TRIBUNMANADO.CO.ID - Aparat kepolisian mengungkap rangkaian peristiwa yang berujung pada tewasnya Ferry Maweru alias Pheyy (33) dalam kasus penikaman di depan Jumbo Swalayan, kawasan Pasar 45, Kota Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (6/6/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
Dua pria yang diduga terlibat dalam insiden tersebut, yakni BD alias Bombi (25) dan ND alias Nelson (23), diketahui mendatangi Polresta Manado untuk menyerahkan diri tidak lama setelah kejadian berlangsung.
Peristiwa berdarah itu terjadi di salah satu titik keramaian pusat Kota Manado yang lokasinya sangat dekat dengan Markas Polresta Manado.
Kantor kepolisian tersebut berada di Jalan Pierre Tendean, Kelurahan Wenang Utara, Kecamatan Wenang, tepat di sisi kawasan Jumbo Pasar 45.
Jarak antara lokasi penikaman dengan Mapolresta Manado diperkirakan hanya sekitar 100 hingga 300 meter.
Dengan berjalan kaki, jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu kurang dari lima menit.
Kasat Reskrim Polresta Manado, AKP Elwin Kristanto, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan sementara, peristiwa itu dipicu oleh perselisihan antara korban dengan kedua terduga pelaku yang diketahui sama-sama berprofesi sebagai sopir angkutan kota atau mikrolet.
Dari keterangan yang diperoleh penyidik, Bombi dan Nelson saat itu tengah mengemudikan mikrolet ketika mereka dihentikan oleh korban.
Dalam pertemuan tersebut, korban diduga melakukan tindakan penganiayaan dengan memukul salah satu pelaku hingga mengenai bagian wajah.
Usai insiden itu terjadi, Bombi dan Nelson memilih meninggalkan lokasi dan pulang.
Namun, beberapa waktu kemudian korban disebut kembali menghubungi keduanya dan meminta agar mereka datang lagi ke lokasi kejadian dengan tujuan menyelesaikan persoalan yang sebelumnya terjadi.
Saat kedua pelaku memenuhi permintaan tersebut dan kembali ke tempat kejadian perkara, situasi justru berubah menjadi semakin tegang.
Berdasarkan pengakuan Bombi dan Nelson kepada penyidik Polresta Manado, korban diduga lebih dahulu melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam jenis pisau ke arah salah satu pelaku.
Serangan itu disebut berhasil ditepis sehingga tidak mengenai sasaran.
Keterangan kedua pelaku tersebut saat ini masih didalami oleh penyidik untuk memastikan secara utuh kronologi kejadian, termasuk peran masing-masing pihak dalam peristiwa yang menyebabkan Ferry Maweru alias Pheyy meninggal dunia.
Polresta Manado masih terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi serta mengumpulkan barang bukti guna mengungkap fakta sebenarnya di balik kasus penikaman yang terjadi di kawasan Pasar 45 tersebut.
"Pasti. Kalau terbukti melanggar hukum, tentu akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku," pungkas mantan Kapolsek Malalayang itu.
Kepergian Pheyy (33) meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnyaa
Di mata mantan kekasihnya yang identitasnya disamarkan menjadi Bunga, Pheyy merupakan sosok pekerja keras yang berjuang hidup sebagai perantau di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Pheyy meninggal dunia setelah menjadi korban penikaman di depan Jumbo Pasar Swalayan Sabtu (6/6/2026).
Sebelumnya, pria kelahiran 28 Agustus 1993 itu sempat menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dideritanya.
Bunga mengaku sangat terpukul saat mengetahui kabar meninggalnya Ferry.
Informasi tersebut pertama kali ia peroleh dari siaran langsung yang beredar di media sosial serta kabar dari sejumlah teman korban.
"Saya tahu dari teman-temannya dan dari siaran langsung yang beredar. Saya benar-benar kaget dan tidak menyangka akan terjadi seperti ini," ujarnya kepada wartawan Tribun Manado, Indri Panigoro via WhatsApp, Sabtu sore.
Meski hubungan asmara mereka telah berakhir, Bunga mengaku masih mengenang Ferry sebagai pribadi yang baik hati dan mudah bergaul.
Menurutnya, Pheyy bukan tipe orang yang gemar mencari masalah.
Bahkan, selama mengenal Ferry, ia jarang mendengar korban terlibat konflik serius dengan orang lain.
"Setahu saya, dia tidak pernah cari musuh. Makanya saya tidak terima dengan kejadian seperti ini," katanya.
Bagi Bunga, Ferry adalah sosok perantau yang berjuang dari bawah demi bertahan hidup jauh dari keluarga.
Berasal dari Tataaran, Kabupaten Minahasa, Sulut Ferry memilih merantau ke Manado untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Pada sekitar tahun 2015, Ferry diketahui pernah bekerja sebagai sopir angkutan umum di kawasan Kampus Universitas Negeri Manado (Unima), Tondano.
Saat itu, angkutan umum masih menjadi pilihan utama mahasiswa dan masyarakat sekitar.
Namun, seiring berkembangnya transportasi berbasis aplikasi, jumlah penumpang terus berkurang.
Kondisi tersebut membuat banyak sopir mengalami kesulitan ekonomi, termasuk Ferry.
Meski demikian, Ferry tetap berusaha bertahan.
Ia dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah menyerah dan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Dia orang yang suka mencari teman. Orangnya ramah dan mudah bergaul. Kalau ada teman sesama sopir yang kesulitan memenuhi setoran, kadang dia membantu semampunya," tutur Bunga.
Setelah tidak lagi beroperasi di sekitar Unima, Ferry disebut sempat mengemudikan mikrolet trayek Malalayang.
Belakangan, ia diketahui mencari nafkah sebagai sopir angkutan umum trayek Tuminting-Cempaka 45.
Di lingkungan kerjanya, Ferry dikenal sebagai sosok yang bersahabat.
Penampilannya yang bertato, menurut Bunga, kerap menimbulkan kesan berbeda bagi orang yang baru mengenalnya.
Namun, di balik itu, Ferry adalah pribadi yang peduli terhadap teman-temannya.
"Biarpun bertato, dia orang baik. Dia bukan orang yang suka bikin masalah," ujarnya.
Bunga juga mengenang percakapan terakhirnya dengan Ferry beberapa bulan lalu.
Dalam komunikasi tersebut, Ferry sempat meminta maaf atas berbagai hal yang pernah terjadi di masa lalu.
"Dia sempat bilang kalau dia sudah lelah. Dia juga minta maaf kepada saya," katanya.
Kasat Reskrim Polresta Manado AKP Elwin Kristanto mengatakan korban mengalami luka serius akibat serangan senjata tajam dan segera dilarikan ke rumah sakit oleh warga serta petugas yang berada di lokasi.
“Meski tim medis telah berupaya memberikan penanganan maksimal, kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” tuturnya.
Kata Kasat, kedua terduga pelaku saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Polresta Manado.
Penyelidikan masih mengalami keterangan untuk mengungkap motif dan kronologi lengkap kejadian.
“Kita masih mendalami kasus ini yang pasti para pelaku sudah diamankan,” tandasnya.
Kejadian ini sempat menghebohkan warga dan pengunjung pasar swalayan yang berada di sekitar lokasi.
Pasalnya aksi para pelaku dilakukan di muka umum yang langsung disaksikan para pengunjung pasar. (Tribunmanado.co.id/Ind/Fer)