TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah konflik antara Iran dan Israel menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan.
Lonjakan harga minyak dunia terjadi pada perdagangan Senin (8/6/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.
Pasar bereaksi cepat setelah kedua negara dilaporkan kembali saling melancarkan serangan di tengah rapuhnya upaya gencatan senjata.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dan mengganggu rantai pasok minyak global.
Seperti dikutip dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli yang menjadi acuan internasional melonjak 4,35 persen hingga mencapai 97,14 dollar AS per barrel.
Meski sempat mengalami koreksi tipis, harga Brent tetap bertahan di level tinggi yang mencerminkan meningkatnya kecemasan pelaku pasar.
Di sisi lain, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 4,25 persen menjadi 94,39 dollar AS per barrel.
Baca juga: Trump Sebut Kemungkinan Bertemu Mojtaba, Klaim Iran Setuju Tak Punya Nuklir: Bisa Berubah Pikiran
Kenaikan tajam ini menunjukkan bahwa pasar global tengah bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan jika konflik terus meluas.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa Angkatan Udara Israel telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di wilayah barat dan tengah Iran pada Senin waktu setempat, sebuah langkah yang semakin memperkeruh situasi dan membuat pasar energi dunia berada dalam kondisi waspada tinggi.
Dengan harga minyak yang kembali mendekati level psikologis penting, dunia kini menanti perkembangan terbaru dari konflik Iran-Israel yang berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian global dalam beberapa waktu ke depan.
Gedung Putih mengonfirmasi kepada MS NOW bahwa Presiden Donald Trump telah menerima pengarahan setelah Israel untuk pertama kalinya sejak dimulainya gencatan senjata terkena serangan rudal Iran.
“Kesepakatan dengan Presiden Trump tidak lagi memungkinkan pada tahap ini,” ujar seorang pejabat Iran yang terlibat dalam pembicaraan antara Teheran dan Washington kepada MS NOW.
Baca juga: Trump Sebut Kemungkinan Bertemu Mojtaba, Klaim Iran Setuju Tak Punya Nuklir: Bisa Berubah Pikiran
Dalam unggahan di X, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa blokade laut oleh Amerika Serikat dan pelanggaran terhadap kesepakatan terkait Lebanon merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Ia menambahkan bahwa pangkalan dan aset milik AS maupun rezim terkait di kawasan kini menjadi target yang sah akibat blokade AS dan aksi militer yang berlangsung di Lebanon.
Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat menaikkan target produksi sebesar 188.000 barrel per hari mulai Juli, menurut pernyataan resmi OPEC.
Keputusan ini menjadi kenaikan kuota produksi minyak keempat yang disetujui sejak penutupan Selat Hormuz.
Kenaikan tersebut sejalan dengan tambahan produksi pada Juni.
Angka itu lebih rendah dibandingkan kenaikan bulanan sebesar 206.000 barrel per hari pada April dan Mei, menyusul keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari organisasi tersebut.
(Tribunnewsmaker.com/ Kompas.com)