Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkenalkan kain tenun sakral warisan kebudayaan masyarakat Suku Sasak dalam pameran nasional bertajuk Nusa Wastra di Museum Sonobudoyo Yogyakarta pada 5 Juni hingga 29 Juli 2026.

Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam mengatakan kain osap merupakan tenun sakral dalam tradisi dan sistem kepercayaan masyarakat Sasak untuk penghormatan terhadap leluhur serta ritual kematian.

"Kain osap bukan sekadar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat Sasak," ujar dia dalam pernyataan di Mataram, Minggu.

Nuralam menuturkan kain osap memiliki warna sebagai simbol kekuatan magis, seperti warna dasar putih yang dipadukan dengan warna merah dan biru.

Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan dan kepasrahan atau husnul khotimah, sedangkan warna merah dan biru sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual atau perlindungan.

Ia berharap masyarakat semakin mengenal dan menghargai kekayaan warisan budaya tekstil Indonesia melalui pameran wastra nasional tersebut, terkhusus tenun tradisional Sasak yang menyimpan nilai budaya dan identitas budaya.

Pameran Nusa Wastra menampilkan 85 koleksi wastra dan 22 benda penunjang koleksi mulai dari kain kulit kayu, batik, hingga tenun yang berasal dari 40 partisipan.

Alur cerita pameran terbagi menjadi tujuh subtema pembahasan berupa benang-benang yang berjejalin, wastra dan penanda, dari untaian benang menjadi mahakarya, kain-kain magis, wastra wasesa, wastra bercerita, dan wastra nusantara: warisan untuk masa depan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan peran penting museum sebagai sarana perlindungan dan pelestarian Warisan Budaya Benda (WBB). Apalagi, kain-kain asal Indonesia sudah menjadi bahan pakaian di dunia internasional.

Ia menilai wastra merupakan salah satu industri budaya yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan wisata, motor inovasi terutama fesyen, dan dapat menopang ekonomi bangsa.

"Sejak 2009, salah satu wastra Indonesia, batik, telah diinkripsi UNESCO sebagai intangible cultural heritage of humanity," pungkas Fadli Zon.