Piala Dunia 2026 Kurang Semarak Dibanding Edisi Sebelumnya, Dosen UMM Jelaskan Alasannya
Aurora Nightingale June 08, 2026 02:04 AM

Menjelang dimulainya Piala Dunia 2026, sorotan terhadap turnamen sepak bola terbesar di dunia ini dinilai tidak seheboh edisi-edisi sebelumnya.

Dahulu, ketika Piala Dunia akan bergulir, banyak kampung yang mulai mempercantik diri untuk menyambut ajang akbar tersebut. Warga menghiasi lingkungan mereka dengan atribut negara peserta Piala Dunia, dan suasana euforia begitu terasa di warung-warung kopi maupun sudut-sudut kampung yang ramai membicarakan pertandingan.

Kini, semangat itu tampak meredup. Hal tersebut juga terlihat di Kota Malang, daerah yang dikenal memiliki basis penggemar sepak bola cukup kuat.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari M.Si, menilai perubahan ini tidak lepas dari transformasi sosial yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital, yang telah mengubah cara masyarakat dalam menikmati informasi dan hiburan.

Menurut Luluk, masyarakat modern hidup di era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi serba cepat dan terpecah-pecah.

“Kalau dulu menonton sepak bola adalah kegiatan bersama. Orang rela begadang bareng keluarga atau teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang, kebanyakan hanya ingin tahu hasil akhirnya saja,” ujarnya kepada Surya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menambahkan bahwa generasi muda saat ini cenderung tidak menikmati keseluruhan jalannya pertandingan seperti dulu.

“Sekarang orang lebih memilih hal yang praktis. Daripada menonton pertandingan selama lebih dari 90 menit, mereka cukup melihat hasil skor atau cuplikan singkatnya. Pola konsumsi informasi sudah berubah,” jelasnya.

Perubahan tersebut juga disebabkan oleh banyaknya pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda, seperti bermain gim, bersosialisasi di media sosial, atau sekadar nongkrong bersama teman.

Selain faktor teknologi, Luluk juga menyoroti perbedaan zona waktu sebagai salah satu penyebab menurunnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 yang akan diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Kebanyakan pertandingan diperkirakan akan berlangsung pada dini hari waktu Indonesia, bertepatan dengan waktu istirahat masyarakat yang memiliki ritme kerja semakin padat.

“Tuntutan pekerjaan sekarang tinggi. Banyak yang memilih tidur dan menjaga kondisi tubuh agar tetap fit untuk bekerja keesokan harinya daripada begadang menonton bola,” tuturnya.

Selain itu, Luluk juga menilai faktor psikologis turut berperan, terutama kekecewaan kolektif terhadap pencapaian sepak bola nasional.

Minimnya prestasi Indonesia di level internasional membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia. Seperti halnya ketika Timnas Indonesia harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Padahal, banyak yang berharap Jay Idzes dan rekan-rekannya bisa membawa Indonesia menembus putaran final.

“Mungkin ada rasa kecewa karena tim nasional kita belum pernah mencapai level itu. Akibatnya, masyarakat lebih memilih mengikuti kompetisi yang terasa lebih dekat, seperti liga lokal atau turnamen Asia Tenggara,” paparnya.

Luluk juga menambahkan bahwa kondisi ekonomi turut memengaruhi minat masyarakat. Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian publik lebih terfokus pada kebutuhan sehari-hari daripada mengikuti ajang olahraga internasional.

“Kenaikan nilai dolar dan tekanan ekonomi juga berpengaruh. Kini orang lebih memprioritaskan kebutuhan hidup dibandingkan larut dalam euforia olahraga internasional,” ujarnya.

Tak hanya itu, faktor geopolitik juga dianggap memengaruhi minat publik. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, negara yang sering menjadi sorotan dalam isu politik global, diperkirakan dapat menimbulkan sikap apatis di sebagian kalangan masyarakat.

“Ada kelompok masyarakat yang mempertimbangkan aspek geopolitik dan isu kemanusiaan, dan hal itu bisa memengaruhi minat mereka terhadap Piala Dunia,” tambahnya.

Untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat terhadap sepak bola, Luluk berpendapat bahwa dukungan dari pemerintah dan para pemangku kepentingan olahraga sangat dibutuhkan. Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi agar publik merasa bahwa pencapaian olahraga benar-benar dihargai.

Selain itu, promosi sepak bola juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang akrab bagi generasi muda.

“Karena sekarang eranya digital, maka promosi dan sosialisasi juga perlu dilakukan lewat media yang digunakan masyarakat saat ini,” katanya.

“Namun yang terpenting adalah menghadirkan prestasi nyata agar publik memiliki rasa bangga dan alasan untuk kembali bersemangat,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.