Piala Dunia 2026 Tak Seramai Edisi Sebelumnya, Dosen Sosiologi UMM Ungkap Sebabnya
Luky Setiyawan June 08, 2026 01:53 AM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM - Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, gaung turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dinilai tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya.

Dulunya, menjelang Piala Dunia bergulir banyak perkampungan yang mulai bersolek diri dalam menyambut event Akbar sepak bola itu.

Mulai dari menghiasi kampung dengan berbagai negara kontestan Piala Dunia, hingga menjadi obrolan hangat setiap hari di pojok kampung atau warung kopi.

Namun, antusiasme tersebut kini terasa biasa-biasa saja. Seperti yang terasa di Malang, sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari M.Si, menilai perubahan tersebut erat kaitannya dengan transformasi sosial akibat perkembangan teknologi digital yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan.

Menurut Luluk, masyarakat saat ini hidup dalam era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi semakin instan dan terfragmentasi.

Baca juga: Favoritkan Brasil di Piala Dunia 2026, Pelatih Arema FC: Kalau Indonesia Lolos, Saya Dukung

"Kalau dulu menonton sepak bola menjadi aktivitas kolektif. Orang rela begadang bersama keluarga atau teman-teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang yang penting tahu hasil akhirnya saja," katanya kepada Surya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, generasi muda saat ini cenderung tidak lagi menikmati proses pertandingan secara utuh.

"Orang sekarang mencari yang praktis. Daripada menonton pertandingan selama 90 menit lebih, mereka cukup melihat skor akhir atau cuplikan pertandingan. Pola konsumsi informasi sudah berubah," ucapnya.

Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hadirnya berbagai pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda, seperti bermain gim, media sosial, hingga aktivitas nongkrong bersama teman.

Selain faktor teknologi, Luluk menilai perbedaan zona waktu juga menjadi penyebab berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Baca juga: Demi Kawal Cristiano Ronaldo dan Portugal di Piala Dunia 2026, Bek Persebaya Siap Nonton Langsung

Sebagian besar pertandingan diperkirakan berlangsung pada dini hari waktu Indonesia, sehingga berbenturan dengan kebutuhan istirahat masyarakat yang memiliki ritme kerja semakin padat.

"Tuntutan kerja sekarang tinggi. Banyak orang memilih tidur dan menjaga kondisi tubuh untuk bekerja keesokan harinya daripada begadang menonton pertandingan," jelasnya.

Di sisi lain, Luluk melihat adanya faktor psikologis berupa kekecewaan kolektif terhadap prestasi sepak bola nasional.

Menurutnya, minimnya pencapaian Indonesia di level dunia membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia.

Seperti langkah Timnas Indonesia yang harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Padahal, saat itu, publik sangat berharap Jay Idzes dan kawan-kawan bisa menembus Piala Dunia 2026.

Baca juga: 4 Calon Pemain Anyar Persib Bandung Musim Depan, 1 dari Negara Peserta Piala Dunia

"Mungkin ada semacam rasa kecewa karena tim nasional kita belum pernah sampai ke level itu. Akhirnya masyarakat merasa cukup mengikuti kompetisi yang lebih dekat dengan mereka, seperti liga lokal atau sepak bola Asia Tenggara," ungkapnya.

Luluk juga menyoroti kondisi ekonomi yang turut memengaruhi antusiasme masyarakat. 

Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan mengikuti ajang olahraga internasional.

"Kenaikan dolar dan tuntutan ekonomi juga berpengaruh. Orang sekarang lebih fokus pada kebutuhan hidup dibandingkan mengikuti euforia olahraga internasional," katanya.

Tak hanya itu, faktor geopolitik dinilai ikut memengaruhi minat publik. 

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, yang kerap menjadi sorotan dalam isu politik global, disebut dapat memunculkan sikap apatis dari sebagian kelompok masyarakat.

Baca juga: Buat Italia Tak Lolos Piala Dunia, Pemain Muda Bosnia Jadi Incaran AC Milan Hingga AS Roma

"Ada sebagian masyarakat yang melihat konteks geopolitik dan isu kemanusiaan. Itu juga bisa memengaruhi minat mereka untuk mengikuti Piala Dunia," ujarnya.

Untuk mengembalikan euforia sepak bola di tengah masyarakat, Luluk menilai diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga.

Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi sehingga masyarakat melihat bahwa prestasi olahraga benar-benar dihargai.

Selain itu, promosi sepak bola perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang dekat dengan generasi muda.

"Karena sekarang eranya digital, promosi dan sosialisasi juga harus dilakukan melalui media yang digunakan masyarakat saat ini,"

"Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan prestasi yang nyata sehingga publik memiliki kebanggaan dan alasan untuk kembali antusias," tandasnya.

(Rifky Edgar/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.