OJK Sebut Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga Meski Tekanan Global Meningkat
Rendy Nicko June 07, 2026 02:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global sepanjang Mei 2026. Kondisi tersebut ditopang oleh kinerja intermediasi yang masih tumbuh positif serta tingkat solvabilitas lembaga keuangan yang tetap kuat. 

Dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar akhir Mei 2026 lalu, lembaga tersebut menilai gejolak ekonomi dunia masih dipengaruhi oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada tingginya harga energi dan tekanan inflasi global. 

Situasi tersebut memicu ekspektasi suku bunga global bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama sehingga meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional dan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Meski demikian, OJK melihat perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan. Aktivitas manufaktur kembali berada pada zona ekspansif, sementara inflasi yang meningkat akibat tekanan harga energi global masih berada pada level yang terkendali. Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus meski mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. 

Baca juga: Jemaah Haji Trenggalek Meninggal Lagi, Ternyata Punya Riwayat Penyakit Jantung

"Kinerja sektor jasa keuangan tetap solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif dengan solvabilitas yang terjaga pada level tinggi," Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan tertulis, Minggu (7/6/2026).

Dari sektor perbankan, penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit investasi yang mencapai 19,48 persen, disusul kredit konsumsi sebesar 6,13 persen dan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen. 

Kredit korporasi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kenaikan 15,51 persen secara tahunan. Sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif sebesar 0,16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan giro, deposito, dan tabungan yang tetap menunjukkan tren positif. 

OJK juga mencatat kualitas kredit perbankan masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,17 persen, sedangkan NPL net tercatat 0,84 persen. Di saat yang sama, permodalan perbankan tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 23,97 persen. 

Ketua Dewan Komisioner OJK melalui laporan RDKB menegaskan bahwa ketahanan modal yang kuat menjadi bantalan penting dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi global yang masih berlanjut. 

"Ketahanan permodalan perbankan yang kuat menjadi buffer mitigasi risiko yang memadai," terangnya.

Baca juga: PG Ngadiredjo Jadi Sorotan, Ketua Komisi VI DPR RI Apresiasi Kinerja dan Produktivitas

Selain sektor perbankan, industri asuransi juga menunjukkan kinerja yang relatif baik. Total aset industri asuransi pada April 2026 mencapai Rp1.202,16 triliun atau meningkat 3,39 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara aset dana pensiun tumbuh 6,12 persen menjadi Rp1.690,64 triliun. 

OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan melalui berbagai kebijakan pengawasan dan penguatan industri guna memastikan sektor keuangan tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. 

(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.