Sejarah adalah pengingat bahwa dari sudut kota yang sederhana pun, sebuah gagasan dapat tumbuh dan mengubah nasib bangsa
Surabaya (ANTARA) - Di sebuah sudut Kota Surabaya yang tak selalu ramai dibicarakan, berdiri rumah sederhana yang pernah menjadi titik awal perjalanan seorang anak bernama Koesno Sosrodihardjo.
Dari gang-gang kampung yang berdekatan dengan sungai, dari ruang-ruang belajar yang sederhana, hingga perjumpaannya dengan tokoh-tokoh pergerakan, tumbuh seorang pemuda yang kelak dikenal dunia sebagai Soekarno.
Jejak itu kini kembali dihadirkan melalui pameran "Aku Arek Suroboyo" yang digelar Pemerintah Kota Surabaya dalam rangka Bulan Bung Karno. Pameran yang digelar di Basement Alun-Alun Surabaya pada 6–19 Juni 2026 tersebut bukan sekadar menampilkan foto dan arsip sejarah.
Ia menghadirkan sebuah pertanyaan yang relevan bagi masa kini. Seberapa jauh bangsa ini masih mengenal Soekarno sebagai manusia yang ditempa oleh lingkungan, bukan hanya sebagai sosok yang terpajang dalam buku sejarah?
Di tengah derasnya arus informasi digital, upaya menghadirkan kembali kisah Bung Karno dari Surabaya menjadi penting. Sebab sejarah sering kali berhenti sebagai hafalan tanggal dan peristiwa, padahal di baliknya tersimpan proses panjang pembentukan karakter, pemikiran, dan keberanian yang masih relevan hingga hari ini.

Jejak kota
Bagi banyak orang, nama Soekarno sering dikaitkan dengan Blitar, tempat makamnya berada. Padahal Surabaya memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan hidup sang proklamator.
Di Kota Pahlawan inilah Soekarno dilahirkan pada 6 Juni 1901. Di kota ini pula ia menghabiskan fase penting masa mudanya. Surabaya bukan sekadar latar geografis, melainkan ruang pembentukan gagasan. Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Soekarno muda berinteraksi dengan beragam pemikiran yang kemudian membentuk pandangan kebangsaannya.
Tidak berlebihan jika Surabaya disebut sebagai laboratorium awal bagi lahirnya seorang Soekarno. Kota pelabuhan yang terbuka terhadap berbagai arus budaya dan pemikiran itu mempertemukan nasionalisme, agama, pendidikan, serta dinamika sosial masyarakat kolonial dalam satu ruang yang hidup.
Pameran "Aku Arek Suroboyo" berusaha mengembalikan konteks tersebut. Publik diajak melihat bahwa perjalanan Bung Karno tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan kampung, dari pendidikan, dari bacaan, dan dari interaksi dengan masyarakat.
Pesan ini terasa penting terutama bagi generasi muda yang hidup dalam budaya serba cepat. Kisah Soekarno menunjukkan bahwa pemimpin besar tidak muncul begitu saja. Mereka dibentuk oleh proses belajar yang panjang, rasa ingin tahu yang tinggi, dan keberanian untuk berpikir melampaui zamannya.
Karena itu, ketika pengunjung menyaksikan foto-foto lama, arsip sejarah, atau mengunjungi rumah kelahiran Bung Karno di Peneleh, sesungguhnya yang sedang dilihat bukan sekadar benda-benda masa lalu. Yang sedang dipelajari adalah proses lahirnya sebuah gagasan besar bernama Indonesia.
Ruang ingatan
Di banyak negara, situs sejarah tidak hanya dipelihara sebagai objek wisata, tetapi juga dijadikan ruang pembelajaran publik yang aktif.
Jerman mengelola museum dan situs peninggalan sejarah sebagai sarana refleksi kebangsaan. Jepang menjadikan museum perdamaian sebagai ruang edukasi lintas generasi. Korea Selatan memadukan teknologi digital dengan pelestarian sejarah agar tetap menarik bagi anak muda.
Indonesia memiliki tantangan yang tidak jauh berbeda. Generasi yang lahir setelah era reformasi semakin jauh dari pengalaman langsung mengenai perjuangan kemerdekaan. Akibatnya, sejarah kerap terasa abstrak dan kehilangan kedekatan emosional.
Di sinilah arti penting pendekatan seperti pameran "Aku Arek Suroboyo". Sejarah tidak lagi disampaikan melalui ceramah satu arah, melainkan melalui pengalaman yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan jejak masa lalu.
Langkah Pemerintah Kota Surabaya yang melengkapi pameran dengan peluncuran buku, diskusi publik, sekolah kebangsaan, dan pemutaran film menunjukkan upaya memperluas cara belajar sejarah. Pendekatan ini lebih sesuai dengan karakter generasi saat ini yang cenderung menyukai pengalaman visual dan partisipatif.
Namun tantangan berikutnya adalah keberlanjutan. Pameran yang berlangsung dua pekan tentu memiliki daya tarik, tetapi dampaknya akan lebih besar apabila diikuti dengan digitalisasi arsip, pengembangan tur sejarah berbasis teknologi, serta integrasi situs-situs bersejarah ke dalam kurikulum pendidikan lokal.
Surabaya sebenarnya memiliki modal yang kuat. Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah H.O.S. Tjokroaminoto, Museum Dr. Soetomo, Museum 10 November, hingga kawasan Peneleh merupakan rangkaian narasi sejarah yang saling terhubung. Jika dikelola secara terpadu, kawasan tersebut dapat menjadi pusat pembelajaran kebangsaan yang hidup sepanjang tahun.
Warisan gagasan
Ada kecenderungan untuk mengenang tokoh besar hanya melalui simbol dan seremoni. Padahal yang paling berharga dari seorang Soekarno bukanlah patung, foto, atau nama jalan. Warisan terbesarnya adalah gagasan.
Soekarno tumbuh di tengah keberagaman dan mampu merumuskan persatuan. Ia lahir dari lingkungan sederhana, tetapi memiliki cita-cita besar. Ia belajar dari banyak sumber dan mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi gerakan sosial yang mengubah sejarah.
Pelajaran itu masih relevan di tengah tantangan Indonesia saat ini. Ketika polarisasi mudah muncul di ruang digital, semangat persatuan yang pernah diperjuangkan Soekarno menjadi semakin penting. Ketika anak muda dihadapkan pada ketidakpastian masa depan, kisah perjuangan seorang pemuda dari Peneleh menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memberi dampak bagi bangsa.
Pameran "Aku Arek Suroboyo" bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ia adalah upaya menghubungkan kembali generasi masa kini dengan akar sejarahnya. Sebab bangsa yang kehilangan ingatan akan kesulitan menentukan arah masa depan.
Dari gang-gang Peneleh hingga ruang pamer di Alun-Alun Surabaya, jejak Bung Karno mengingatkan bahwa Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari gagasan, keberanian, dan ketekunan yang tumbuh di tengah masyarakat biasa.
Mungkin itulah pesan paling penting yang perlu dibawa pulang oleh setiap pengunjung. Bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang orang besar. Sejarah adalah pengingat bahwa dari sudut kota yang sederhana pun, sebuah gagasan dapat tumbuh dan mengubah nasib bangsa.





