BANGKAPOS.COM, BANGKA - Siang itu laut tampak tenang di pesisir Desa Penyak, Kecamatan Koba. Permukaannya berkilau diterpa matahari, nyaris tanpa gelombang besar. Namun ketenangan itu menyimpan cerita lain bagi warga yang tinggal di bibir pantai.
Di salah satu titik pesisir, dinding penahan ombak yang dibangun beberapa tahun lalu terlihat retak dan amblas. Sebagian konstruksi beton miring ke arah laut, terkikis waktu dan terus-menerus dihantam pasang surut air.
Tak jauh dari sana, garis pantai hanya berjarak beberapa meter darirumah-rumah warga. Hamparan pasir yang dahulu menjadi pemisah antara laut dan permukiman kini semakin menyempit. Di beberapa bagian, jejak abrasi terlihat jelas. Akar pohon bakau menggantung di tepian yang tergerus, sementara pondasi bangunan tua tampak terekspos akibat tanah yang hilang sedikit demi sedikit.
Bagi sekitar 200 kepala keluarga yang tinggal di RT 1 hingga RT 3 Desa Penyak, ancaman itu bukan sekadar data atau angka dalam laporan kebencanaan. Abrasi adalah kenyataan yang mereka lihat setiap hari dari halaman rumah.
“Nah, dari RT 1 sampai RT 3 hampir semuanya terdampak, mungkin ada 200 KK tinggal di situ. Mudah-mudahan adanya pembangunan ini, insyaallah rumah warga yang terdampak bisa aman dan nyaman,” ujar Kepala Desa Penyak, Saparudin, Selasa (9/6).
Harapan itu kembali menguat setelah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung memastikan kelanjutan pembangunan pengaman pantai di kawasan Penyak hingga Terentang.
Bagi warga, proyek tersebut bukan hanya pembangunan infrastruktur biasa. Ia dipandang sebagai benteng terakhir yang menjaga rumah, halaman, jalan lingkungan dan ruang hidup mereka dari ancaman laut yang terus mendekat.
Ancaman abrasi di pesisir Penyak bukan persoalan baru. Warga telah bertahun-tahun menyaksikan perubahan garis pantai. Pada musim angin
tertentu, gelombang yang datang dari laut lepas mampu menggerus daratan sedikit demi sedikit. Kerusakan paling nyata terlihat pada beberapa
bagian talud lama yang kini tidak lagi mampu menahan tekanan ombak secara optimal.
Kondisi lapangan memperlihatkan bagaimana sebagian struktur pelindung pantai mengalami kerusakan. Retakan memanjang terlihat di badan
talud, sementara beberapa bagian pondasi tampak menggantung akibat material tanah di bawahnya tergerus air. Di titik lain, rumah warga berdiri tidak jauh dari bibir pantai.
Saat air pasang tinggi, kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang paling dikhawatirkan masyarakat. Karena itu, rencana pembangunan lanjutan pengaman pantai disambut positif oleh warga.
”Alhamdulillah, tidak ada penolakan dari warga dan sampai sekarang mereka justru sangat berharapagar pembangunan ini dapat segera dilaksanakan dan diselesaikan dengan baik,” kata Saparudin.
Ancaman Serius
Apa yang terjadi di Penyak sebenarnya merupakan gambaran dari persoalan yang lebih luas di Kabupaten Bangka Tengah. Sebagai daerah
yang memiliki 23 desa pesisir, ancaman gelombang tinggi dan abrasi telah masuk dalam kajian risiko kebencanaan daerah.
Kepala BPBD Bangka Tengah, Yudhi Sabara, menyebutkan terdapat tiga kecamatan yang masuk kategori risiko tinggi terhadap abrasi dan cuaca ekstrem, yakni Kecamatan Lubuk Besar, Kecamatan Koba, dan Kecamatan Pangkalanbaru.
“Berdasarakan hasil dari kajian, bahwa untuk daerah Lubuk Besar berisiko abrasi pantai, bersama Kecamatan Koba dan Pangkalanbaru,” ujar Yudhi beberapa waktu lalu.
Sementara Kecamatan Sungaiselan, Simpangkatis, dan Namang berada pada kategori risiko sedang. Menurut Yudhi, berbagai langkah mitigasi
telah dilakukan, mulai dari penanaman mangrove hingga peningkatan kapa sitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana pesisir.
“Bentuk pencegahan lainnya yakni peningkatan kapasitas masyarakat, melalui penyuluhan, sosialisasi tentang mitigasi dan kesiapsiagaan dalam
menghadapi kejadian gelombang ekstrim dan abrasi,” katanya. (w4)
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (Satker PJSA) BWS Bangka Belitung, Agus Saputra, menjelaskan bahwa pekerjaan yang akan dilakukan merupakan kelanjutan dari pembangunan pengaman pantai yang telah berjalan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Jadi ini merupakan proyek lanjutan yang sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Alhamdulillah tahun ini, kita masih bisa mendapatkan porsi anggaran untuk melanjutkan pembangunannya,” ujar Agus.
Menurutnya, pengaman pantai akan dibangun menggunakan susunan buis beton yang dikenal sebagai salah satu alternatif struktur perlindungan pantai yang lebih ekonomis dan relatif mudah di pasang.
Pekerjaan akan difokuskan pada titik-titik yang berada di belakang rumah warga, terutama pada bagian sela-sela tanggul batu yang sebelumnya
belum terlindungi secara maksimal.
“Pekerjaan ini kita rencanakan nanti diselesaikan sampai dengan akhir tahun, sampai tanggal 30 Desember 2026. Kemudian untuk dimulainya, akan diusahakan dalam bulan ini,” terangnya.
Karena lokasi pekerjaan berada sangat dekat dengan permukiman, Agus meminta masyarakat memahami kemungkinan gangguan yang muncul selama proses konstruksi berlangsung.
“Untuk itu pada sosialisasi ini kami sangat mengharapkan dukungan dari Bapak/Ibu, terutama masyarakat terdampak. Karena mungkin kegiatan ini karena berada langsung di rumah warga, jadi barangkali mungkin akan lebih banyak mengganggu aktivitas atau menimbulkan kebisingan,” jelasnya.
“Bahkan mungkin proses pengerjaan juga akan dilakukan ketika malam hari juga, karena kami harus bekerja menyesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut,” tambah Agus.
Bagi warga Penyak, pembangunan pengaman pantai bukan sekadar soal beton, batu, atau buis yang ditanam di tepi laut. Di balik proyek itu ada
rasa aman yang selama ini mereka tunggu. Ada rumah rumah yang ingin tetap berdiri untuk anak cucu mereka. Ada halaman tempat bermain
anak-anak yang tak ingin hilang ditelan ombak.
Saparudin berharap setelah kawasan pesisir terlindungi, masyarakat dapat menjaga fasilitas yang dibangun pemerintah. Bahkan, ia melihat peluang baru yang bisa tumbuh dari kawasan pantai tersebut.
“Kami berharap dari masyarakat sendiri, warga Desa Penyak bisa menjaga fasilitas itu nantinya. Bisa menjaga pantai-pantainya dan juga
bisa menjadi pariwisata yang baru untuk warga kami Desa Penyak,” ujarnya. (w4)