Pernah mendengar istilah ‘gegenpressing’? Tidak tahu apa artinya? Nah, inilah alasan kami hadir untuk membantu menjelaskannya.
Pelopor taktik gegenpressing, Jürgen Klopp, telah memberikan kontribusi besar terhadap keindahan permainan sepak bola.
Seperti halnya para manajer legendaris lainnya, Klopp akan meninggalkan lebih dari sekadar kenangan akan trofi, permainan memukau, dan selebrasi penuh energi. Kedatangannya di Liverpool pada tahun 2015 serta transformasi yang ia bawa memperkenalkan istilah ‘gegenpressing’ ke dalam kosa kata sepak bola Inggris.
Tetapi apa sebenarnya arti dari taktik ini, dan bagaimana pula dengan istilah yang sering menyertainya, “heavy-metal football”? Berikut penjelasan sederhana mengenai istilah sepak bola ini saat majalah FourFourTwo mengulasnya secara taktis.
Saya Jack, telah menonton sepak bola dari sudut pandang taktis selama lebih dari satu dekade, menganalisis tren bukan hanya di level tertinggi permainan, tetapi juga bagaimana strategi dan pendekatan tersebut dapat diterapkan di level amatir.
Saya juga merupakan pelatih bersertifikat FA Level 2 dan telah banyak menulis analisis taktik untuk berbagai publikasi. Sebagian besar waktu luang saya dihabiskan untuk berlatih, bermain sepak bola, atau menyusun pendekatan taktis sempurna di gim Football Manager.
Secara harfiah, gegenpressing adalah istilah Jerman untuk counter-pressing atau tekanan balik. Counter-pressing berarti ketika sebuah tim kehilangan penguasaan bola dan langsung berusaha merebutnya kembali secepat mungkin.
Pada dasarnya, para ‘gegenpresser’ melakukan kebalikan dari mundur ke posisi bertahan mereka. Tujuannya adalah merebut bola kembali segera setelah hilang.
Dalam cuplikan di atas, tim berbaju emas sedang mencoba membangun serangan dari belakang ketika bek kanan tim biru merebut bola dan mengopernya ke belakang. Alih-alih mundur ke bentuk bertahan, tim emas justru menekan, memaksa lawan kehilangan bola, dan mencetak gol sebagai hasil dari keberhasilan merebut bola di area tinggi lapangan.
Pemain yang baru saja menerima bola setelah pergantian penguasaan sering kali belum memiliki waktu cukup untuk menilai opsi umpan terbaiknya. Secara teori, inilah waktu paling ideal untuk merebut bola kembali. Tim yang telah menguasai teknik ini biasanya akan mengerubungi pemain lawan yang memegang bola, layaknya lebah mengelilingi madu.
Beragam fitur, hiburan, dan kuis sepak bola terbaik akan hadir ke kotak masuk Anda setiap minggu.
Meski beberapa pengamat menganggap Klopp sebagai sosok yang sekadar memoles ulang konsep lama, strategi gegenpressing bukan sekadar berlari keras mengejar bola.
Di level mana pun, tim yang mengandalkan gegenpressing atau counter-pressing harus memiliki organisasi tim yang sangat baik serta kondisi fisik yang prima.
Walaupun counter-pressing sering diidentikkan dengan Klopp dan rival lamanya, Pep Guardiola, mantan pelatih Borussia Dortmund yang menempati peringkat ke-29 dalam daftar manajer terbaik sepanjang masa versi FourFourTwo, selalu memberi kredit kepada pelatih Jerman lain yang mengembangkan taktik ini.
Ralf Rangnick mungkin gagal memberi dampak positif besar saat menjadi pelatih sementara Manchester United pada musim 2021/22, namun jauh sebelum itu ia telah dijuluki sebagai ‘bapak pressing’.
Tim Hoffenheim asuhannya di akhir tahun 2000-an dikenal fleksibel dalam formasi, namun sangat efektif menerapkan counter-pressing. Rangnick bahkan mampu menjalankan taktik ini dengan formasi 4-4-2, di masa ketika formasi tersebut sudah jarang digunakan di Eropa.
Rangnick dikatakan memengaruhi Klopp setelah Hoffenheim mengalahkan Dortmund asuhannya dengan skor 4-1 pada awal musim 2008/09. Kisah serupa juga berlaku bagi Thomas Tuchel, Julian Nagelsmann, dan Ralph Hasenhuttl. Bagi para pelatih ini, gegenpressing menjadi fondasi utama dari pendekatan taktis mereka.
Akar dari strategi pressing ini dapat ditelusuri ke filosofi Belanda ala Rinus Michels, sementara Guardiola menjadi pendukung modern paling terkenal dari teori bahwa tim lawan paling rentan dalam enam detik pertama setelah menerima bola.
Jürgen Klopp pernah mengatakan bahwa “Counter pressing adalah playmaker terbaik.” Tim Liverpool asuhannya membuktikan hal ini dengan menjadikan bek kanan Trent Alexander-Arnold sebagai pusat kreativitas dari posisi dalam, tanpa menggunakan gelandang nomor 10 klasik. Sebaliknya, dua gelandang nomor 8 seperti Gini Wijnaldum dan Jordan Henderson lebih berperan sebagai pemain box-to-box. Meski keduanya mampu memberikan umpan akhir dan masuk ke kotak penalti, tugas utama mereka adalah mendominasi secara fisik di lini tengah melawan tim dengan kekuatan yang lebih ringan.
Selama periode transisi itu, tim lawan belum dalam bentuk terbaiknya dan rentan kehilangan bola. Karena itulah pressing cepat dilakukan untuk merebut bola sebelum lawan sempat menata ulang posisi.
Penting untuk dicatat bahwa counter-pressing berbeda dengan high press. Meskipun Klopp menyukai high press untuk menekan di sepertiga akhir lawan, beberapa pelatih memilih trigger pressing cepat di area tengah lapangan. Unai Emery, misalnya, terkadang lebih memilih tekanan cepat di tengah ketimbang mendorong penyerangnya terlalu tinggi ke depan untuk menekan bek tengah lawan.
Namun, ada beberapa kelemahan dari counter-pressing. Masalah paling jelas adalah semakin banyak pemain yang mengejar bola, semakin besar ruang kosong yang ditinggalkan di belakang. Karena itu, ketika menghadapi gelandang bertahan berkualitas tinggi yang mampu memberikan umpan akurat satu sentuhan, tim yang menerapkan gegenpressing secara kaku bisa dengan mudah terekspos.
Bek tengah dan kiper yang pandai menguasai bola telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Saat Guardiola pertama kali merevolusi permainan, high press dianggap sebagai pendekatan terbaik. Namun kini, banyak pelatih yang memilih tidak melakukan counter-pressing melawan tim seperti Arsenal asuhan Mikel Arteta, Brighton di bawah Roberto De Zerbi, dan Newcastle milik Eddie Howe. Mereka lebih memilih menunggu sambil menjaga bentuk pertahanan yang rapat, hingga lawan hanya mengoper bola secara horizontal tanpa mampu menembus pertahanan. Pendekatan ini bisa lebih efektif untuk menyerang balik dibandingkan dengan terus menekan tinggi.
Selain itu, intensitas tinggi yang dibutuhkan taktik ini membuatnya sulit diterapkan terus-menerus sepanjang musim yang panjang. Karena alasan itu pula, pelatih yang menggunakan gegenpressing biasanya melakukan rotasi pemain secara teratur. Misalnya, ketika Liverpool memenangkan Liga Champions 2018/19, tim yang dianggap sebagai sebelas terbaik mereka hanya bermain bersama sebagai starter dalam satu pertandingan—yang kebetulan adalah final melawan Tottenham Hotspur.
Mark White, Editor Konten