Reaksi Terbaru Warga Tarakan Mengetahui Harga Pertamax Hari Ini Tembus Rp17.000 per Liter
Amiruddin June 10, 2026 12:39 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Beginilah reaksi terbaru warga Tarakan saat pertama kali mengetahui harga Pertamax hari ini naik dan tembus Rp17.000 per liter, Rabu 10 Juni 2026.

Kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang kini menyentuh angka Rp17.000 per liter, membuat sejumlah pengguna BBM nonsubsidi di Kota Tarakan terkejut. 

Salah satunya dirasakan Nanda, warga Gunung Lingkas yang baru mengetahui adanya penyesuaian harga saat mengisi bahan bakar di SPBU.

Nanda yang ditemui di SPBU Gunung Lingkas usai mengisi Pertamax, mengaku tidak menyangka harga Pertamax mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya, yang berada di kisaran Rp12.500 per liter.

Saat ditemui usai mengisi bahan bakar, ia mengaku baru mengetahui kabar kenaikan tersebut pada hari ini, Kamis (10/6/2026).

"Baru tahu sekarang," ujar Nanda.

Ketika ditanya mengenai besaran kenaikan yang dirasakannya, Nanda sempat menghitung selisih harga lama dan harga baru.

" Rp4.000-an," katanya.

 

KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Pantauan hari pertama pasca kenaikan harga Pertamax di SPBU Gunung Lingkas belum terjadi antrean yang beralih ke pertalite, di pagi hari hingga pukul 10.00 WITA, Kamis (10/9/2026). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Pantauan hari pertama pasca kenaikan harga Pertamax di SPBU Gunung Lingkas belum terjadi antrean yang beralih ke pertalite, di pagi hari hingga pukul 10.00 WITA, Kamis (10/9/2026). Beginilah reaksi terbaru warga Tarakan saat pertama kali mengetahui harga Pertamax hari ini naik dan tembus Rp17.000 per liter, Rabu 10 Juni 2026. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

 

Baca juga: Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan Ungkap Pelanggan Kaget Harga Pertamax Naik jadi Rp17.000

Kenaikan sekitar Rp4.100 per liter itu menurutnya cukup terasa bagi pengguna kendaraan yang selama ini mengandalkan Pertamax sebagai bahan bakar utama.

Meski demikian, pria yang berdomisili di kawasan Gunung Lingkas tersebut, mengaku tidak terlalu sering mengisi bahan bakar karena aktivitas berkendaranya tidak terlalu padat.

"Saya sih biasa seminggu sekali sih," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal sebelum kenaikan harga, dirinya biasanya mengeluarkan biaya sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000 untuk sekali pengisian.

Namun setelah harga Pertamax naik, kebutuhan biaya pengisian ikut bertambah. 

Untuk memenuhi tangki motornya, kini diperlukan dana yang lebih besar dibanding sebelumnya.

"Full-nya sekarang Rp60 ribuan," kata Nanda.

Pada pengisian terakhir, ia memilih membeli Pertamax senilai Rp50.000.

"Tapi hari ini beli Rp50 ribu aja sih saya isi tadi," tuturnya.

Meski tidak sampai membuatnya panik, Nanda mengakui kenaikan harga tersebut cukup mengejutkan. 

Saat ditanya apakah dirinya kaget dengan perubahan harga yang terjadi, ia menjawab singkat.

"Lumayan kaget sih," ucapnya.

Namun demikian, kenaikan harga Pertamax belum sampai mengubah pola konsumsi bahan bakarnya. 

Nanda mengaku tetap akan menggunakan Pertamax dan belum memiliki rencana beralih ke Pertalite.

Menurutnya, alasan utama bukan sekadar kebiasaan, melainkan menyesuaikan spesifikasi kendaraan yang digunakan sehari-hari.

"Enggak akan beralih, tetap ke Pertamax," jawabnya saat ditanya apakah akan beralih ke Pertalite.

Ia menjelaskan motor yang digunakannya memiliki kapasitas mesin 150 cc, sehingga sejak awal memang menggunakan Pertamax.

"Karena saya kan motornya 150 cc. 

Harusnya pakai Pertamax memang," jelasnya.

Bagi Nanda, penggunaan BBM dengan angka oktan yang sesuai menjadi pertimbangan utama dibanding sekadar mencari harga yang lebih murah.

Saat disinggung apakah penggunaan Pertalite dapat berdampak pada kondisi kendaraan, ia memilih menyerahkan keputusan tersebut kepada masing-masing pemilik kendaraan.

"Tergantung orang masing-masing sih sebenarnya," katanya.

Karena alasan itu pula, dirinya memastikan tetap menggunakan Pertamax meski harga mengalami kenaikan cukup tinggi.

"Iya, tetap Pertamax. 

Karena memang Pertamax kan dari awal motor saya," lanjutnya.

Meski belum mengetahui apakah teman-temannya juga sudah mengetahui kenaikan harga tersebut, Nanda memperkirakan perubahan harga Pertamax akan menjadi topik pembicaraan di kalangan pengguna kendaraan dalam beberapa hari ke depan.

 

Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan Ungkap Pelanggan Kaget

Di SPBU Kelurahan Gunung Lingkas Tarakan, Kalimantan Utara, harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.900 per liter, kini menjadi Rp17.000 per liter, atau naik sebesar Rp4.100 per liter.

Pengawas SPBU Gunung Lingkas, Eko Sarwoko, membenarkan kenaikan harga Pertamax tersebut, sudah mulai berlaku sejak pagi hari.

"Benar sekali. 

Per tanggal 10 hari ini, tepatnya mulai berlaku dini hari. 

Dari semula harga Rp12.900 sekarang menjadi Rp17.000," ujar Eko kepada TribunKaltara.com di Tarakan, Rabu pagi.

Menurutnya, SPBU Gunung Lingkas mulai melayani pembelian BBM sejak pukul 06.00 Wita, dan sejak dibuka harga baru Pertamax sudah diberlakukan kepada seluruh konsumen.

"Per hari ini sudah berlaku. 

Kami jam 06.00 sudah mulai," katanya.

Eko mengungkapkan, sebagian pelanggan yang datang mengaku terkejut mengetahui kenaikan harga Pertamax yang cukup tinggi tersebut.

"Awalnya mereka kaget saja. 

Mereka bilang, 'Oh naik lagi Mas? Naik sudah Mas?' 

Ya kami sampaikan kalau per hari ini naik menjadi Rp17.000," ujarnya.

 

Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan, Eko Sarwoko
KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan, Eko Sarwoko, saat diwawancarai media di Tarakan, Kamis (10/9/2026). Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan mengungkapkan bahwa pelanggan kaget mengetahui harga BBM jenis Pertamax naik jadi Rp17.000 per liter. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH

 

Baca juga: Harga Pertamax Naik Hari Ini di Kaltara, Cek Juga di Kaltim hingga Kalsel

Meski demikian, hingga saat ini mayoritas pelanggan masih tetap membeli Pertamax, dan belum terlihat adanya pergeseran signifikan ke BBM jenis Pertalite.

"Mereka tetap beli. 

Mungkin karena sudah biasa dengan kendaraannya menggunakan Pertamax. 

Jadi hari ini mereka tetap isi Pertamax," ucapnya.

Ia menambahkan, pihaknya masih akan memantau beberapa hari ke depan untuk melihat apakah kenaikan harga tersebut akan berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat.

"Kita kan belum tahu berikutnya bagaimana. 

Karena baru hari ini, jadi kita lihat beberapa hari ke depan," katanya.

Pantauan TribunKaltara.com di SPBU Gunung Lingkas, menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berjalan normal. 

Hingga beberapa jam setelah operasional dibuka, belum terlihat antrean kendaraan baik pada dispenser Pertamax maupun Pertalite.

"Belum ada antrean. 

Pertalite juga normal saja. 

Sejak kenaikan Pertamax dari pagi pembelian masih normal," ungkap Eko.

Terkait pasokan, Eko menjelaskan Pertamax tidak memiliki kuota khusus sebagaimana BBM subsidi, sehingga jumlah pengadaan bergantung pada kebutuhan dan permintaan pengelola SPBU.

"Kalau Pertamax itu sesuai permintaan dari owner saja. 

Karena dia tidak ada kuotanya untuk BBM non-subsidi," jelasnya.

Dalam kondisi normal, SPBU Gunung Lingkas menerima pasokan sekitar 8 kiloliter (KL) Pertamax setiap dua hingga tiga hari.

"Biasanya per dua atau tiga hari kami isi 8 KL. 

Tergantung pembelian konsumen per harinya berapa," katanya.

Jika dihitung dalam satu bulan, kebutuhan Pertamax di SPBU tersebut bisa mencapai sekitar 64 KL atau sekitar 64 ribu liter.

"Kalau rutin per tiga hari, kurang lebih sekitar 64 KL sebulan," ujarnya.

Meski penggunaan Pertamax terus meningkat, penjualan Pertalite masih mendominasi dibandingkan BBM non-subsidi tersebut.

"Kalau dibandingkan tetap Pertalite lebih banyak karena harganya Rp10.000. 

Penjualan Pertalite otomatis lebih besar," katanya.

Eko menyebut konsumsi Pertalite di SPBU Gunung Lingkas bisa mencapai sekitar 15 KL atau 15 ribu liter per hari.

"Satu hari bisa sampai 15 ton atau sekitar 15 ribu liter," ujarnya.

Sementara itu, konsumsi Pertamax rata-rata berkisar antara 2.000 hingga 3.000 liter per hari.

"Kalau Pertamax paling 2.000 sampai 3.000 liter saja per hari," tambahnya.

Menurut Eko, tren penggunaan Pertamax mulai menunjukkan peningkatan cukup signifikan sejak tahun 2025.

"Kayaknya tahun 2025 mulai terlihat pertumbuhannya. 

Kalau sebelumnya normal-normal saja. 

Mulainya dari situ pelan-pelan naik," katanya.

 

Pantauan hari pertama pasca kenaikan harga Pertamax di SPBU Gunung Lingkas
KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Pantauan hari pertama pasca kenaikan harga Pertamax di SPBU Gunung Lingkas belum terjadi antrean yang beralih ke pertalite, di pagi hari hingga pukul 10.00 WITA, Kamis (10/9/2026). Pengawas SPBU Gunung Lingkas Tarakan mengungkapkan bahwa pelanggan kaget mengetahui harga BBM jenis Pertamax naik jadi Rp17.000 per liter. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH

Baca juga: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Naik: Segini Harga BBM di Kaltara Hari Ini

Pada tahun 2025, rata-rata konsumsi Pertamax berada di kisaran 1.500 hingga 2.000 liter per hari. 

Kini angkanya telah meningkat menjadi 2.000 hingga 4.000 liter per hari pada waktu tertentu.

"Kalau sekarang bisa sampai 2.000, 3.000 bahkan 4.000 liter. 

Kadang ada pembeli dalam jumlah besar juga," ujarnya.

Mengenai kenaikan harga, Eko menilai lonjakan harga Pertamax kali ini merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menjelaskan selama sekitar tiga hingga empat bulan terakhir harga Pertamax cenderung stabil di angka Rp12.900 per liter.

"Sudah hampir tiga sampai empat bulanan tidak pernah naik. 

Sejak Rp12.900 itu tetap," katanya.

Sebelumnya perubahan harga Pertamax umumnya hanya berkisar Rp300 hingga Rp1.000 per liter setiap bulan.

"Dulu naiknya paling Rp300, Rp400, paling besar sekitar Rp950 sampai Rp1.000. 

Nah ini yang paling besar, langsung naik Rp4.100," ungkapnya.

Eko mengatakan fluktuasi harga BBM non-subsidi memang mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah dan perkembangan harga minyak dunia.

"BBM non-subsidi memang tiap bulan ada perubahan harga. 

Bisa turun, bisa naik. 

Sejak perang di Timur Tengah itu harga BBM non-subsidi mulai merangkak naik," jelasnya.

Meski harga Pertamax melonjak cukup tajam, Eko meyakini pengguna setia Pertamax tidak akan langsung beralih seluruhnya ke Pertalite.

Menurutnya, banyak konsumen yang tetap memilih Pertamax karena mempertimbangkan kualitas bahan bakar untuk kendaraan mereka.

"Pengguna spesial yang sudah merasakan manfaat Pertamax biasanya tetap bertahan. 

Mereka memperhatikan kualitas dan kondisi kendaraannya," katanya.

Bahkan, kata dia, tidak sedikit pelanggan yang merasakan perbedaan performa kendaraan ketika menggunakan Pertamax secara penuh dibandingkan mencampurnya dengan jenis BBM lain.

"Mereka sering tanya, boleh tidak dicampur. 

Boleh saja, tapi nanti manfaat Pertamaxnya tidak terlalu terasa. 

Beda dengan yang full pakai Pertamax, pasti terasa," ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan akan ada sebagian konsumen yang beralih ke Pertalite akibat kenaikan harga terbaru ini.

"Kalau menurut saya mungkin ada yang beralih, tapi tidak terlalu besar. 

Karena kalau khusus di Tarakan ini, pengguna Pertamax biasanya tetap bertahan walaupun harganya naik," katanya.

Hingga hari pertama pemberlakuan harga baru, Eko mengaku belum melihat adanya perubahan pola pembelian masyarakat.

"Kalau saya lihat hari ini belum ada. 

Karena baru hari ini juga. 

Mungkin ada yang belum tahu. 

Nanti setelah beberapa hari baru bisa kita lihat perkembangannya," tutupnya. 


(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.