TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke dua fasilitas radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm, Sabtu (6/6/2026).
Serangan itu dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh empat drone Iran yang disebut mengancam lalu lintas kapal internasional di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Aksi saling serang tersebut memicu tuduhan pelanggaran gencatan senjata dari Teheran dan memperbesar risiko pecahnya eskalasi baru di Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik krusial perdagangan minyak global.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh empat drone serang satu arah milik Iran yang terbang menuju kawasan strategis tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui platform X, CENTCOM menyebut drone-drone itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim internasional di salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia.
"Beberapa saat yang lalu, pasukan CENTCOM menembak jatuh empat pesawat nirawak serang satu arah Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz. Pesawat nirawak tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," demikian pernyataan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui platform X.
Sebagai respons, militer AS menyerang dua lokasi radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.
CENTCOM menegaskan tindakan tersebut merupakan langkah pertahanan diri untuk mencegah serangan lanjutan yang dapat mengganggu keamanan kawasan dan kebebasan navigasi di Teluk.
Washington juga menyatakan siap merespons setiap ancaman yang dianggap membahayakan personel maupun kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Baca juga: CENTCOM Rilis Foto F-16 AS Patroli di Timur Tengah, Belum Ada Kemajuan Soal Perundingan Iran
CNN melaporkan bentrokan terbaru ini menjadi ujian paling serius bagi gencatan senjata yang selama beberapa bulan terakhir berusaha dipertahankan oleh Washington dan Teheran.
Selain menembak jatuh drone Iran di sekitar Selat Hormuz, pasukan AS mengaku berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang diluncurkan menuju negara-negara Teluk.
Komando Pusat AS menyatakan tidak ada personel Amerika yang menjadi korban dalam rangkaian insiden tersebut.
Di sisi lain, Iran mengonfirmasi telah melancarkan operasi militer yang menargetkan fasilitas dan pangkalan AS di kawasan sebagai respons atas apa yang disebut sebagai tindakan permusuhan Washington.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata masih berlaku secara resmi, ketegangan militer antara kedua negara belum benar-benar mereda.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan operasi militer terbaru dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pemerintah Iran menilai serangan terhadap radar pengawasan pantai di wilayahnya merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan respons militer Teheran dilakukan secara "waspada, tegas, dan proporsional".
Teheran juga menuding Washington sengaja meningkatkan ketegangan ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih berlangsung.
Menurut Iran, tindakan militer terbaru AS berisiko menggagalkan peluang tercapainya penyelesaian politik yang lebih permanen.
Baca juga: 100 Hari Perang Iran: Trump Gagal Jual Narasi Kemenangan, Justru Jadi Boomerang Politik
Dampak eskalasi terbaru turut dirasakan negara-negara Teluk yang berada di sekitar jalur konflik.
Kementerian Pertahanan Kuwait mengumumkan pihaknya mendeteksi dan mencegat tujuh rudal balistik yang memasuki wilayah udara negara tersebut pada Sabtu dini hari.
Sementara itu, Bahrain menyatakan berhasil menghancurkan tiga rudal dan sejumlah drone yang diluncurkan dari arah Iran.
Kedua negara memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar akibat insiden tersebut.
Meski demikian, Kuwait dan Bahrain mengecam keras aksi yang dinilai mengancam keamanan kawasan dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.
Reuters melaporkan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir turut menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Ketiga negara mengutuk serangan yang menyasar negara-negara Teluk dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri.
Mereka menilai aksi saling serang yang kembali terjadi berpotensi memperluas konflik regional di tengah belum tercapainya penyelesaian diplomatik antara Washington dan Teheran.
Kekhawatiran juga muncul terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi global apabila situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk.
Sebagai jalur yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk, setiap gangguan di Hormuz berpotensi memicu gejolak pasar energi dunia.
Baca juga: Baku Tembak Berlanjut, AS Hancurkan Dua Drone Iran di Selat Hormuz
Konfrontasi terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata masih berlaku di atas kertas, risiko pecahnya eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah masih jauh dari berakhir.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)