Mahasiswa Waswas atas Tingginya Kasus HIV/AIDS di Kota Semarang 
M Syofri Kurniawan June 09, 2026 07:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Tingginya kasus HIV/AIDS di Kota Semarang menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa.

Sari, mahasiswi asal Semarang, mengaku turut merasa waswas dengan meningkatnya kasus HIV di Kota Semarang.

Sari menilai, tingginya angka kasus menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih memahami risiko penularan HIV.

"Jujur miris dan sangat mengkhawatirkan karena HIV sampai sekarang belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan. Jadi ikut waswas juga," ujar Sari kepada Tribun Jateng, Minggu (7/6/2026).

Menurut Sari, masyarakat, khususnya generasi muda, seharusnya semakin sadar mengenai bahaya HIV dan cara penularannya.

"Dari data kelompok risiko juga terlihat ada perilaku-perilaku berisiko yang menjadi penyebab utama penularan. Harusnya semakin dewasa semakin aware terhadap HIV dan dampaknya," kata Sari.

Sebelumnya, kasus HIV/AIDS di Kota Semarang menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah.

Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus HIV baru ditemukan sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya berasal dari luar Kota Semarang.

Sebelumnya, sepanjang 2025, Kota Semarang mencatat 620 kasus HIV/AIDS dan menjadi daerah dengan temuan kasus tertinggi di Jawa Tengah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, kelompok risiko terbesar masih didominasi laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 44 persen.

Pasien tuberkulosis (TBC) menempati posisi kedua risiko terbesar dengan 12 persen, disusul pasangan risiko tinggi sebesar 11 persen.

Sari juga menyatakan tidak setuju, apabila pergaulan bebas maupun tren yang mengarah pada perilaku seksual berisiko dianggap sebagai hal yang wajar.

Dia juga menyoroti LSL yang menjadi kelompok risiko terbesar dalam data Dinkes Kota Semarang.

"Menurut saya hal seperti itu (hubungan seks sejenis—Red) jangan dinormalisasi," ujarnya.

Ia berharap, pemerintah, kampus, maupun masyarakat dapat memperluas edukasi mengenai HIV melalui sosialisasi, pemeriksaan HIV secara berkala, serta penyebaran informasi yang mudah diakses anak muda.

"Semoga semakin banyak orang yang sadar dan berhati-hati. Anak muda memang sedang dalam fase mengeksplorasi banyak hal, tetapi tetap harus tahu mana yang baik dan mana yang berisiko bagi dirinya," tandasnya.

Perilaku berisiko

Senada, Arin, mahasiswi asal Tuban yang sedang menempuh pendidikan di Semarang, mengaku prihatin dengan peningkatan kasus HIV yang terjadi.

Menurutnya, tingginya angka kasus HIV tidak bisa dilepaskan dari perilaku berisiko yang masih terjadi.

"Lebih ke risau karena ini menunjukkan masih kurangnya kesadaran sebagian orang dan remaja terhadap norma dan etika yang berlaku di masyarakat,” kata Arin.

”Apalagi yang terdampak banyak usia produktif, tentu ini bisa berpengaruh terhadap kualitas generasi ke depan," ujarnya.

Arin menilai, berbagai bentuk pergaulan bebas yang berkembang di kalangan anak muda perlu menjadi perhatian bersama.

Meski demikian, ia menekankan setiap orang tetap memiliki pilihan hidup masing-masing selama tidak merugikan orang lain.

Kabupaten Semarang

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang menemukan tiga kasus HIV/AIDS pada kelompok pelajar dan mahasiswa hingga April 2026.

Meski jumlahnya tidak banyak, temuan tersebut menjadi peringatan bahwa penularan HIV juga dapat terjadi pada kalangan remaja akibat perilaku seks berisiko.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Semarang, Endah Indriati Wurjaningrum mengatakan, kasus HIV/AIDS di wilayahya tercatat 45 kasus hingga April 2026.

Angka tersebut hampir sama dengan tahun sebelumnya. 

"Dari temuan, tidak seluruhnya berasal dari warga Kabupaten Semarang. Sebagian kasus merupakan warga dari luar daerah yang memilih menjalani pemeriksaan atau mendapatkan layanan kesehatan di Kabupaten Semarang," kata Endah kepada Tribun Jateng, Senin (8/6/2026). 

Endah menyebut, kelompok paling banyak terkena HIV/AIDS adalah kelompok usia produktif berusia 26-30 tahun.

Sebanyak 73 persen kasus HIV pada laki-laki, sedangkan 27 persen kasus HIV pada perempuan.

Dia mengungkapkan, faktor penyebab paling berkontribusi menyumbang kasus HIV/AIDS adalah seks berisiko dengan berganti-ganti pasangan atau seks bebas.

Seks berisiko ini menyumbang 80 persen dari total kasus.

Bahkan, mirisnya tiga kasus terjadi pada kalangan pelajar dan mahasiswa akibat seks bebas. 

Lebih lanjut, Endah menambahkan, seks bebas pada kalangan homoseksual juga masih menyumbangkan kasus.

"Ada 11 kasus LSL (laki-laki suka laki-laki—Red) atau 24 persen dari total kasus. Ini perlu meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang risiko seks bebas," tuturnya. (Rezanda Akbar D/Eka Yulianti Fajlin) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.