Pilu 3 Santri di Lombok Tengah Dibakar Senior, Ponpes Sempat Sodori Berkas, Keluarga Bantah Berdamai
Apriantiara Rahmawati Susma June 07, 2026 12:44 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Kasus dugaan kekerasan ekstrem pada santri kembali jadi sorotan.

Seorang santri berinisial SAH (13) bersama dua rekannya di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga menjadi korban pembakaran pada November 2025 lalu.

Ironisnya, aktor utama di balik aksi keji ini diduga kuat merupakan kakak kelas para korban sendiri.

Insiden tragis ini baru menyedot perhatian publik setelah rekaman video yang memperlihatkan kondisi para korban viral di media sosial.

Dalam video yang beredar luas tersebut, para korban tampak menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan sekujur tubuh dipenuhi luka bakar yang memprihatinkan.

SAH mengungkapkan peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika dia bersama beberapa santri lain berada di dalam sebuah ruangan.

Baca juga: Awal Terbongkarnya Dugaan Pembakaran 3 Santri di Lombok oleh Senior, Terjadi Sejak 2025, Satu Tewas

Tiga santri di pondok pesantren di Desa Mantang Lombok Tengah jadi korban pembakaran diduga dilakukan kakak kelas hingga 1 anak tewas.
Kondisi Sahid Al Hudry (13) santri salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah yang mengalami luka bakar.(KOMPAS.COMKARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM)
Tiga santri di pondok pesantren di Desa Mantang Lombok Tengah jadi korban pembakaran diduga dilakukan kakak kelas hingga 1 anak tewas. Kondisi Sahid Al Hudry (13) santri salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah yang mengalami luka bakar.(KOMPAS.COMKARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM) (Kompas.com)

"Kejadian siang, kami disuruh masuk dalam ruangan. Saya di ruangan itu berlima sama yang membakar," ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan pengakuan SAH, aksi pembakaran ini diduga dilakukan oleh satu orang pelaku. 

Ia mengisahkan bagaimana situasi mencekam terjadi ketika dirinya bersama tiga santri lain sempat terjebak di dalam ruangan saat kobaran api dengan cepat mulai membesar.

"Yang membakar satu orang," katanya.

Ia mengaku ruangan tersebut terbakar setelah pelaku diduga sengaja menyalakan api. Dalam kejadian itu, dua orang berhasil keluar, termasuk terduga pelaku.

"Saya terjebak bersama tiga orang di dalam kamar dengan kobaran api. Teman saya satu ada yang meninggal," ujarnya.

Bukan Permainan Santri

SAH juga dengan tegas membantah rumor yang menyebutkan bahwa insiden tragis tersebut dipicu oleh sekadar permainan atau gurauan antar-santri.

"Sengaja membakar. Ada tiga paling parah dalam kejadian itu, mereka berdua berhasil keluar di tengah kobaran api, salah satunya yang membakar," katanya.

Pernyataan SAH tersebut sejalan dengan kesaksian sang bibi, Nurul Hidayah. Ia mengaku pada awalnya, pihak pondok pesantren memberikan penjelasan bahwa insiden memilukan itu terjadi akibat para santri yang sedang bermain.

"Saya diceritakan sama orang pondok, kejadiannya bukan dibakar tapi lagi main-main di luar," ujarnya.

Namun, dua hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit, korban mulai menceritakan kronologi berbeda kepada keluarganya.

"Pas dua hari dirawat di Praya barulah bisa ngomong sejujurnya, bahwa kebakaran ini bukan karena kami bermain-main tapi kita dibakar," kata Nurul menirukan pengakuan anaknya.

Ia juga mengaku anaknya sempat takut mengungkapkan kejadian sebenarnya karena mendapat ancaman.

"Karena dalam posisi pasca pembakaran itu, anak saya ini takut ditanya. Karena kalau dia membenarkan yang sebenarnya, dia diancam orang tuanya harus membayar denda Rp7 juta," ujarnya.

Nurul menuturkan korban mengalami luka bakar di sejumlah bagian tubuh dan harus menjalani perawatan selama sekitar 18 hari.

"Sampai di Puskesmas Pancor Dao, dia sudah mengalami luka di sekujur tubuhnya. Anak saya ini masih bisa saya pegang untuk nyandar di badan saya. Yang dua lainnya itu lebih parah, badannya habis kena luka bakar," katanya.

Berdasarkan cerita korban dan rekan-rekannya, peristiwa itu diduga berawal ketika sejumlah santri diajak masuk ke sebuah ruangan yang disebut sebagai bekas kamar ustaz.

"Cerita si anak-anak ini pelaku menuangkan bensin di plastik, ada juga satu botol bensin di kamar ustaz itu," ujar Nurul.

Ia menambahkan, setelah api menyala, dua orang berhasil keluar ruangan, sementara anaknya bersama korban lain terjebak di dalam.

"Korban tidak bisa menyelamatkan diri keluar pintu karena saat dua orang itu keluar pintu tertutup dengan erat," katanya.

Menurut Nurul, sebelum insiden kebakaran terjadi, anaknya sempat melaporkan dugaan perundungan yang dilakukan terduga pelaku kepada pengurus pondok.

"Sebelum kejadian, dia cerita bahwa pelaku sempat menelanjangi temannya. Akhirnya korban melapor ke ketua pondok dan akhirnya pelaku ditempeleng serta diberi peringatan," ujarnya.

Nurul mengungkapkan, bahwa terduga pelaku sempat mengancam anaknya dan santri lain karena kesal dilaporkan ke ketua pondok.

Ia menduga peristiwa pembakaran terjadi beberapa hari setelah laporan tersebut disampaikan.

"Selang tiga hari anak bercerita itu, nah baru kejadian pembakaran ini," katanya.

Bantah Berdamai

Kejanggalan demi kejanggalan membuat pihak keluarga SAH kini mulai mempertanyakan keabsahan surat perjanjian perdamaian yang diklaim telah diterbitkan oleh pihak pondok pesantren.

Pihak keluarga menaruh curiga bahwa dokumen tersebut merupakan upaya terselubung untuk menyelesaikan kasus ini secara internal demi menghindari jalur hukum.

Bahkan, mereka melayangkan tudingan serius: tanda tangan wali murid yang tertera dalam surat itu tidak pernah diberikan secara sadar untuk tujuan berdamai.

“Dia bilang untuk wali murid tapi nyatanya kan ada terbit surat perjanjian perdamaian yang ditandatangani, kami pastikan 100 persen itu dipalsukan,” kata ibu korban, Nurul, saat ditemui, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Nurul, pihak pondok pesantren sempat mendatangi rumah korban pada Maret 2026 atau setelah Hari Raya Idulfitri dan meminta keluarga menandatangani sejumlah dokumen.

Namun, kata dia, saat itu keluarga tidak pernah diberi penjelasan bahwa dokumen yang ditandatangani merupakan surat perdamaian terkait kasus yang dialami anaknya.

“Ini salahnya mungkin dari kami karena mungkin juga kami tidak teliti. Kami hanya disuruh untuk menandatangani berkas, namun itu bahasanya untuk keperluan lain, bukan surat damai,” tegasnya.

Nurul mengaku keluarganya baru mengetahui keberadaan surat perdamaian tersebut setelah pihak pondok pesantren memberikan klarifikasi kepada publik menyusul viralnya kasus dugaan pembakaran tersebut di media sosial.

“Kami awalnya ndak tau ada surat itu (surat perdamaian), tapi kami di keluarga taunya setelah ada klarifikasi dari abah (tuan guru) setelah viralnya kasus ini,” ungkapnya.

Keluarga juga mengaku kecewa karena sejak awal persoalan tersebut dinilai lebih diarahkan untuk diselesaikan secara internal tanpa melibatkan aparat penegak hukum.

Hingga saat ini, keluarga korban menyatakan masih berupaya mencari kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang dialami anak mereka, sembari fokus pada proses pemulihan korban yang mengalami luka bakar cukup serius.

Pengakuan Ponpes

Di sisi lain, Ketua Pondok Pesantren Rusydah, Sengkol 2, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, H. Ahmad Nuzakki Rahmatullah, menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin perdamaian dengan keluarga korban.

“Sudah ada perdamaian kami dengan pihak keluarga korban, dan sampai sekarang hubungan saya dengan mereka sampai detik ini baik,” katanya.

Meski keluarga korban telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Lombok Tengah, Ahmad Nuzakki menegaskan pihaknya menghormati langkah hukum yang ditempuh.

“Kalau memang mereka melapor ya silakan saja itu kan hak masing-masing, kita ikuti saja prosesnya. Harapan saya, jangan sampai hal yang kita anggap salah akan membuat yang lain menjadi salah semua. Mari kita bermusyawarah,” pungkasnya.

Saat ini, laporan dugaan pembakaran tersebut telah masuk ke Polres Lombok Tengah dan masih dalam proses penanganan lebih lanjut oleh kepolisian.

(TribunStyle.com/Tribunnews.com/Tribun Lombok)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.