Real Madrid secara mengejutkan menyerukan kepada UEFA agar mencabut gelar-gelar bersejarah Barcelona, seiring dengan memuncaknya dampak dari skandal Negreira yang kini mencapai titik krisis. Setelah meraih kemenangan telak dalam pemilihan ulang, Florentino Perez langsung mengambil langkah ofensif dengan mengirimkan berkas hukum yang sangat rinci ke markas besar UEFA.
Perez menargetkan sanksi bersejarah
Baru saja memastikan kemenangan besar dengan perolehan suara 65-35 yang menjamin kelanjutan masa jabatannya sebagai presiden, Perez tidak membuang waktu untuk meningkatkan perang Real Madrid melawan rival abadinya. Klub tersebut secara resmi telah mengirimkan berkas hukum yang disebut sangat meledak ke UEFA, satu-satunya otoritas yang dinilai memiliki kewenangan untuk menjatuhkan “hukuman teladan” yang diyakini Madrid harus diterapkan.
Sementara laporan sebelumnya menyoroti kemungkinan larangan tampil di level Eropa, surat kabar AS melaporkan bahwa pihak manajemen di Bernabeu kini mendorong langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni penghapusan gelar-gelar masa lalu Barcelona dari catatan sejarah.
Langkah ini menandai runtuhnya seluruh upaya diplomasi antara dua klub terbesar Spanyol. Perez secara terbuka menyatakan pentingnya tindakan ini, bahkan menegaskan bahwa hubungan antara kedua raksasa Spanyol tersebut kini “secara resmi telah berakhir”.
Berkas ledakan setebal 500 halaman
Menurut laporan AS, dokumen yang dikirim ke Nyon tersebut terdiri dari 500 halaman yang disusun dengan sangat rinci. Di dalamnya terdapat apa yang disebut oleh pejabat Madrid sebagai “bukti nyata” adanya korupsi sistemik yang memengaruhi hasil La Liga selama dua dekade terakhir.
Dokumen tersebut dilaporkan mencakup analisis musim demi musim mengenai jumlah poin yang diyakini Real Madrid “dicuri” dari mereka akibat keberpihakan wasit. Perez pun tak segan memberikan rincian, sebelumnya ia pernah menyatakan bahwa “tahun ini saja mereka telah mengambil antara 16 hingga 18 poin dari kami.”
Dengan menyampaikan data tersebut kepada UEFA, Madrid berharap dapat meyakinkan Presiden Aleksander Ceferin bahwa denda atau skorsing sementara tidak sebanding dengan besarnya dugaan pelanggaran yang terjadi.
Sikap UEFA dan permainan waktu
Ceferin sebelumnya menggambarkan kasus Negreira sebagai salah satu situasi paling serius yang pernah ia saksikan sejak terlibat dalam dunia sepak bola pada tahun 2023. Meskipun badan sepak bola Eropa sempat menunda penyelidikannya demi memberi ruang bagi proses hukum di Spanyol, kedatangan berkas dari Madrid kini kembali menempatkan kasus ini di urutan utama agenda di Swiss.
Pertemuan baru-baru ini antara Perez, Ceferin, dan Presiden FIFA Gianni Infantino kini dipandang sebagai langkah strategis untuk mempersiapkan pengajuan resmi tersebut.
Meski tekanan dari ibu kota Spanyol terus meningkat, UEFA sejauh ini belum memberikan indikasi apakah mereka memiliki kapasitas hukum atau kemauan untuk mencabut gelar domestik secara retroaktif. Namun, badan pengatur tersebut menegaskan tetap “waspada” dan belum pernah menutup berkas kasus klub asal Katalunya itu.
Era baru di Bernabeu
Di tengah memanasnya pertarungan hukum, Real Madrid juga tengah mengalami transformasi besar di sektor olahraga. Klub ini dijadwalkan memperkenalkan Jose Mourinho sebagai pelatih baru dalam beberapa hari mendatang, menandakan kembalinya pendekatan institusional yang lebih agresif di dalam maupun di luar lapangan. Selain perubahan di kursi pelatih, Madrid juga telah merampungkan kesepakatan untuk mendatangkan Ibrahima Konate dan Denzel Dumfries, serta memastikan kembalinya Nico Paz ke skuad utama.
Strategi ganda yang menggabungkan perekrutan agresif dengan pertempuran hukum ini menunjukkan bahwa Perez bermaksud menggunakan mandat barunya untuk mengubah secara permanen hierarki sepak bola Spanyol.