TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Euforia Piala Dunia 2026 mulai terasa di berbagai penjuru dunia, termasuk di Bali.
Namun di tengah gegap gempita turnamen terbesar sepanjang sejarah FIFA itu, legenda sepak bola Bali I Wayan Sukadana justru merasakan nuansa yang berbeda dibanding era kejayaan Piala Dunia 1998.
Mantan gelandang Timnas Indonesia tersebut mengenang bagaimana atmosfer Piala Dunia Prancis 1998 begitu hidup, penuh atribut, dan memiliki “ruh” sepak bola yang kuat di tengah masyarakat.
Menurutnya, kemeriahan Piala Dunia 2026 saat ini belum sepenuhnya menghadirkan ikatan emosional seperti yang dirasakan pencinta sepak bola pada akhir 1990-an.
Menyoal Piala Dunia 2026 yang mulai bergulir, ketika ditarik kembali ke lembaran sejarah, ingatan Legenda sepak bola Indonesia I Wayan Sukadana langsung tertuju pada satu titik kulminasi terbaik Piala Dunia sepanjang masa dalam hidupnya, yakni Prancis 1998.
Baginya, turnamen edisi tersebut merupakan standar emas bagaimana sebuah pesta sepak bola sejagat seharusnya diselenggarakan dan dirayakan.
"Buat saya, Piala Dunia yang paling berkesan adalah saat Prancis 1998. Kenapa? Karena euforianya sangat luar biasa di segala lini," tutur Sukadana kepada Tribun Bali, pada Rabu 10 Juni 2026.
"Hampir setiap negara diperkuat oleh pemain-pemain bintang yang berstatus ikon di klub top masing-masing," sambung dia.
Ia fasih menyebutkan nama-nama magis yang menghiasi layar kaca kala itu, memicu imajinasi kolektif para pencinta sepak bola di seluruh kolong jagat, termasuk di Bali.
"Sebut saja Zinedine Zidane dan Lilian Thuram di Prancis, lalu ada Ronaldo Nazario dan Roberto Carlos di Brasil. Belum lagi Davor Suker yang membawa Kroasia mengejutkan dunia," kata dia.
"Michael Owen dan David Beckham di Inggris, Dennis Bergkamp di Belanda, dan banyak lagi bintang top dunia hadir di satu panggung. Itu adalah era di mana kualitas individu benar-benar mematangkan turnamen," jelasnya.
Momen puncak yang tak akan pernah terhapus dari memorinya adalah laga final ideal yang mempertemukan dua poros kekuatan sepak bola dunia dengan generasi emasnya masing-masing.
"Momen yang paling ditunggu tentu saja Final Idaman antara Prancis melawan Brasil. Dua negara yang dipenuhi seniman lapangan hijau paling berbakat di bumi saat itu," ucap dia.
"Dan akhirnya Prancis keluar sebagai juara setelah mengalahkan Brasil dengan skor telak 3-0 di final, di mana Zidane menahbiskan dirinya sebagai pemain terbaik. Itu atmosfer yang tidak bisa digantikan oleh apa pun sampai hari ini," urainya.
Adapun edisi ke-23 ini mengukir sejarah sebagai Piala Dunia terbesar sepanjang masa dengan keikutsertaan 48 negara peserta yang meningkat dari format 32 tim sejak 1998.
Fase awal bakal dibagi ke dalam 12 grup, masing-masing dihuni oleh 4 tim. Dua tim teratas grup serta 8 tim peringkat ketiga terbaik berhak lolos ke babak gugur baru, yaitu babak 32 besar.
Total laga melonjak dari 64 menjadi 104 pertandingan.
Turnamen ini dikelola bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan upacara pembukaan dan pertandingan pembuka diselenggarakan pada Kamis 11 Juni 2026 di Stadion legendaris Estadio Azteca, Mexico City.
Setelah kompetisi sengit selama 39 hari, pertandingan Final perebutan trofi emas Piala Dunia dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat.
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah turnamen sepak bola dunia.
Ajang yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu akan berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Untuk pertama kalinya, FIFA menggunakan format 48 negara peserta yang terbagi ke dalam 12 grup.
Total akan ada 104 pertandingan yang dimainkan di 16 stadion berbeda di tiga negara tuan rumah.
Perubahan format tersebut membuat Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi turnamen paling meriah sepanjang sejarah sepak bola dunia.
Selain menghadirkan lebih banyak pertandingan, format baru ini juga membuka peluang lebih besar bagi negara-negara dari Asia, Afrika, dan Oseania untuk tampil di panggung dunia.
(*)