, tawaf wada, maupun setelah pelaksanaan Armuzna.

Selain itu, aspek ramah lingkungan turut menjadi perhatian dalam evaluasi tahun ini.

Salah satu langkah yang diapresiasi adalah pembagian tumbler kepada seluruh jamaah Indonesia saat berada di Armuzna untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Namun demikian, Ilfi menilai upaya tersebut perlu didukung dengan penyediaan fasilitas air minum berupa dispenser melalui kerja sama dengan syarikah dan Pemerintah Arab Saudi.

“Dengan adanya dispenser air minum, tumbler yang diberikan kepada jamaah dapat digunakan secara maksimal sehingga mampu mengurangi sampah plastik yang menjadi perhatian dunia,” katanya.

Evaluasi juga mencakup kebutuhan penambahan fasilitas toilet, terutama bagi jamaah perempuan. 

Menurut Ilfie, jumlah jamaah perempuan Indonesia saat ini lebih banyak dibandingkan laki-laki sehingga memerlukan perhatian khusus dalam penyediaan fasilitas dasar.

Ia menegaskan, transformasi ekosistem penyelenggaraan haji ke depan harus mengedepankan konsep ramah lansia, ramah lingkungan, dan ramah perempuan agar seluruh jamaah memperoleh pelayanan yang lebih nyaman dan manusiawi.

Dalam kesempatan tersebut, Amirul Hajj juga menyampaikan harapan agar angka risiko kesehatan dan kematian jamaah haji Indonesia terus menurun melalui berbagai langkah mitigasi yang dilakukan sejak dini.

“Semoga seluruh jamaah haji Indonesia dapat kembali ke tanah air dengan selamat dan sehat. Berbagai risiko yang ada harus terus kita mitigasi agar pelayanan kesehatan jamaah semakin baik di masa mendatang,” ujar Ilfie.

Menutup keterangannya, Irfan Yusuf menyampaikan apresiasi kepada insan media yang selama musim haji aktif menyampaikan informasi dari Tanah Suci kepada masyarakat Indonesia.

“Atas nama Kementerian Haji dan PPIH, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman media yang telah menginformasikan berbagai kondisi dan perkembangan di Tanah Suci," ,” kata Irfan Yusuf.

"Kehadiran media membantu keluarga jamaah di tanah air mendapatkan informasi yang benar dan menenangkan di tengah maraknya informasi yang belum tentu jelas kebenarannya di media sosial (hasim arfah/mch 2026)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.