TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Perkembangan sepakbola wanita di tanah air bukan hanya terkait kompetisi, maupun kiprah tim sepakbola wanita di level internasional.
Salah satu yang tak kalah penting yakni munculnya wasit-wasit perempuan di sejumlah tanah air.
Di Kota Semarang, ada sosok Novitasari Mulat Ratri, wasit kelahiran Boyolali, 7 November 1998 itu merupakan satu di antara wasit yang kerap memimpin sejumlah pertandingan sepakbola di Kota Lumpia.
Novita, sapaannya, menceritakan, awal mula tertarik sebagai hakim garis berawal saat menjadi pemain futsal di salah satu klub di Kota Semarang.
"Awalnya dari saya yang dulunya pemain futsal di salah satu club di Semarang di ajak dengan wasit lokal di Semarang untuk diajak gabung menjadi wasit," kata Novita kepada Tribun, baru-baru ini.
"Kemudian saya berfikir, semisal, nanti saya sudah tidak jadi pemain saya masih ingin Tetap di dunia sepak bola atau futsal akhirnya saya memilih menjadi wasit," kata dia.
Berjalannya waktu, Novita kemudian mencoba mengambil lisensi wasit futsal pada tahun 2019. Kemudian untuk lisensi wasit sepakbola pada tahun 2022.
Dia menilai, perkembangan sepakbola nasional, terutama dukungan dari federasi terhadap program pengembangan sepakbola wanita membuatnya mantap berkarir sebagai wasit.
"Berjalannya waktu, saya melihat di dunia perwasitan sepakbola mulai berkembang. Saya juga mengambil lisensi wasit bola juga karena melihat potensi wasit wanita di dunia sepak bola dan futsal sangat dibutuhkan," kata sosok yang juga mengidolakan wasit FIFA asal Indonesia, Thoriq Alkatiri itu.
Selama berkarir sebagai wasit, ia merupakan salah satu wasit yang kerap memimpin pertandingan di sejumlah kompetisi sepakbola dan futsal, baik itu di level amatir hingga profesional.
Novita juga menjadi salah satu wasit yang bertugas dalam sebuah ajang pengembangan sepakbola usia dini yang digelar secara rutin di Kota Semarang setiap tahunnya.
Dia menyebut, dari deretan pertandingan yang ia pimpin, ada sejumlah ajang yang cukup berkesan baginya.
"Untuk kompetisi yang berkesan saat memimpin pertandingan Women Profesional Futsal League (WPFL) karena itu titik tertinggi saya saat ini memimpin para pemain Timnas Indonesia yang bergabung di salah satu club WPFL," kata dia.
"Untuk event-event yang lainnya masih banyak ada Piala Soeratin, Piala Pertiwi, Campus League Nasional, Piala B.yu nasional, Liga Nusantara, Kejurprov dan event event yang ada di kota Semarang," lanjut dia.
Selama berkarir sebagai wasit, ia menceritakan banyak pengalaman di lapangan. Termasuk anggapan subjektif terhadap wasit wanita.
"Kalau di pertandingan, laki-laki sering di anggap emang bisa seorang wanita memimpin pertandingan sekelas laki laki? Suka dukanya seperti itu," ungkapnya.
Padahal kata dia, proses untuk menjadi wasit harus melalui serangkaian tes. Selain harus memahami Laws Of The Game (LOTG), diperlukan juga fisik yang kuat.
"Untuk menjadi wasit nggak cuma paham LOTG, kita juga harus punya fisik yang bagus. Kita saja harus tes fisik yang tidak dibedakan untuk instrumen tesnya. Standarnya seperti tes pada wasit pria," ujar penghobi olahraga itu.
Melihat perkembangan sepakbola wanita saat ini, dia berharap semakin bertambah wasit wanita di Indonesia. Dia juga berharap, anak-anak muda yang tertarik sebagai hakim garis terus meningkatkan kemampuan yang dimiliki.
"Salah satunya Kota Semarang dengan bertambahnya sumber daya wasit wanita di Indonesia pasti pertandingan pertandingan sepak bola atau futsal untuk wanita juga akan berkembang lebih pesat," ungkapnya. (F Ariel S)