Muhammad Rafi Faris Fadilah dari Samarinda, Kalimantan Timur telah bersekolah selama 10 bulan di Alaska, Amerika Serikat (AS). Banyak cerita keseruan yang Rey, demikian dia biasa disapa, bawa. Mulai dari 'panen' anjing laut hingga gaul dengan suku Indian, warga asli AS.
Rey menjadi salah satu dari 48 peserta program pertukaran pelajar selama 10 bulan di Amerika Serikat Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026.
Dari Kaltim yang Panas ke Alaska yang Beku
Alih-alih di kota besar seperti New York atau California, Rey tak menyangka bahwa dia mendapatkan penempatan di Alaska. Baik host family alias keluarga angkat hingga sekolah ia ditempatkan di Juneau, Alaska dan bersekolah di Juneau Douglas High School.
"Aku dipilih sama host family-ku karena aku punya minat di debat yang di mana sekolah aku provide, dan juga di application aku, aku ada cerita kalau misalnya aku pengen yang namanya experience snow gitu," ujarnya pada wawancara bersama media di acara acara penyambutan peserta YES 2025-2026 di Hotel Gren Alia Jakarta, Jl Prajurit KKO Usman-Harun, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Berasal dari daerah yang dekat garis khatulistiwa yang panas, kemudian pindah ke Alaska tentu menjadi tantangan tersendiri baginya. Terutama saat menghadapi suhu dingin yang mencapai di bawah nol derajat Celsius.
"Awal-awal susah banget, karena walaupun aku cuma di south east (tenggara), yang di mana lebih hangat daripada yang di utara, itu tetap minusnya itu sampai minus 2-3 (derajat Celsius)," kata siswa MAN 2 Samarinda ini.
Gaul dengan Orang Indian hingga Panen Anjing Laut
Menurut Rey, masih banyak orang native American alias suku Indian Amerika di Alaska. Bahkan aktivitas Indian Alaska seperti 'memanen' anjing laut pun dilakoni Rey.
"Kita ada nge-filet salmon, bahkan kita ngomong sama cerita-cerita sama orang native di sana, dan juga ngeliat langsung gimana orang itu nge-harvest anjing laut gitu. Itu menarik banget. Dan sekolah di sana itu lebih banyak prakteknya gitu loh, lebih banyak terjun ke publik," ujar Rey antusias.
Sebagai siswa pertukaran pelajar, Rey dibebaskan memilih mata pelajaran yang diminatinya. Dia tak harus mengikuti mata pelajaran wajib di sekolah itu yakni Matematika, Sains, Sejarah dan Bahasa Inggris.
"Tapi karena aku exchange student, dari host sekolah aku itu bebasin aku untuk milih apa aja. Jadi aku nggak ada Matematika setahun gitu. Jadi aku ambil mata-mata pelajaran yang selama ini aku passion, kayak aku belajar Creative Writing, sama aku ada ambil kelas Marine Biology, itu menarik banget," celoteh Rey.
Ia mengaku terkesan dengan sistem pembelajaran yang lebih banyak memberikan pengalaman praktik langsung. Bagi Rey, pengalaman tersebut membuatnya melihat pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.
"Dari aku lihat pendidikan di luar, itu benar-benar kebanyakan kelas itu passion oriented," ujarnya.
Menurut Rey, pengalaman belajar di Amerika juga membantunya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berbicara di depan umum.
"Dari program ini, karena aku immerse banget di sekolah, di sekolah itu aku banyak banget penelitian, itu benar-benar meningkatin critical thinking aku, dan juga lebih banyak public speaking juga," katanya.
Usai menyelesaikan program pertukaran pelajar selama 10 bulan di Amerika Serikat, sebanyak 48 siswa sekolah menengah asal Indonesia yang tergabung dalam program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026 akhirnya resmi kembali ke Tanah Air. Selama program berlangsung, para peserta mendapatkan kesempatan berharga untuk tinggal bersama keluarga angkat (host family), menimba ilmu di sekolah menengah setempat, serta membaur dan berinteraksi langsung dengan komunitas masyarakat di sana.
Program YES sendiri merupakan salah satu beasiswa pertukaran pelajar unggulan yang didanai penuh oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri AS. Skema ini dirancang khusus bagi generasi muda di tingkat sekolah menengah agar dapat merasakan pengalaman hidup mendalam dan memahami dinamika kultural di luar negeri secara langsung guna membangun perspektif global sejak dini.





