SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kini telah memasuki musim kemarau. Meski suhu udara yang tercatat masih berada dalam kategori normal, masyarakat merasakan cuaca pada siang hari lebih panas dan terik dibandingkan biasanya.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari terakhir, suhu udara di wilayah Sumsel berada pada kisaran 25 hingga 34 derajat Celsius.
Menurutnya, suhu tersebut masih tergolong normal untuk kondisi musim kemarau yang sedang berlangsung.
"Berdasarkan hasil pengamatan suhu udara dalam tiga hari terakhir, rentang suhu udara terpantau berada pada nilai 25-34 derajat Celsius. Kategori suhu udara ini masih dalam kondisi normal yang terjadi saat musim kemarau," kata Siswanto saat dikonfirmasi Sripoku.com, Senin (8/6/2026).
Namun demikian, suhu maksimum yang terjadi pada siang hingga sore hari akan terasa jauh lebih panas ketika dirasakan langsung oleh tubuh manusia, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
"Sensasi suhu atau feels like dapat mencapai lebih dari 39 derajat Celsius padahal suhunya berada pada nilai 25-34 derajat Celsius," ujarnya.
Siswanto menjelaskan, perbedaan antara suhu udara yang terukur dengan suhu yang dirasakan tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari suhu udara aktual yang tinggi, kelembapan udara yang rendah, hingga paparan sinar matahari yang langsung mengenai kulit.
"Kondisi ini membuat masyarakat merasakan cuaca yang lebih panas dibandingkan angka suhu yang tercatat oleh alat pengamatan," jelasnya.
Seiring masuknya musim kemarau, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (Karhutla).
Masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini melalui kanal resmi BMKG. Selain itu, warga juga diimbau menghemat penggunaan air guna mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.
Bagi pelaku usaha pertanian dan perkebunan, BMKG menegaskan agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun hutan. Pasalnya, kondisi cuaca yang kering dapat menyebabkan api cepat meluas dan sulit dikendalikan.
Sementara itu, masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan disarankan memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko gangguan kesehatan.
BMKG juga mengingatkan pentingnya penggunaan tabir surya (sunscreen), topi, maupun kacamata hitam saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari untuk melindungi tubuh dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang lebih intens selama musim kemarau.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumatera Selatan, Nandang Pangaribowo, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan alat BMKG, suhu maksimum di wilayah Sumsel masih berada pada kisaran normal, yakni hingga 34,8 derajat Celsius.
Untuk Kota Palembang sendiri, suhu maksimum tercatat mencapai 34,5 derajat Celsius pada 3 Juni 2026.
"Meski masih dalam batas normal, kondisi cuaca terasa lebih panas akibat sejumlah faktor atmosfer yang sedang berlangsung," kata Nandang.
Menurutnya, dominasi angin Monsun Australia yang bersifat kering, minimnya tutupan awan, serta fase awal musim kemarau menjadi penyebab utama meningkatnya suhu yang dirasakan masyarakat.
Ia menambahkan, saat ini juga terdapat indikasi pergeseran kondisi iklim global menuju potensi aktifnya fenomena El Nino moderat hingga kuat yang turut memperkuat kondisi panas dan kering di wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan.
Selain itu, faktor pemanasan global, perubahan iklim, serta menghangatnya suhu muka laut di kawasan perairan Indonesia juga ikut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara di wilayah Sumsel.
Nandang mengingatkan kondisi musim kemarau diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2026 dengan curah hujan yang berada pada kategori bawah normal.
"Masyarakat diminta menjaga kesehatan, mengurangi aktivitas berat di bawah terik matahari, serta tetap waspada terhadap potensi kekeringan dan Karhutla selama musim kemarau berlangsung," jelasnya.