TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo terus memastikan kesiapannya menghadapi musim kemarau 2026 ini. Apalagi musim kemarau kali ini diprediksi bisa lebih panjang karena efek El Nino.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, BPBD Kulon Progo, Eko Susanto mengatakan pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi awal menghadapi dampak musim kemarau.
"Kami telah menyiagakan anggaran yang dialokasikan untuk 20 tangki bantuan penyaluran (dropping) air bersih," kata Eko pada wartawan, Senin (08/06/2026).
Setiap tangki air mampu diisi sebanyak 5 ribu liter air. Jumlah tangki yang akan disalurkan pun bisa bertambah, seiring dengan perkembangan situasi ke depan, terutama dari permintaan masyarakat akan air bersih.
Meski begitu, Eko menyatakan hingga kini belum ada permintaan dropping air bersih dari masyarakat. Ia menilai salah satu penyebabnya adalah masih ada curah hujan meski minim di sejumlah wilayah, selain itu upaya mitigasi saat ini sudah masif dalam mencegah dampak kekeringan.
"Ada juga penyediaan sarana dan prasarana (sarpras) air bersih yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan," ujarnya.
Eko menyebut situasi kebencanaan di Kulon Progo saat ini juga landai tanpa status kedaruratan. Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi sudah berakhir pada 30 April 2026 lalu.
Meski belum ada permintaan, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk menyiapkan kewaspadaan dan antisipasinya. Terutama dalam menghadapi kekeringan di pertengahan musim kemarau.
"Kekeringan biasanya mulai terjadi di sekitar bulan Agustus, saat memasuki pertengahan kemarau," jelas Eko.
Salah satu wilayah yang kerap mengalami krisis air bersih adalah Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo. Meski begitu, Lurah Jatimulyo, Anom Sucondro menyampaikan belum ada warga yang melaporkan kesulitan air bersih.
Ia menilai kondisi itu salah satunya disebabkan oleh sistem tata kelola air bersih di Jatimulyo yang kini jauh lebih terstruktur. Salah satunya dengan mengoptimalkan sumber mata air Sumitro.
"Dulu sumber mata air Sumitro hanya untuk sekelompok kecil warga, sekarang bisa untuk sampai 8 padukuhan," ungkap Anom.(alx)