Menurut laporan NNA, dua korban tewas dan 11 orang luka-luka terjadi dalam serangan yang menghantam kawasan selatan ibu kota. Serangan tersebut disebut menargetkan dua apartemen hunian di dua bangunan di kawasan Hawta al-Ghadir, memicu kepanikan warga dan kerusakan parah.
Seorang reporter Anadolu melaporkan, jet tempur Israel membombardir kawasan Dahiyeh tanpa peringatan sebelumnya. Asap hitam tebal terlihat membubung dari lokasi serangan, menandai eskalasi serius di tengah situasi yang sebelumnya relatif tenang.
Melalui unggahan di platform X, juru bicara militer Israel Avichay Adraee mengklaim serangan tersebut menargetkan infrastruktur milik Hizbullah.
Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel menegaskan serangan dilakukan sebagai balasan atas tembakan roket Hizbullah ke wilayah Israel utara pada Minggu pagi.
Baca juga: Trump Akui “Gelisah”, Soroti Netanyahu yang Terus Berperang dengan Lebanon
Penyiar publik Israel, KAN, melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu Amerika Serikat sebelum serangan udara dilancarkan.
Serangan ini menjadi yang pertama di ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata diperpanjang pada 3 Juni, menyusul pembicaraan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon di Washington. Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich secara terbuka mendesak militer untuk menyerang kawasan Dahiyeh.
Tak hanya Beirut, serangan udara terpisah di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, menewaskan enam orang dan melukai dua lainnya, memperpanjang daftar korban.
Sejak 2 Maret, Israel terus melancarkan serangan udara di Lebanon, dengan lebih dari 3.600 orang tewas dan lebih dari 11.000 luka-luka, menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, meski upaya gencatan senjata masih terus digulirkan.(*)