TRIBUNGORONTALO.COM – Kehadiran ekonom senior Muhammad Chatib Basri di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (9/6/2026) langsung memicu berbagai spekulasi politik.
Namanya bahkan santer disebut-sebut masuk dalam bursa calon Menteri Keuangan di tengah isu reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Chatib tiba di Istana bersama sejumlah tokoh lain, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan, serta dirinya yang saat ini juga menjabat sebagai anggota DEN.
Dari sejumlah nama yang hadir, sosok Chatib menjadi yang paling menyita perhatian publik.
Baca juga: Heboh! Oknum Eselon Diduga Kelola Lebih dari 100 Dapur Makan Bergizi Gratis
Ia dirumorkan bakal menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Namun saat dicegat wartawan terkait isu tersebut, Chatib memilih irit bicara.
Ia tidak memberikan jawaban tegas dan justru meminta awak media menanyakan hal itu kepada Luhut.
Meski belum ada kepastian mengenai isu pergantian menteri, nama Muhammad Chatib Basri bukanlah figur asing dalam dunia ekonomi Indonesia.
Pria bernama lengkap Muhammad Chatib Basri itu dikenal sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh di Tanah Air dengan spesialisasi di bidang makroekonomi, perdagangan internasional, dan ekonomi politik.
Kariernya di pemerintahan mencapai puncak ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia sejak 21 Mei 2013 hingga 20 Oktober 2014.
Baca juga: Usai Disorot Dino Patti Djalal, Prabowo Akui Keterlambatan Terima Surat Kepercayaan Dubes
Sebelum menduduki posisi tersebut, Chatib terlebih dahulu menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak Juni 2012.
Saat memimpin Kementerian Keuangan, Chatib dikenal sebagai sosok yang fokus menjaga stabilitas ekonomi nasional ketika dunia menghadapi perlambatan ekonomi dan gejolak pasar keuangan global.
Ia berupaya mempertahankan kepercayaan investor terhadap Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi internasional.
Sebelumnya, Chatib juga pernah mengemban tugas sebagai Penasehat Khusus Menteri Keuangan pada periode 2006 hingga 2010.
Dalam kurun waktu yang sama, ia dipercaya menjadi Deputi Menteri Keuangan untuk forum G20 serta Sherpa Indonesia pada forum internasional tersebut.
Setelah tidak lagi berada di kabinet, kiprah Chatib dalam dunia ekonomi nasional tidak berhenti.
Pada 5 November 2024, ia resmi dilantik sebagai anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), lembaga yang bertugas memberikan rekomendasi dan masukan kebijakan ekonomi kepada pemerintah.
Melalui posisi tersebut, Chatib terus terlibat dalam berbagai pembahasan strategis, mulai dari pertumbuhan ekonomi, reformasi fiskal, investasi, hingga transformasi industri.
Tidak hanya di dalam negeri, Chatib Basri juga memiliki reputasi yang cukup kuat di tingkat internasional.
Saat ini, ia menjabat sebagai Co-Chair Pandemic Fund, lembaga global yang berfokus pada kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi di masa depan.
Ia juga tercatat sebagai anggota Independent High-Level Expert Group on Climate Finance yang mendukung agenda pembiayaan perubahan iklim pada forum COP27 dan COP28.
Pengalaman internasionalnya bertambah melalui berbagai posisi strategis lainnya, seperti anggota Governing Board Lee Kuan Yew School of Public Policy di National University of Singapore serta anggota Climate Overshoot Commission.
Chatib juga pernah terlibat dalam World Bank Advisory Council on Gender and Development dan Advisory Board Centre for Applied Macroeconomic Analysis.
Di luar aktivitas sebagai ekonom dan penasihat kebijakan, ia tetap aktif di dunia akademik.
Chatib mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan rutin menjadi pembicara dalam berbagai forum ekonomi internasional.
Kapasitas akademiknya juga diakui melalui berbagai posisi prestisius, antara lain sebagai Ash Center Senior Fellow di Harvard Kennedy School pada 2015–2016 serta Fellow di Centre on Global Transformation, University of California San Diego.
Ia pun kerap terlibat dalam Harvard Ministerial Leadership Forum dan program Comparative Tax Policy and Administration Executive Education di Harvard Kennedy School.
Selain itu, Chatib memiliki pengalaman panjang di sektor korporasi.
Saat ini, ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk dan Presiden Komisaris PT XL Axiata Tbk.
Keterlibatannya di dunia usaha memperkaya pengalamannya dalam bidang perbankan, telekomunikasi, investasi, serta tata kelola perusahaan.
Sebelumnya, pendiri CReco Research Institute tersebut juga pernah menjadi Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional serta komisaris di sejumlah perusahaan publik.
Dengan kombinasi pengalaman sebagai mantan Menteri Keuangan, anggota Dewan Ekonomi Nasional, akademisi, hingga tokoh ekonomi internasional, tidak mengherankan jika nama Chatib Basri kembali masuk dalam berbagai spekulasi terkait posisi strategis di pemerintahan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai kebenaran rumor pergantian Menteri Keuangan tersebut.
Namun, rekam jejak panjang yang dimiliki Chatib Basri membuatnya tetap menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam pembahasan arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Jika isu tersebut benar terjadi, maka Chatib bukanlah orang baru di Kementerian Keuangan. Pengalamannya dalam mengelola kebijakan fiskal, investasi, dan menghadapi dinamika ekonomi global menjadi modal penting untuk menjawab tantangan ekonomi yang semakin kompleks. (*)