Gempa M 7,7 Filipina, BMKG Berau Imbau Warga Pesisir Jauhi Pantai, Getaran Terasa hingga Maratua
Faisal Zamzami June 08, 2026 12:23 PM

 

SERAMBINEWS.COM, BERAU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan dan sementara waktu menjauhi kawasan pantai maupun tepian sungai setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, Senin (8/6/2026).

Meski hingga Senin pagi kondisi perairan di Kabupaten Berau masih terpantau normal dan belum menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan, BMKG menegaskan masyarakat tetap harus mengikuti perkembangan informasi resmi hingga status peringatan dini tsunami benar-benar dicabut.

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan informasi yang dikeluarkan BMKG Pusat terkait gempa tektonik yang berpotensi memicu tsunami tersebut.

Menurutnya, seluruh pembaruan informasi telah disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial dan grup-grup WhatsApp yang dikelola instansi terkait.

"Kami terus memperhatikan dan meng-update informasi dari BMKG Pusat terkait perkembangan kejadian gempa di Mindanao, Filipina. Informasi tersebut juga telah kami sampaikan kepada masyarakat melalui berbagai platform komunikasi yang tersedia," ujar Ade saat dikonfirmasi, Senin yang dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Gempa Guncang Bener Meriah, Kaca Masjid Simpang Balek Berhamburan

Pesisir Berau Berstatus Waspada Tsunami

Berdasarkan pembaruan peringatan dini tsunami yang diterbitkan BMKG, wilayah pesisir Kabupaten Berau masuk dalam kategori Waspada.

Status tersebut menunjukkan adanya potensi kenaikan muka air laut dengan ketinggian relatif kecil, namun tetap berisiko bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir.

Karena itu, BMKG meminta warga untuk sementara tidak beraktivitas di pantai maupun di sekitar aliran sungai yang bermuara ke laut hingga ada pengumuman resmi lebih lanjut.

"Pada pembaruan peringatan yang kedua, wilayah pesisir Berau masuk dalam daerah yang berpotensi terdampak tsunami dengan status waspada. Arahan yang diberikan kepada masyarakat adalah menjauhi pantai maupun tepian sungai," jelasnya.

Wilayah yang menjadi perhatian meliputi seluruh kawasan pesisir Berau yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi, termasuk Kecamatan Maratua, Kepulauan Derawan, Biduk-Biduk, dan sejumlah wilayah pesisir lainnya.

"Posisi Berau secara umum sama. Berdasarkan peta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, seluruh wilayah pesisir yang menghadap Laut Sulawesi berada pada status waspada," tambah Ade.

Kondisi Laut Masih Normal

Meski sempat diperkirakan gelombang tsunami akan tiba di wilayah Berau sekitar pukul 08.43 Wita, hingga waktu tersebut terlewati belum ditemukan adanya tanda-tanda anomali pada muka air laut.

Laporan yang diterima BMKG dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan kondisi laut masih berada dalam keadaan normal tanpa perubahan surut atau kenaikan yang signifikan.

"Tadi diperkirakan sekitar pukul 08.43 Wita. Setelah waktu tersebut berlalu, informasi dari tim BPBD menunjukkan kondisi air laut masih normal dan tidak mengalami perubahan surut yang signifikan. Alhamdulillah situasinya aman," katanya.

Pemantauan lapangan yang dilakukan di sejumlah titik pesisir juga belum menemukan adanya gejala yang mengarah pada ancaman tsunami.

"Kondisi yang terpantau di Biduk-Biduk maupun wilayah pesisir lainnya masih normal. Belum ada laporan mengenai perubahan muka air laut yang mencurigakan," lanjutnya.

Meski demikian, BMKG belum mencabut imbauan kewaspadaan. Masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Baca juga: Tsunami Landa Tiga Daerah di Jepang usai Gempa 7,5 SR, Warga Diminta Jangan Menoleh ke Belakang

Getaran Gempa Terasa di Maratua dan Bandara Kalimarau

Selain memunculkan potensi tsunami, gempa besar yang terjadi di Filipina tersebut juga sempat dirasakan oleh sejumlah warga di Kabupaten Berau.

Ade mengungkapkan, laporan yang diterima BMKG menyebutkan getaran gempa dirasakan oleh masyarakat di Pulau Maratua. Bahkan petugas menara pengawas lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC) di Bandara Kalimarau juga melaporkan merasakan getaran saat gempa berlangsung.

"Setelah kejadian gempa magnitudo 7,7 itu, ada beberapa lokasi yang melaporkan merasakan getaran. Di Maratua terasa, kemudian rekan-rekan di tower Bandara Kalimarau juga melaporkan merasakan getaran saat gempa terjadi," ungkapnya.

Meski getaran sempat dirasakan, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat dampak gempa tersebut di wilayah Berau.

Gempa Dipicu Aktivitas Subduksi Lempeng

Sebelumnya, BMKG melaporkan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi di wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026) pukul 06.37 WIB.

Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa berada pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur, atau sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer.

Gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng dan memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault), yang dikenal berpotensi memicu terjadinya tsunami.

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia masuk dalam daftar daerah yang berpotensi terdampak tsunami dengan status waspada, antara lain Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kota Bontang, Bulungan, Tarakan, Nunukan, serta beberapa wilayah lain di kawasan utara Kalimantan dan Sulawesi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau informasi resmi yang disampaikan melalui kanal BMKG dan pemerintah daerah hingga status peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.