Tak Melulu Prambanan, Kabupaten Klaten Miliki Candi Merak yang Eksotis, Hanya 44 Km dari Kota Solo
Candra Isriadhi June 08, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di balik hamparan pedesaan yang tenang di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berdiri sebuah peninggalan bersejarah yang menjadi saksi kejayaan peradaban Hindu pada masa lampau, yakni Candi Merak.

Candi yang berada di Dusun Candi Merak, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko ini menjadi salah satu warisan berharga dari era Kerajaan Mataram Kuno yang masih dapat dinikmati hingga saat ini.

Tak hanya menyimpan nilai sejarah yang tinggi, Candi Merak juga menawarkan pesona arsitektur kuno yang menarik perhatian wisatawan maupun pecinta sejarah.

WISATA KLATEN - Pemandangan di Candi Merak, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah. Candi Merak bisa jadi destinasi wisata sejarah karena memiliki banyak keunikan.
WISATA KLATEN - Pemandangan di Candi Merak, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah. Candi Merak bisa jadi destinasi wisata sejarah karena memiliki banyak keunikan. (Dok./karanganom.klaten.go.id)

Nama "Merak" yang melekat pada candi ini ternyata memiliki cerita tersendiri.

Konon, kawasan di sekitar candi dahulu banyak ditemukan sarang burung merak sehingga masyarakat setempat kemudian menyebutnya sebagai Candi Merak.

Berdasarkan kajian sejarah, Candi Merak diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Para ahli memperkirakan bangunan suci tersebut didirikan antara tahun 830 hingga 900 Masehi sebagai tempat peribadatan umat Hindu pada masa itu.

Bagi wisatawan yang berangkat dari Kota Solo, lokasi Candi Merak dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 44 kilometer atau kurang lebih 1 jam 23 menit menggunakan kendaraan pribadi.

Baca juga: 3 Perusahaan Giorgio Antonio Pacar Sarwendah yang Ngaku CEO, Jual Parfum Lokal, Ada yang Bangkrut

Perjalanan menuju situs bersejarah ini pun cukup mudah karena berada di wilayah yang dapat diakses melalui jalur darat.

Meski kini berdiri megah, perjalanan panjang harus dilalui hingga Candi Merak dapat kembali dinikmati oleh masyarakat.

Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1925 dalam kondisi yang jauh berbeda dari sekarang.

Kala itu, lokasi candi masih berupa lahan kosong dengan sejumlah batu dan arca yang sebagian besar terkubur di dalam tanah.

IKON KARANONGKO KLATEN - Candi Merak di Klaten, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. (Dok./Kemdikbud.go.id)

Di area tersebut juga terdapat sebuah pohon besar yang dikenal masyarakat setempat dengan nama Pohon Joho.

Melihat nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut, pemerintah kolonial Belanda kemudian melakukan pemugaran pertama pada tahun 1936.

Pada tahap awal itu, proses pemugaran berhasil menyusun kembali bagian kaki candi yang sebelumnya berserakan.

Upaya pelestarian kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia melalui kegiatan pra-pemugaran pada tahun 1985.

Tahapan tersebut meliputi pengumpulan batu-batu candi, pendokumentasian, hingga pencocokan setiap bagian bangunan agar dapat dipasang kembali sesuai bentuk aslinya.

Setelah melalui proses panjang yang memakan waktu puluhan tahun, pemugaran Candi Merak akhirnya rampung pada tahun 2012.

Sejak saat itu, Candi Merak kembali berdiri kokoh dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Klaten.

Keberadaannya tidak hanya menjadi bukti kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.

Struktur dan Relief

Candi Merak terdiri dari satu candi induk berbentuk bujur sangkar berukuran 8,38 x 8,38 meter dan tiga candi perwara, meski hanya tersisa kaki dan sebagian tubuhnya.

Arah candi induk menghadap timur, sedangkan candi perwara menghadap barat.

Tangga candi dihiasi makara, kepala ular mitologi dengan mulut terbuka yang berisi arca burung, serta hiasan kepala kala tanpa taring di pintu masuk.

Relief di tangga dan tubuh candi menampilkan berbagai motif: pohon kaltaparu, bunga teratai, makhluk khayangan, dan tokoh mitologi seperti yaksa.

Bilik candi induk tampak kosong, hanya terdapat yoni berukuran besar dengan hiasan kura-kura, naga, dan nandi.

Selasar mengelilingi tubuh candi dengan lebar sekitar 0,60 meter, dihiasi antefiks dan relief bunga teratai, sementara dinding luar penampil menampilkan relief dewa-dewa seperti Durga dan Ganesa.

Atap candi berbentuk piramida bertingkat tiga dengan hiasan geometris, ratna, antefiks, serta pahatan arca tokoh setengah badan.

Keunikan dan Daya Tarik

Candi Merak memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari candi lain:

  • Bentuk Candi Bujur Sangkar: Atap piramida bertingkat tiga membuat candi terlihat ramping dan anggun.
  • Tangga Berhias Kalamakara: Makhluk mitologi yang berfungsi sebagai “penjaga” candi menambah nilai estetis dan sakral.
  • Relief Penuh Makna: Ornamentasi tumbuhan, bunga teratai (Purnakalasa), dan relief dewa-dewa menggambarkan filosofi kebahagiaan, keberuntungan, dan ajaran Hindu.

Informasi Kunjungan

Wisatawan dapat mengunjungi Candi Merak pada hari Senin hingga Jumat pukul 09.00–16.00 WIB.

Tiket masuk gratis, namun pengunjung wajib menaati peraturan di kawasan candi untuk menjaga kelestariannya.

Candi Merak menjadi alternatif destinasi sejarah selain Candi Prambanan, menawarkan nilai budaya, estetika, dan edukasi mengenai perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah.

(Tribunnewsmaker.com/TribunSolo.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.