TRIBUNBANYUMAS.COM, TEL AVIV — Eskalasi konflik Timur Tengah kembali membara setelah wilayah Israel dihujani hampir 30 rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran sejak Minggu (7/6/2026) malam.
Gempuran berskala besar ini memicu kepanikan massal setelah sirene tanda bahaya udara bergemuruh di sebagian besar wilayah utara dan tengah Israel, sekaligus menandai pecahnya kontak senjata pertama sejak gencatan senjata disepakati pada 8 April lalu dalam Perang Timur Tengah.
Selain puluhan rudal dari Iran, kelompok pemberontak Houthi di Yaman dilaporkan turut meluncurkan dua rudal secara terpisah ke arah Israel. Suara ledakan keras terdengar jelas di atas langit Yerusalem pada Senin (8/6/2026) pagi, memaksa militer Israel untuk segera mengambil tindakan ofensif.
Merespons serangan tersebut, jet tempur Israel langsung melancarkan serangan balasan udara dengan menggempur beberapa target strategis di kompleks petrokimia yang terletak di Mahshahr, wilayah barat daya Iran.
Tempat ini diklaim menjadi lokasi vital produksi bahan kimia yang digunakan untuk mempersenjatai rudal-rudal Iran.
"Serangan dan kerusakan pada kompleks tersebut berhasil mengganggu kemampuan mereka untuk memproduksi berbagai jenis senjata serta melumpuhkan kekuatan ofensif lawan," ujar pejabat militer Israel, sebagaimana dilansir AFP. Tak hanya itu, militer Israel juga dilaporkan berhasil menghantam sistem pertahanan udara milik Iran.
Intervensi Donald Trump dan Penghentian Gempuran
Menyusul situasi kritis akibat hujan rudal balistik ini, lini militer tertinggi Israel segera mengambil langkah taktis dengan menghubungi sekutu utama mereka, Amerika Serikat (AS). Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilaporkan langsung mengadakan pembicaraan intensif dua kali dengan pimpinan Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) untuk mendiskusikan situasi darurat tersebut.
Namun, ketegangan bersenjata ini dilaporkan mereda setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turun tangan mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertempuran.
Melalui platform Truth Social, Trump menyerukan agar Israel dan Iran segera menghentikan aksi saling tembak demi membuka jalan bagi "negosiasi akhir" menuju perdamaian.
Baca juga: Donald Trump Sebut Iran Miliki Harga Diri Tinggi, Selat Hormuz Kembali Membara Akibat Saling Serang
Media Israel Channel 12, seperti dikutip Al Jazeera, melaporkan bahwa seorang pejabat senior Israel menyebut Tel Aviv akhirnya memilih menghentikan serangan ke Iran atas permintaan langsung dari Trump.
Laporan dari Anadolu juga menyebutkan adanya komunikasi telepon penting antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Trump pada Senin (8/6/2026), sesaat sebelum Iran mengumumkan penghentian serangan terhadap Israel.
Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa AS dan Israel telah mengirim pesan kepada Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan jika Teheran setuju untuk tidak kembali melanjutkan pertempuran.
Iran Akhiri Operasi dan Beri Peringatan Keras
Di sisi lain, pihak Komando Militer Iran menyatakan telah mengakhiri operasi militernya terhadap Israel setelah memberikan apa yang mereka sebut sebagai “respons yang menyakitkan”. Iran mengklaim serangan rudal tersebut awalnya dipicu oleh tindakan Israel yang menyerang target kelompok Hezbollah yang didukung Iran di wilayah selatan Beirut.
Meski menyepakati penghentian permusuhan sementara, pihak Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa tindakan agresi lebih lanjut di masa depan akan dibalas dengan langkah yang jauh lebih besar.
Baca juga: Sidang TPPU Gus Yazid Memanas: Kubu Terdakwa Pertanyakan Keabsahan Kasus Korupsi Lahan Cilacap
"Jika tindakan agresi dan permusuhan berlanjut, termasuk di Lebanon selatan, langkah yang jauh lebih berat dan menghancurkan daripada sebelumnya akan dilakukan," ancam komando militer Iran.
Hingga saat ini, pihak berwenang Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pembicaraan Netanyahu dan Trump maupun penghentian permusuhan dengan Iran. Sementara itu, laporan AFP di lapangan menegaskan situasi di kawasan masih belum stabil meski pertukaran senjata telah dihentikan sementara. (inas/danur/kps)