TRIBUNTRENDS.COM - Ancaman bencana kembali menguji kesiapsiagaan Indonesia. Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Filipina pada Senin (8/6/2026) memicu peringatan dini tsunami yang berdampak hingga ke sejumlah kawasan pesisir Indonesia bagian timur.
Situasi ini membuat pemerintah bergerak cepat untuk memastikan keselamatan masyarakat yang tinggal di daerah rawan terdampak.
Sejak peringatan dikeluarkan, aparat kebencanaan bersama berbagai unsur terkait meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan warga di wilayah pesisir.
Fokus perhatian diarahkan ke sejumlah provinsi yang berpotensi merasakan dampak gelombang tsunami, mulai dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Gorontalo, hingga Kalimantan Timur.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan tersebut, masyarakat diminta untuk tidak panik. Warga yang berada di kawasan pesisir diimbau tetap tenang, namun tetap mengikuti seluruh instruksi petugas yang berada di lapangan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Baca juga: 93 Kali Gempa di Sulawesi Utara dan Maluku Utara Pasca-Gempa M 7,6, BMKG: Waspada Gempa Susulan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan seluruh unsur penanganan bencana bergerak dalam satu komando untuk memantau situasi yang berkembang.
Koordinasi dilakukan secara intensif dengan berbagai lembaga dan instansi terkait guna memastikan proses evakuasi maupun pengamanan masyarakat berjalan lancar apabila diperlukan.
"Hingga saat ini, BNPB terus memperkuat koordinasi sinergis dalam satu komando bersama tim gabungan lintas instansi di daerah, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, hingga relawan yang bersiaga penuh untuk memandu pergerakan warga," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Senin, dilansir dari ANTARA.
Menurut Abdul Muhari, pemerintah daerah yang wilayahnya masuk kategori ancaman "Siaga" telah menerima instruksi untuk mengarahkan masyarakat melakukan evakuasi secara tertib menuju lokasi yang lebih aman dan memiliki ketinggian memadai dari permukaan laut.
Berdasarkan hasil pemodelan dampak tsunami yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi di Filipina berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah Indonesia.
Daerah yang masuk dalam kategori status Siaga meliputi Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Kepulauan Minahasa, Toli-Toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, hingga Kota Bitung.
Status siaga tersebut mengharuskan pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena wilayah-wilayah tersebut diperkirakan memiliki potensi terdampak lebih besar dibanding daerah lainnya.
Baca juga: Daftar Daerah yang Diminta BMKG Segera Mengungsi ke Tempat Tinggi Imbas Gempa M 7,7 di Laut Sulawesi
Selain wilayah berstatus Siaga, BMKG juga menetapkan sejumlah daerah lain dalam kategori Waspada. Wilayah tersebut meliputi Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Minahasa Selatan, Kota Bontang, dan Berau.
Meski tingkat ancamannya berada di bawah status Siaga, masyarakat di wilayah tersebut tetap diminta untuk tidak mengabaikan informasi resmi yang disampaikan pemerintah maupun otoritas kebencanaan.
Hasil pemantauan BMKG hingga pukul 08.20 WIB menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di sejumlah titik pengamatan. Data dari stasiun pemantau mencatat ketinggian tsunami berkisar antara 9 hingga 75 sentimeter.
Beberapa lokasi yang mencatat kenaikan gelombang tersebut antara lain Desa Tanjung Sidupa di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Desa Talengen di Kepulauan Sangihe.
Meskipun tinggi gelombang yang terpantau masih relatif rendah, pemantauan terus dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi di lapangan.
Baca juga: Sulawesi Utara Diguncang Gempa 7,6 Magnitudo, Tsunami Terjadi di Halmahera Barat dan Bitung
Di tengah meningkatnya kewaspadaan dan proses pemantauan yang berlangsung, BNPB memastikan bahwa situasi di wilayah terdampak masih berada dalam kondisi yang terkendali.
"BNPB mengonfirmasi bahwa situasi dan kondisi di lapangan saat ini masih terpantau terkendali," kata Abdul Muhari.
Pernyataan tersebut menjadi kabar yang menenangkan di tengah kekhawatiran masyarakat pesisir. Namun demikian, seluruh pihak tetap diminta tidak lengah dan terus mengikuti perkembangan informasi resmi hingga status peringatan benar-benar dinyatakan berakhir.
***
(TribunTrends/kompas)