Anak Paling Rentan Polusi, IDAI Ajak Kurangi Penggunaan Kendaraan Pribadi demi Kualitas Udara
Willem Jonata June 10, 2026 04:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang memilih naik motor atau mobil bahkan untuk perjalanan yang hanya berjarak beberapa ratus meter.

Kebiasaan ini terasa praktis dan nyaman. Namun tanpa disadari, akumulasi penggunaan kendaraan bermotor ikut berkontribusi terhadap kualitas udara yang semakin memburuk.

Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan anak-anak.

Anggota Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes mengatakan polusi udara menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terdampak.

Baca juga: IDAI Peringatkan Dampak Buruk Polusi Udara, Ancam Kesehatan Bayi Sejak Dalam Kandungan

Saluran pernapasan mereka lebih kecil dan sistem kekebalan tubuhnya belum matang sempurna. Akibatnya, paparan polusi lebih mudah memicu gangguan kesehatan.

Menurut Riyadi, ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu mengurangi polusi.

Salah satunya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.

"Jalan kaki, emisi, dan lain-lain. Program berbagi kendaraan bersama, zona emisi rendah," ujarnya.

Meski terlihat sederhana, langkah kecil tersebut memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas udara.

Anak Berhak Menghirup Udara yang Lebih Bersih

Udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, infeksi, hingga masalah kesehatan jangka panjang.

Karena itu, menjaga kualitas udara bukan hanya urusan pemerintah atau aktivis lingkungan.

Setiap individu memiliki peran yang sama penting. Mulai dari mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, tidak membakar sampah, hingga menanam pohon di lingkungan sekitar.

Riyadi mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Kelompok yang paling terdampak adalah anak-anak dan generasi mendatang.

"Semua populasi, mulai dari kakek, nenek, usia produktif, anak, bayi, bahkan ibu hamil dengan janin yang dikandungnya menjadi risiko mendapatkan paparan yang meningkatkan risiko dia terkena penyakit infeksi," jelasnya.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar tren gaya hidup hijau.

Bagi keluarga, langkah tersebut merupakan investasi kesehatan untuk anak-anak di masa depan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.