Kesan Pelatih PSIM Yogyakarta di Musim Pertama: Tandang Berhari-hari hingga Laga Tanpa Penonton 
Muhammad Fatoni June 07, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel, mengaku menikmati musim perdananya bersama Laskar Mataram di kompetisi BRI Super League 2025/26. 

Meski demikian, pelatih asal Belanda itu menyoroti sejumlah pengalaman baru yang ia temui selama berkarier di Indonesia, mulai dari perjalanan tandang yang memakan waktu berhari-hari hingga pertandingan yang digelar tanpa kehadiran penonton.

Musim 2025/26 menjadi tahun pertama Van Gastel merasakan atmosfer sepak bola Indonesia.

Ia mengaku harus beradaptasi dengan berbagai hal yang belum pernah ditemuinya selama berkarier di Eropa.

“Saya sangat menikmati tahun pertama saya di sini. Banyak sekali perjalanan yang harus dilalui, sehingga saya harus beradaptasi dengan hal tersebut,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).

Pengalaman Laga Tandang

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah panjangnya durasi perjalanan saat menjalani laga tandang. 

Menurut Van Gastel, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

“Terkadang, kami harus menjalani laga tandang selama empat hari. Hal itu merupakan sesuatu yang baru bagi saya,” imbuhnya.

Terkesan Atmosfer Kompetitif

Di sisi lain, Van Gastel mengaku terkesan dengan atmosfer kompetisi Indonesia yang menurutnya sangat kompetitif. 

Fanatisme suporter di berbagai stadion menjadi salah satu hal yang paling ia nikmati selama musim ini.

“Saya pikir liga ini sangat kompetitif, dan saya sangat menikmati pertandingan, khususnya saat dihadiri oleh para suporter. Contohnya pada pertandingan kandang terakhir musim ini, kami dapat mengakhiri musim secara positif dengan kemenangan di kandang,” katanya.

Ia juga menyoroti beberapa pertandingan besar yang dihadiri puluhan ribu penonton, seperti saat bermain di Jakarta dan Bandung.

“Pertandingan di Jakarta dan di Bandung yang dihadiri banyak penonton, menurut saya, itulah esensi dari sepak bola, bermain untuk suporter yang datang dalam jumlah besar,” ucapnya.

Namun, Van Gastel menyayangkan masih adanya sejumlah pertandingan yang digelar tanpa penonton. 

Menurutnya, kehadiran suporter merupakan bagian penting dalam sepak bola.

“Namun sayangnya, di liga ini banyak pertandingan yang dimainkan tanpa penonton. Saya pikir hal itu sangat disayangkan karena, seperti yang saya katakan, kami bermain untuk suporter,” jelas Van Gastel.

Baca juga: PSIM Yogyakarta Perpanjang Kontrak Cahya Supriadi Dua Musim, Jadi Bagian Proyek Jangka Panjang 

Belajar Budaya Baru

Tak hanya mendapatkan pengalaman baru di lapangan, Van Gastel juga merasakan hal serupa dalam kehidupan pribadinya. 

Selama tinggal di Yogyakarta, ia mengaku banyak belajar mengenai budaya baru dan bertemu dengan banyak orang yang memberinya pengalaman berharga.

“Secara keseluruhan, saya sangat senang bisa datang ke sini karena ini memberikan warna baru dalam hidup saya, tidak hanya dari segi sepak bola, tetapi juga kehidupan pribadi,” tuturnya.

“Saya bertemu dengan orang-orang baru dan tinggal di dalam budaya yang berbeda. Bagi saya, ini adalah sebuah kekayaan,” ulasnya.

Merasa Nyaman

Kesannya yang positif terhadap Yogyakarta dan PSIM menjadi salah satu alasan dirinya memilih bertahan bersama Laskar Mataram. 

Selain merasa nyaman bersama keluarga, Van Gastel juga melihat komitmen kuat manajemen untuk membangun klub secara berkelanjutan.

“Saya melihat klub ini stabil, dan pihak manajemen serta pemilik klub sangat bersedia menjadikan klub ini benar-benar stabil, sehingga mereka dapat tumbuh tahap demi tahap. Salah satu tugas saya di sini adalah membantu mereka secara bertahap dalam memperbaiki semua aspek struktur organisasi,” urainya.

“Saya dan keluarga saya sangat menyukai tempat ini. Oleh karena itu, saya sangat senang untuk bertahan,” katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.