Ramai Investor Minggat dari Indonesia, Menkeu Purbaya Ungkap Faktor Sebenarnya, Gegara MBG?
Tommy Kurniawan June 07, 2026 03:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di tengah pelemahan rupiah, anjloknya pasar saham, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut bukanlah sumber utama kekhawatiran lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Menurut Purbaya, lembaga pemeringkat global justru lebih menyoroti sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan serta menurunnya kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.

S&P Tidak Persoalkan Program MBG

Purbaya mengungkapkan hal itu setelah melakukan pertemuan dengan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings.

Ia mengatakan pembahasan mengenai MBG tidak menjadi isu utama dalam pertemuan tersebut.

Baca juga: Jejak Berdarah di Tol Pekanbaru-Dumai 465 Kecelakaan, 5 Warga Kerinci Meninggal

Baca juga: Dugaan Korupsi Program MBG, Akademisi Fisipol Unja Sebut Perlu Dilihat dari Perspektif Luas

Sebaliknya, perhatian lebih banyak tertuju pada kondisi pasar keuangan yang sedang mengalami tekanan.

"Waktu saya bertemu S&P terakhir, mereka tidak mempermasalahkan program itu. Yang mereka soroti justru sentimen negatif yang berkembang di pasar dan dampaknya terhadap persepsi investor," kata Purbaya dalam konferensi pers di Kompleks DPR/MPR RI, Sabtu (6/6/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus membantah anggapan yang berkembang bahwa program MBG menjadi penyebab memburuknya kondisi APBN maupun meningkatnya risiko fiskal Indonesia.

IHSG Anjlok dan Dana Asing Keluar Jadi Perhatian

Purbaya mengakui tantangan terbesar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini berasal dari tekanan di sektor pasar keuangan.

Dalam satu tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami koreksi sekitar 20 persen.

Bahkan jika dibandingkan dengan posisi tertinggi sebelumnya, penurunan indeks mencapai sekitar 38 persen.

Menurutnya, koreksi tersebut tergolong dalam dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia.

Selain itu, arus modal asing juga menunjukkan tren negatif.

Data pemerintah mencatat investor asing telah menarik dana sekitar Rp78 triliun dari pasar keuangan domestik dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau oleh lembaga pemeringkat internasional.

Keputusan MSCI Perkuat Kekhawatiran Investor

Tekanan terhadap pasar Indonesia semakin meningkat setelah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Februari 2026 yang memberlakukan interim freeze terhadap Indonesia.

Kebijakan tersebut memicu perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan aspek transparansi serta tata kelola pasar modal nasional.

Selain MSCI, sejumlah lembaga pemeringkat dunia seperti Moody's, Fitch Ratings, dan S&P juga terus memonitor perkembangan ekonomi Indonesia, terutama terkait stabilitas fiskal dan kondisi sektor keuangan.

Konflik Timur Tengah Ikut Tekan Ekonomi

Purbaya menilai tekanan terhadap ekonomi Indonesia tidak hanya berasal dari faktor domestik.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, turut meningkatkan risiko ekonomi global.

Salah satu dampaknya adalah kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memperbesar beban subsidi dan belanja negara.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang telah melemah sekitar 8 persen sejak awal tahun juga menjadi perhatian investor internasional.

Pelemahan tersebut dinilai meningkatkan persepsi risiko terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

MBG Bisa Disesuaikan Sesuai Kondisi Fiskal

Meski kerap dikritik karena membutuhkan anggaran besar, Purbaya menegaskan program MBG tidak bersifat kaku.

Pemerintah memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian apabila kondisi fiskal mengharuskan adanya efisiensi.

Menurutnya, fleksibilitas inilah yang selama ini dijelaskan kepada lembaga pemeringkat internasional.

"MBG itu program yang fleksibel. Presiden juga sangat fleksibel. Ketika diperlukan efisiensi, maka efisiensi bisa dilakukan," ujarnya.

Ia menambahkan berbagai penyesuaian dalam implementasi MBG telah dilakukan pemerintah agar program tersebut tetap berjalan efektif tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap APBN.

Defisit APBN Diyakini Tetap Aman

Purbaya optimistis program-program prioritas pemerintah, termasuk MBG, tetap dapat dijalankan tanpa mengganggu disiplin fiskal.

Pemerintah, kata dia, masih mampu menjaga defisit anggaran pada kisaran 2 hingga 3 persen sesuai target yang telah ditetapkan.

"Program-program prioritas tidak menjadi persoalan karena kami bisa meyakinkan bahwa defisit APBN tetap dapat dijaga pada level yang aman," tegasnya.

Menurut Purbaya, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai skenario antisipasi untuk menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dunia.

Pemerintah Minta Investor Tidak Khawatir

Di akhir keterangannya, Purbaya mengajak pelaku pasar dan investor untuk tidak berlebihan dalam menilai kondisi fiskal Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memastikan program prioritas nasional tetap berjalan.

"Kami sudah menjelaskan bahwa berbagai program pemerintah bisa disesuaikan apabila diperlukan. Jadi tidak perlu khawatir terhadap kondisi fiskal Indonesia," pungkasnya.

Pemerintah pun tetap meyakini bahwa APBN masih berada dalam kondisi yang sehat dan mampu menghadapi tekanan ekonomi global maupun domestik yang terjadi saat ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.