TRIBUNGORONTALO.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3 mengguncang wilayah timur laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Rabu (10/6/2026) sore.
Berdasarkan informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 16.14.30 Wita.
Episentrum gempa berada di koordinat 5,26 Lintang Utara dan 125,53 Bujur Timur, atau sekitar 183 kilometer timur laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
BMKG mencatat gempa tersebut terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Kedalaman ini tergolong dangkal, sehingga getarannya berpotensi lebih mudah dirasakan apabila terjadi di dekat permukiman penduduk.
Namun, karena pusat gempa berada cukup jauh di laut, potensi dampak yang ditimbulkan relatif kecil.
Baca juga: Fakta UU Polri Baru! Usia Pensiun Naik, Kapolri Bisa Diperpanjang Sesuai Kebutuhan
Secara geologis, wilayah utara Sulawesi merupakan salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di Indonesia.
Daerah ini berada di zona pertemuan Lempeng Filipina, Pasifik, dan Eurasia yang membentuk sistem subduksi serta sejumlah sesar aktif.
Interaksi lempeng tersebut menyebabkan wilayah Kepulauan Sangihe dan sekitarnya kerap mengalami aktivitas gempa bumi.
Dari sisi dampak, magnitudo 4,3 umumnya tidak menimbulkan kerusakan signifikan, terutama jika pusat gempa berada jauh dari wilayah berpenduduk.
Namun, kedalaman yang dangkal dapat membuat getaran terasa lebih kuat dibanding gempa dengan magnitudo serupa yang terjadi pada kedalaman besar.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Warga juga diminta memahami langkah mitigasi saat gempa terjadi, seperti berlindung di bawah meja yang kokoh, menjauhi kaca atau benda yang mudah jatuh, serta menuju area terbuka setelah guncangan mereda.
Baca juga: Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail Tepati Janji Perbaiki Jalan Mohiyolo-Lakeya, Pengerjaan Dimulai
Informasi gempa yang disampaikan BMKG merupakan hasil pengolahan data awal yang mengutamakan kecepatan, sehingga parameter gempa masih dapat berubah seiring bertambahnya data yang masuk.
Masyarakat diharapkan tetap tenang dan terus memantau informasi resmi BMKG untuk mendapatkan perkembangan terbaru terkait aktivitas kegempaan. (*)