Bongkar Fenomena LGBT di Mataram, Dr Rosalina Lakukan Observasi Mendalam Selama Dua Tahun
Laelatunniam June 07, 2026 04:20 PM

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Fenomena Lesbian, Gay, Biskesual, dan Transgender (LGBT) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), belakangan ini tengah ramai diperbincangkan di media sosial.

Hal ini mencuat setelah rilisnya hasil penelitian mendalam yang dilakukan oleh akademisi sekaligus peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Rosalina Utamy.

Dalam Podcast Tribunmbok yang tayang Jumat (5/6/2026) Dr. Rosalina Utamy mengungkapkan bahwa motivasi utamanya mengangkat riset ini didasari oleh latar belakang pendidikannya di bidang kesehatan masyarakat.

Ia ingin memberikan kontribusi positif terhadap penanganan isu kesehatan di Ibu Kota Provinsi NTB tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB secara kumulatif dari tahun 2001 hingga 2025, tercatat ada sebanyak 2.492 kasus HIV/AIDS di NTB. Dari total angka tersebut, mayoritas penyumbang kasus terbesar berasal dari kelompok LSL (Lelaki Seks Lelaki).

Kondisi yang sejajar juga ditemukan pada level daerah. Data dari Dinas Kesehatan Kota Mataram mencatat ada 429 kasus HIV/AIDS dalam kurun waktu 2001 hingga 2025.

"Sekitar 50 sampai 60 persen dari kasus HIV/AIDS di Kota Mataram itu disebabkan oleh LSL tadi. Sehingga itu yang menjadi masalah yang kita angkat," ujar Dr. Rosa.

Fenomena ini dinilai Rosa menjadi kontradiksi sekaligus tantangan besar, mengingat Pulau Lombok memegang identitas kuat sebagai Pulau Seribu Masjid dengan kehidupan sosial keagamaan masyarakat yang sangat kental. Namun, isu ini jarang didiskusikan secara terbuka karena masih dianggap tabu dan sensitif.

Rosa menegaskan bahwa komunitas LGBT di Kota Mataram nyata adanya, meski bergerak secara informal dan tidak mencuat ke permukaan secara formal. Dalam menyusun risetnya, Rosa melakukan pendekatan dan wawancara melalui komunitas pendamping yang bergerak di bidang edukasi kesehatan masyarakat, khususnya dalam penyuluhan dan pencegahan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Komunitas ini mendampingi teman-teman LGBT yang sudah terbuka (open up) terkait identitasnya untuk mempermudah akses layanan kesehatan.

"Keterbukaan identitas mereka mempermudah kami untuk mengakses data, menjangkau, serta memberikan edukasi kesehatan agar mereka bisa menerima informasi tersebut dengan baik," jelasnya.

Meskipun beberapa orang sudah mulai terbuka dengan orientasi seksualnya kepada lembaga pendamping, Rosa mengakui masih banyak juga yang menutup diri. Ia menambahkan bahwa proses pendekatan dan kajian terhadap kelompok ini memiliki kerumitan tersendiri di lapangan.

Rosa memaparkan bahwa riset terhadap kelompok ini memiliki kerumitan tersendiri dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. 

Mengingat komunitas LGBT cenderung tertutup dan sangat sensitif terhadap kehadiran orang baru, Rosa menggandeng penjangkau lapangan (field officer) dari komunitas SALUD sebagai perantara untuk memecah dinding pembatas.

"Komunitas ini kan agak sedikit sensitif, jadi tidak akan mudah menerima orang baru masuk ke dalam lingkungan mereka. Kami butuh perantara di situ untuk bisa masuk. Saya menggandeng mereka untuk bertemu, melihat bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, kebiasaan mereka, baik di siang hari maupun di malam hari," urai Rosa.

Menurutnya, mengkaji sebuah fenomena sosial tidak dapat dilakukan hanya dengan sekali melihat atau sekali bertemu. Peneliti harus melakukan observasi mendalam secara terus-menerus dan berinteraksi langsung agar tidak ada jarak (gap) relasi antara peneliti dengan informan. Langkah ini krusial demi mendapatkan informasi yang valid.

Ketika dikonfirmasi mengenai durasi penelitian, akademisi UIN Mataram ini mengungkapkan bahwa kajian intensif tersebut telah memakan waktu yang tidak sebentar.

"Sebenarnya kajian ini sudah berlangsung cukup lama. Dua tahun pendidikan terakhir saya mendalami kasus ini,"terangnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.