Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, KARAWANG – Ratusan warga yang tergabung dalam gabungan Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, pada Rabu (10/6/2026).
Aksi turun ke jalan ini merupakan buntut dari kemarahan warga atas dugaan digelarnya pesta gay di salah satu Tempat Hiburan Malam (THM) di wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, titik kumpul massa bermula di Masjid Aljihad, Kecamatan Karawang Barat. Dari sana, ratusan demonstran bergerak bersama menuju Kantor Bupati Karawang.
Baca juga: Buntut Video Viral Dugaan Pesta Gay di Karawang, Polisi Tetapkan 5 Tersangka
Setibanya di lokasi, massa tidak dapat memasuki area kantor lantaran gerbang utama telah ditutup rapat. Merespons hal tersebut, perwakilan dari masing-masing Ormas Islam secara bergantian melakukan orasi di depan gerbang.
Tuntutan Utama: Tutup Permanen dan Tangkap Pengelola
Dalam orasinya, massa menyuarakan satu tuntutan utama yang tegas: mendesak Bupati Karawang untuk menutup secara permanen—bukan sekadar penutupan sementara—THM Theater Night Mart yang berlokasi di Jalan Tuparev, yang diduga menjadi lokasi perhelatan pesta gay.
Di tengah jalannya aksi, sejumlah perwakilan massa akhirnya dipersilakan masuk untuk melakukan audiensi dengan perwakilan pemerintah daerah dan Ketua DPRD Karawang, Endang Sodikin.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Karawang, Ahmad Ruhyat Hasby, turut hadir dan menyuarakan aspirasi kerasnya. Pria yang akrab disapa Kiai Uyan tersebut mengapresiasi langkah aparat yang telah menangkap lima pelaku pesta gay, namun ia menuntut tindakan yang lebih komprehensif.
"Pemilik dan pengelola THM Theater Night Mart juga harus ditangkap. Jangan cuma pelakunya saja tapi juga pihak yang memfasilitasi pesta tersebut," tegas Kiai Uyan kepada awak media, Rabu (10/6/2026).
Lebih lanjut, Kiai Uyan menjamin bahwa masyarakat dan Ormas Islam akan berada di barisan terdepan untuk mendukung Pemkab Karawang jika ada pihak-pihak yang mencoba menghalangi penutupan THM tersebut.
"Bupati jangan takut menutup permanen tempat itu sudah melanggar norma Islam. Kita bisa jadi korban karena murka Allah," katanya.
Respons Pemerintah Kabupaten Karawang
Menanggapi desakan dari ratusan massa, Asisten Daerah I Setda Karawang, Ridwan Salam, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Karawang menyatakan bahwa pihaknya telah menampung seluruh aspirasi masyarakat dan akan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan utama.
Ridwan menjelaskan, selain merespons tuntutan penutupan, Pemkab Karawang juga tengah menyiapkan langkah-langkah preventif jangka panjang melalui pendekatan edukasi dan pembinaan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kami akan jadikan catatan bahwa itu akan kita proses jangka panjang. Kita sudah menyusun, baik dunia pendidikan termasuk pesantren termasuk di lingkungan keluarga. Kami mencoba membuat materi edukasi agar generasi penerus bangga di Karawang dan tidak tercemar perilaku menyimpang,” kata Ridwan.
Ridwan menegaskan bahwa Pemkab Karawang akan terus terbuka mendengarkan aspirasi warga, termasuk mengkaji usulan pembentukan regulasi daerah yang secara khusus mengatur persoalan tersebut.