Dari Hobi Jadi Profesi, Esports Kian Diterima Anak Muda Indonesia
Hasiolan Eko P Gultom June 09, 2026 12:20 AM

Dari Hobi Jadi Profesi, Esports Kian Diterima Anak Muda Indonesia
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri gim dan olahraga elektronik (esports) semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang kerja baru bagi generasi muda Indonesia.

Tidak lagi sebatas arena kompetisi bagi pemain profesional, ekosistem esports kini berkembang menjadi ruang yang menampung berbagai profesi dan aktivitas kreatif.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan pertumbuhan ekonomi kreatif saat ini banyak ditopang oleh anak muda yang mencari ruang berkarya sesuai minat, bakat, dan kreativitas mereka.

Baca juga: Jaring Talenta Berbakat, 100 Sekolah di Surabaya Sudah Jadikan Esport Kegiatan Ekstrakurikuler

Menurutnya, perkembangan subsektor gim telah melahirkan ekosistem yang luas, mulai dari pemain, penyiar pertandingan (caster), komunitas, penyelenggara acara, media, kreator konten, hingga pengembang gim.

“Keseluruhan ekosistem mulai dari gamers, casters, komunitas, event organizer, media, hingga profesi baru di subsektor gim membuka lapangan kerja dan ruang tumbuh bagi generasi muda Indonesia,” kata Teuku Riefky, Senin (8/6/2026).

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak agar industri gim dan esports nasional berkembang lebih profesional dan mampu bersaing di tingkat internasional.

Karena itu, subsektor gim ditetapkan sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan ekonomi kreatif nasional.

Bangun Ekosistem, Bukan Hanya Atlet

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kerja sama antara Kementerian Ekraf dan Indonesia Esports Association (IESPA).

Kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat arah pengembangan ekosistem esports Indonesia dalam jangka panjang.

Kerja sama ini diharapkan mampu menyelaraskan pengembangan talenta digital, menciptakan nilai ekonomi baru, serta memperluas ruang inovasi bagi pelaku industri gim dan esports.

Ketua Umum IESPA, Ibnu Sulistyo Riza Pradipto, menilai pengembangan esports tidak cukup hanya berfokus pada pembinaan atlet atau pemain profesional.

Menurutnya, seluruh rantai ekosistem perlu diperkuat agar industri dapat tumbuh secara berkelanjutan.

“IESPA tidak hanya fokus pada pembinaan atlet atau pro player, tetapi juga membangun seluruh rantai ekosistem esports. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kami optimistis esports Indonesia mampu melangkah lebih jauh dan memiliki daya saing di tingkat regional maupun global,” ujarnya.

Generasi Muda Jadi Motor Pertumbuhan

Potensi esports sebagai jalur karier juga tercermin dalam hasil PRO Series Survey, studi global yang melibatkan 18.000 responden di 12 negara.

Survei tersebut menunjukkan bahwa 54 persen responden menganggap profesi gamer profesional sebagai karier yang sah.

Dukungan terbesar datang dari generasi muda, dengan 67 persen Gen Z dan 60 persen milenial menganggap esports sebagai pilihan profesi yang valid.

Sebaliknya, penerimaan dari generasi yang lebih tua masih relatif rendah. Hanya 37 persen kelompok Baby Boomers yang memandang gaming profesional sebagai karier yang layak.

Hasil survei juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan antarnegara. Di China, 74 persen Baby Boomers menerima esports sebagai profesi nyata, sedangkan di Jerman angkanya hanya mencapai 20 persen.

Dorongan Pendidikan Esports Menguat

Seiring berkembangnya industri, dukungan terhadap pendidikan esports juga semakin besar. Sebanyak 65 persen responden global mendukung adanya jalur pendidikan formal untuk esports dan gaming profesional.

Selain itu, 47 persen responden mendukung masuknya esports ke dalam kurikulum sekolah, sementara 37 persen bahkan setuju jika esports dipertimbangkan sebagai cabang dalam ajang Olimpiade.

Dukungan terhadap pendidikan esports paling tinggi tercatat di China, Swiss, dan Amerika Serikat.

Temuan ini menunjukkan kalau esports semakin dipandang sebagai bidang yang membutuhkan kompetensi khusus dan jalur pengembangan yang terstruktur.

Tantangan Masih Ada

Meski terus berkembang, esports masih menghadapi sejumlah tantangan.

Sebanyak 42 persen responden menilai risiko finansial menjadi hambatan terbesar bagi mereka yang ingin menekuni karier di bidang ini. 

Tantangan lain yang sering disebut adalah tingginya persaingan dan masih minimnya dukungan dari lingkungan sosial maupun keluarga.

Sebanyak 42 persen responden juga masih menganggap profesi gamer lebih dekat dengan hobi dibanding pekerjaan utama.

Bahkan hanya sebagian kecil responden dari generasi yang lebih tua yang mengaku akan mendorong anak mereka menjadi atlet esports profesional.

Namun demikian, tren penerimaan terus bergerak positif. Sebanyak 40 persen responden menilai profesi di dunia gaming kini jauh lebih menjanjikan dibandingkan satu dekade lalu.

Industri yang Kian Serius

Perkembangan esports juga didukung oleh semakin besarnya perhatian industri teknologi.

Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez, menilai esports telah berkembang menjadi jalur karier yang serius dan memiliki prospek masa depan.

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa esports tidak lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi salah satu pilihan untuk meraih kesuksesan profesional.

Meski begitu, dukungan pendidikan, pelatihan, dan ekosistem industri masih diperlukan agar lebih banyak generasi muda dapat memanfaatkan peluang yang tersedia.

Dengan jumlah pemain gim yang terus bertambah dan ekosistem yang semakin matang, esports kini tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga salah satu ruang baru bagi lahirnya talenta, inovasi, dan peluang ekonomi kreatif Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.