TRIBUNNEWS.COM - Menjelang Piala Dunia 2026, sebuah pertanyaan kembali menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola: apakah Timnas Portugal tampil lebih baik tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo?
Pertanyaan itu bukan sekadar spekulasi. Pada usia 41 tahun, Ronaldo bersiap mengikuti Piala Dunia keenam sepanjang kariernya — sebuah pencapaian langka yang menegaskan statusnya sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.
Namun, seiring bertambahnya usia sang kapten, diskusi mengenai perannya di skuad Selecao das Quinas semakin mengemuka.
Ronaldo masih mampu mencetak gol dan menjadi sosok penting di ruang ganti. Namun di sisi lain, banyak yang berpendapat bahwa generasi pemain Portugal saat ini cukup matang untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada CR7.
Sejak debutnya bersama Timnas Portugal pada 20 Agustus 2003 melawan Kazakhstan, Ronaldo telah mengubah wajah sepak bola negaranya.
Ia bukan hanya menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Portugal, tetapi juga membawa negaranya meraih berbagai pencapaian bersejarah di pentas internasional.
Dengan torehan 143 gol internasional, Ronaldo menjelma menjadi simbol kebangkitan sepak bola Portugal di level dunia.
Joao Aroso, yang pernah bekerja dengan Ronaldo di Sporting CP dan Timnas Portugal, menilai dampak sang megabintang jauh melampaui sekadar kontribusi di lapangan.
“Kami adalah negara kecil yang jarang memberi dampak global di luar sepak bola. Cristiano membuat negara kami dikenal karena hal-hal hebat,” ujarnya, dikutip dari BBC, Minggu (7/6/2026).
Banyak yang menilai Ronaldo sebagai sosok yang mengubah mentalitas sepak bola Portugal — dari tim peserta menjadi tim penantang gelar di turnamen besar dunia.
Meski begitu, tidak semua pihak sepakat bahwa Ronaldo masih layak menjadi pilihan utama di usia senjanya.
Mantan pemain Portugal yang membantu negaranya finis di posisi ketiga Piala Dunia 1966, Antonio Simoes, menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap sang kapten.
Menurut Simoes, Ronaldo terlalu mengejar pencapaian pribadi dibandingkan fokus pada kepentingan tim.
“Dia tidak bermain untuk menang, dia bermain untuk menjadi tokoh utama. Ini berbeda dengan Eusebio,” ujar Simoes.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan sejumlah pengamat yang menilai Portugal terkadang terlalu bergantung pada Ronaldo, sehingga menghambat perkembangan permainan kolektif mereka.
Perdebatan semakin panas karena beberapa kemenangan besar Portugal justru terjadi ketika Ronaldo absen.
Di bawah asuhan Roberto Martinez, Portugal sempat membantai Luksemburg 9-0 pada September 2023 saat Ronaldo cedera. Mereka juga menang 9-1 atas Armenia tanpa kehadiran sang kapten.
Dalam laga uji coba melawan Chile pada Minggu (7/6/2026) dini hari, Portugal baru bisa mencetak gol setelah Ronaldo ditarik keluar di jeda babak pertama.
Hasil-hasil tersebut memperkuat argumen bahwa Portugal tampil lebih dinamis, cepat, dan fleksibel ketika tidak bertumpu pada satu pemain.
Pundit CNN Portugal, Sofia Oliveira, bahkan menyatakan bahwa Ronaldo sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menjadi starter tetap di tim yang berambisi menjuarai Piala Dunia.
“Dia sudah tidak memiliki kapasitas sepak bola yang cukup untuk menjadi starter di tim yang ingin juara Piala Dunia,” ujarnya.
Namun demikian, Oliveira juga mengakui bahwa Portugal belum sepenuhnya siap untuk beralih ke era tanpa Ronaldo.
Di tengah gelombang kritik, pelatih Roberto Martinez tetap menunjukkan dukungan penuh terhadap kaptennya tersebut.
Martinez menegaskan bahwa kehadiran Ronaldo di tim bukan karena status legendarisnya, melainkan karena kontribusi nyatanya yang masih terlihat di lapangan.
Ia bahkan menyebut perdebatan tentang Ronaldo hanya sebagai “pembicaraan ringan” yang tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya.
Data juga memperkuat pandangan Martinez. Ronaldo masih mampu mencetak 25 gol dalam 31 pertandingan terakhir bersama Timnas Portugal.
“Kita sedang membicarakan salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Dia (Ronaldo) ada di sini karena masih bermain di level tinggi, bukan karena prestasi masa lalu,” tegas Martinez.
Piala Dunia 2026 diyakini akan menjadi panggung terakhir Ronaldo bersama Portugal.
Menarik untuk disimak apakah sang megabintang mampu membawa Selecao melangkah jauh, atau bahkan mengantarkan negaranya meraih gelar juara dunia pertama dalam sejarah.
Terlepas dari kontroversi di lapangan, kehadiran Ronaldo tetap menjadi magnet tersendiri. CR7 masih menjadi figur sentral yang memberikan pengaruh besar, baik di dalam tim maupun di luar lapangan.
Nama Ronaldo tetap menjadi daya tarik utama, terlihat dari meningkatnya penjualan jersey di berbagai toko olahraga, termasuk di Semarang.
Pemilik Cybersoccer Store Ungaran, Fandi, mengungkapkan bahwa minat pembeli terhadap jersey Portugal melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
“Antusiasme sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Banyak pelanggan memilih membeli sekarang karena khawatir harga akan naik ketika turnamen dimulai,” kata Fandi, dikutip dari Tribun Jateng.
Ia menambahkan, jersey dari tim-tim favorit tetap menjadi pilihan utama pembeli. Portugal, Argentina, dan Jerman tercatat sebagai tiga tim dengan permintaan tertinggi menjelang Piala Dunia 2026.
“Argentina jelas karena Messi kemungkinan menjadikan ini Piala Dunia terakhirnya, jadi banyak yang membeli untuk kenang-kenangan. Portugal juga karena Ronaldo. Sedangkan Jerman selalu punya banyak penggemar dan tetap menjadi salah satu tim favorit,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama) (TribunJateng/Rival Al Manaf)