Oleh: Zinatul Muna dan Fasha Rahma Saqi
Tidak semua mahasiswa menghabiskan waktu luangnya hanya untuk belajar di kampus atau mengisi waktu luang dengan nongkrong di warung kopi dan cafe. Ada yang memilih mencari pengalaman, ada pula yang mengasah keterampilan sebagai bekal di masa depan.
Sebagian mahasiswa berpikir jauh ke depan, membayangkan fenomena pengangguran setelah wisuda. Apalagi BPS Aceh merilis data bahwa pengangguran di Aceh didominasi dari kalangan sarjana.
Tak ingin menjadi pengangguran setelah menyandang gelar sarjana, Mahfud Alriski (24) atau yang lebih akrab disapa Riki, mempersiapkan diri dengan keterampilan menjahit.
Dia sadar bahwa manusia pasti dan selalu membutuhkan pakaian dalam kehidupan. “Usaha konveksi memiliki prospek yang jelas,” tutur pemuda ganteng dan ramah ini.
Pemuda asal Aceh Selatan ini pun mulai belajar menjahit pada usia 19 tahun, ketika dia sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Riki memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar di tempat usaha milik saudaranya yang berprofesi sebagai penjahit.
Ketertarikan Riki terhadap dunia jahit-menjahit muncul dari kebiasaan melihat aktivitas di tempat usaha tersebut.
Awalnya, ia hanya sekedar membantu pekerjaan dan memperhatikan proses pembuatan pakaian. Namun, semakin sering berada di lingkungan itu, semakin besar pula keinginannya untuk belajar secara langsung.
“Lama-lama saya tertarik untuk belajar cara menjahit pakaian dan memotong kain sesuai pola yang diinginkan. Saya melihat ini sebagai salah satu sumber rezeki,” ujar Riki dalam suasana akrab.
Sedikit demi sedikit, Riki mulai mempelajari berbagai dasar menjahit, mulai dari membuat pola, mengukur pelanggan, memotong kain, hingga mengoperasikan mesin jahit.
Proses belajar tersebut tentu tidak selalu berjalan lancar. Sebagai pemula, ia kerap melakukan kesalahan yang mengharuskannya mengulang pekerjaan dari awal.
Meski demikian, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Baginya, setiap kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
Dengan terus berlatih dan menambah pengalaman, kemampuan menjahitnya pun semakin berkembang dari waktu ke waktu.
Bagi Rizki, kuliah dan keterampilan bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Menurutnya, pendidikan memberikan wawasan dan pengetahuan, sedangkan keterampilan menjadi bekal yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja. Karena itu, ia berusaha menjalani keduanya secara seimbang: kuliah dan cari uang dengan usaha menjahit.
Perjalanan yang dijalani Riki menunjukkan bahwa masa muda dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengembangkan diri. Di tengah aktivitas perkuliahan, ia memilih untuk mempelajari keterampilan baru yang bermanfaat bagi masa depannya.
Dari sebuah tempat usaha menjahit sederhana di Jalan Teungku Chik Di Pineung Banda Aceh, Riki terus belajar, berkembang, dan menata langkah menuju cita-cita yang ingin diraihnya.
Tempatnya usaha tergolong sederhana, namun ruangan full AC, agar pekerja dan pelanggaran merasa nyaman. Dia masih menyewa tempat usahanya. Saat ini dia sedang mengumpulkan uang agar dapat membeli tempat sendiri.
Usaha menjahit milik Riki tergolong maju. Pelanggan umumnya merasa puas atas jasa yang diberikan, baik dari sisi kualitas, harga dan pelayanan tepat waktu penyelesaian.
“Saya dan keluarga menjahit seragam jamaah haji di tempat Riki. Alhamdulillah, kualitas oke, pelayanan prima dan tepat waktu. Recommended-lah” ujar Hasan Basri M. Nur PhD kepada penulis via telepon selular dari Mekkah, Rabu (10/6/2026).
Berkat kegigihannya, kini Riki memiliki usaha sendiri, karyawan dan tentu saja pendapatan yang stabil. Riki bertekat untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar sehingga dapat merekrut tenaga kerja tambahan dari kalangan generasi muda yang paham trend busana terkini. []
Banda Aceh, 10 Juni 2026
Penulis, Mahasiswi Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, email: zeenatulmuna@gmail.com & fasharahmasaqii@gmail.com