100 Tahun Gontor Meriah, Wayang Kulit Jadi Ruang Pendidikan dan Spirit Dakwah 
Wiwit Purwanto June 08, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID PONOROGO - Ribuan santri, guru, dan masyarakat memadati Lapangan Hijau Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, dalam pagelaran wayang kulit peringatan 100 tahun Gontor yang berlangsung semalam suntuk hingga dini hari, menghadirkan pesan dakwah, pendidikan, dan refleksi nilai kehidupan.

Wayang Kulit Jadi Media Dakwah di Puncak 100 Tahun Gontor

Perayaan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, berlangsung khidmat sekaligus meriah lewat pagelaran wayang kulit yang digelar pada Sabtu (6/6/2026) malam hingga Minggu (7/6/2026) dini hari.

Lebih dari 4.000 penonton yang terdiri dari santri, guru, hingga masyarakat sekitar bertahan hingga fajar untuk menyaksikan pertunjukan budaya tersebut.

Antusiasme ini menjadikan wayang kulit bukan sekadar tontonan, melainkan juga sarana pendidikan dan dakwah yang mengakar di lingkungan pesantren.

Baca juga: 1 Abad Gontor Deretan Agenda Akbar Siap Digelar dari Juni hingga September 2026

Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa wayang kulit telah lama menjadi bagian dari tradisi penting dalam perayaan besar di Gontor.

Ia menilai seni pewayangan mengandung banyak pelajaran kehidupan yang dapat membentuk karakter santri.

“Wayang kulit menjadi sarana mendidik santri agar mampu bergaul dengan siapa saja meski berbeda bahasa dan latar belakang,” ungkap KH Hasan Abdullah Sahal, Minggu (7/6/2026).

Pagelaran kali ini menghadirkan dalang kondang asal Surakarta, Ki Bayu Aji, yang dikenal sebagai maestro wayang kulit di kancah nasional. Lakon yang dibawakan bertajuk Parikesit Dadi Ratu, dengan tema besar “Mensyukuri Masa Lalu dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan”.

Cerita tersebut dikemas untuk menanamkan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keteladanan kepada para santri serta masyarakat melalui simbol-simbol pewayangan yang relevan dengan tantangan zaman modern.

Pimpinan PMDG lainnya, K.H Akrim Mariyat, menambahkan bahwa nilai pendidikan dalam wayang tidak hanya terletak pada dalang atau tokohnya, melainkan pada pesan yang disampaikan.

Baca juga: Timnas All Star Meriahkan 100 Tahun Gontor, Santri Diajak Belajar dari Para Bintang Sepak Bola

“Adanya wayang kulit ini, juga menyampaikan bahwa pondok modern dan wayang sama-sama mengajarkan pendidikan kehidupan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa esensi utama dalam pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan nilai syiar dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Lebih lanjut ia menyebut, “bukan juga ghongnya karena bisa diganti menggunakan mulut. Melainkan yang paling berperan adalah blencong atau syi’ar yang terkandung didalamnya."

Refleksi Nilai, Silaturahmi, dan Pendidikan Karakter Santri

Kehadiran ribuan penonton yang bertahan hingga dini hari menjadi bukti kuatnya ikatan budaya dan spiritual dalam tradisi Gontor. Pagelaran ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan sejarah pesantren yang telah memasuki usia satu abad.

Melalui lakon yang dibawakan, penonton diajak merenungkan nilai perjuangan, kebijaksanaan, dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Acara ini sekaligus mempererat hubungan antara pesantren dan masyarakat sekitar.

Selain itu, pertunjukan ini juga dirancang sebagai sarana edukasi bagi santri agar memahami sejarah, nilai budaya, serta karakter kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.