Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Tiga pemuda melakukan aksi jahit mulut saat Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Provinsi Lampung, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Presiden Prabowo Sebut Bakal Renovasi 350 hingga 400 RS di Seluruh Indonesia
Ketiga pemuda tersebut yakni Dzaki Oktarian, Bondol dan Akbar Sumantri.
Di tengah teriknya matahari sekitar belasan pemuda dengan pakaian casual melakukan aksi damai di Tugu Adipura.
Peserta aksi membentangkan spanduk-spanduk bertuliskan sindiran kepada pemerintahan.
Seperti "Wujudkan Pendidikan Kritis Ilmiah Dan Demokratis".
"Rakyat Menjerit Nilai Tukar Melejit" hingga "Rakyat Menjerit Waktunya Pajakin Orang Kaya".
Massa aksi membakar ban di tengah teriknya matahari untuk membakar semangat para demonstran.
Ketiga pemuda yang dijahit mulutnya tidak menunjukkan rasa sakit, tapi justru bersemangat dalam orasi.
Koordinator Lapangan (Korlap) Joshua Sitorus menjelaskan bahwa pihaknya melakukan aksi jahit mulut sebagai bentuk simbolis.
"Kita lihat betapa kuatnya militer membungkam suara-suara sipil. Sementara sipil enggak punya senjata, sipil cuman punya suara dan pikiran kritis," kata Joshua.
"Mereka dibungkam dengan laras senjata dan budaya militer yang coba sama-sama masuk ke ruang sipil," terusnya.
Pihaknya menjahit mulut menggambarkan situasi hari ini di Indonesia, situasi realitas Indonesia betapa otoriter rezim Prabowo.
"Enggak terbatas pada simbolis ini saja, tetapi kita harus mengkritisi hari ini rakyat sedang susah, tapi di sisi lain Prabowo sukacita pastikan di ruangan berAC," paparnya.
Sementara di sisi lain ada rakyat yang harus mengamen di jalan, dan ada anak muda yang tidak dapat kepastian pekerjaan.
"Ini situasi riil hari ini semuanya dan kita enggak bisa dibungkam saat melihat situasi rakyat hari ini," kata Joshua.
Termasuk poin kenaikan harga Pertamax hari ini yang menyentuh angka Rp 16.650 per liter.
"Mungkin hari ini memang tahap baru, tapi kita enggak tahu gitu kan ke depannya dengan situasi misalnya melemahnya kurs rupiah terhadap dolar," paparnya.
Hingga ketergantungan minyak impor dan mungkin APBN Indonesia tidak bisa lagi menampung subsidi-subsidi untuk BBM.
"Mungkin bisa saja besok Pertalite juga naik dan harapan kami kalau Prabowo tidak bisa menghadapi ini ya semoga saja terjadi," ucanya.
Adapun tuntutan utama dari aksi yang digelar diantaranya urgensi untuk menerapkan pajak kekayaan.
"Kenapa pajak kekayaan?, karena kita tadi sudah jelasin dalam beberapa orasi, kita lihat bahwa ketimpangan Indonesia ini semakin riil," bebernya.
Ada data yang mengatakan bahwa 10 persen sekelompok orang oligarki, menguasai 70 persen kekayaan nasional.
"Tapi kita tahu bersama prinsip negara itu adalah urgensi untuk menerapkan pajak kekayaan alam ini untuk semuanya bukan hanya segelintir orang saja," kata Joshua.
"Itu urgensi dipajaki orang kaya, kemudian pada tujuan LMND berdiri untuk mendukung pendidikan gratis dan demokratis," lanjutnya.
Kondisi real ada kebutuhan ekonomi, angka partisipasi kasar (APK) orang kaya mendapatkan pendidikan lebih tinggi dibandingkan rakyat miskin.
"Hentikan militerisasi ruang sipil, bagaimana keterlibatan militer semua dengan militer dibungkam. Rakyat marah dengan kondisi rupiah melemah, program presiden harus dievaluasi," ujarnya.
Sementara itu, Dzaki Oktarian, peserta aksi jahit mulut melalui speaker yang lebih dulu direkamnya mengatakan, dirinya hadir sebagai mahasiswa dalam aksi ini karena kecintaan dan kepeduliannya terhadap rakyat negeri ini.
"Kami merasa suara-suara dan kritik-kritik yang disampaikan selama ini tidak benar-benar ditanggapi dan didengarkan. Yang ada justru pembungkaman, kekerasan, tekanan, bahkan berbagai bentuk penindasan," kata Dzaki.
Dirinya merasa negeri ini bukan lagi berjalan sebagaimana semangat demokrasi yang seharusnya.
"Karena itu pada aksi hari ini saya memilih untuk diam, menutup mulut, dan menjahit mulut saya sebagai bentuk simbolik. Saya melakukan ini karena sudah merasa sesak dengan kondisi yang terjadi dan dengan demokrasi yang selama ini selalu digaungkan," ujarnya.
Pihaknya berharap pemerintah menyadari bahwa kritik memang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kami juga masih memiliki harapan bahwa melalui aksi kolektif dan gerakan progresif, perubahan yang diharapkan masyarakat dapat terwujud," kata Dzaki.
"Hidup mahasiswa, hidup rakyat, dan teruslah melawan. Salam pembebasan," tukasnya.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)