Atasi Masalah Sampah di Tingkat Hulu, TPS 3R Bakungan Banyuwangi Manfaatkan Aplikasi 'Abank Sayang'
Sudarma Adi June 08, 2026 03:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI – Di saat banyak daerah di Indonesia tengah bergelut mencari solusi atas darurat overload Tempat Pembuangan Akhir (TPA), warga Kelurahan Bakungan, Kecamatan Banyuwangi, justru tampil membawa angin segar.

Melalui gerakan gotong royong, mereka membuktikan bahwa sampah rumah tangga bisa diselesaikan di tingkat hulu sekaligus diubah menjadi sumber ekonomi baru.

Melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) bertajuk "Omah Olah Sampah", warga Bakungan aktif melakukan pemilahan dan pengolahan limbah secara mandiri. Fasilitas ini dikelola secara produktif oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Joger Blambangan sejak Juni 2023 dengan melibatkan pemuda karang taruna, tokoh masyarakat, hingga ibu-ibu PKK.

Plt. Lurah Bakungan, Prasetyo Suhartono, menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan program ini terletak pada konsistensi edukasi pemilahan sampah langsung dari dapur rumah tangga.

Baca juga: Banyuwangi Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Selama Libur Panjang, KAI Catatkan 77 Ribu Penumpang

“Sampai sekarang terus kami edukasi masyarakat untuk memisahkan organik dan anorganik. Memang tidak mudah, tapi harus dibiasakan dari skala rumah agar memudahkan petugas kami di TPS untuk mengolahnya,” cerita Prasetyo saat menerima kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di lokasi TPS 3R, Minggu (7/6/2026).

Kelola 2 Ton Sampah, Disulap Jadi Budidaya Maggot dan Kompos

Saat ini, TPS 3R Bakungan mampu melayani kebutuhan sanitasi sekitar 3.000 warga. Setiap harinya, fasilitas lingkungan ini menerima kiriman sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah domestik.

Dari total volume tersebut, sebanyak dua kuintal (200 kg) sampah organik berhasil dipisahkan dan dieksekusi menjadi berbagai produk bermutu yang bernilai jual tinggi.

"Sampah organik yang telah dipilah kami manfaatkan sebagai media pakan maggot (Black Soldier Fly), pupuk kompos, dan pupuk organik cair. Maggot yang dihasilkan kemudian kami gunakan sebagai pakan ternak mandiri seperti ayam, bebek, dan lele yang dibudidayakan KSM, serta sisanya dijual ke peternak umum," beber Prasetyo.

Keberhasilan level kelurahan ini menuai apresiasi tinggi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Menurut Ipuk, Bakungan menjadi role model nyata bagaimana beban sampah kabupaten bisa dipangkas drastis dari unit pemerintahan terkecil.

"Bakungan ini menjadi contoh praktik baik (best practice) yang harus direplikasi oleh desa-desa lain di Banyuwangi. Kuncinya ada pada kepedulian warga. Jika sampah organiknya sudah selesai di tingkat kelurahan seperti ini, maka hanya sampah residu saja yang dikirim ke TPS 3R skala besar di Balak Songgon. Sampah bukan lagi problem, tapi manfaat," puji Ipuk.

'Abank Sayang': Aplikasi Bank Sampah Digital Berhadiah

Selain pengolahan fisik, Kelurahan Bakungan juga melakukan digitalisasi lingkungan lewat peluncuran aplikasi Abank Sayang (Bank Sampah Masyarakat Bakungan).

Aplikasi ini memodernisasi sistem bank sampah konvensional. Melalui Abank Sayang, seluruh proses pendaftaran nasabah, penimbangan sampah anorganik (seperti plastik dan botol), hingga konversi harga langsung tercatat rapi menjadi saldo digital di ponsel warga. Saat ini, terdapat 140 nasabah aktif yang terdiri dari ibu rumah tangga hingga murid sekolah dasar.

"Warga cukup membawa sampah yang sudah dipilah ke TPS 3R untuk ditimbang. Nilainya langsung masuk ke aplikasi sebagai saldo tabungan. Kapan pun warga mau, saldo tersebut bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai atau ditukar dengan berbagai hadiah menarik," pungkas Prasetyo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.